Banyu Capital

IHSG Tembus 6.400 dengan 450 Saham Menguat, tetapi Bank Besar Masih Dijual Asing

IHSG naik 1,51% ke 6.430,15 dengan 450 saham menguat, seluruh sektor berada di zona positif, dan investor asing mencatat net foreign buy Rp164,60 miliar secara All Market. Perbaikan ini jauh lebih luas dibanding perdagangan sebelumnya, tetapi belum memperoleh dukungan yang setara dari LQ45, IDX30, sektor finansial, dan arus asing pada bank besar.

Pada 22 Juli, IHSG ditutup di 6.334,48 setelah mengalami tekanan intraday, breadth negatif, dan net foreign sell yang besar. Pada sesi pertama Kamis, 23 Juli 2026, indeks telah merebut kembali 6.400, bergerak dekat titik tertinggi, dan memperoleh dukungan dari seluruh sektor.

Kualitas rebound membaik secara nyata. Namun, rebound belum terkunci. Saham likuid masih tertinggal dan asing tetap mencatat penjualan bersih pada BBCA, BBRI, serta BMRI.

Dashboard Market Notes Midday 23 Juli 2026 yang menampilkan kenaikan IHSG, breadth pasar, sektor, aktivitas transaksi, dan foreign flow
IHSG naik 1,51% ke 6.430,15 pada sesi pertama 23 Juli 2026. Sebanyak 450 saham menguat dan seluruh sektor positif, tetapi pembelian asing masih selektif serta belum merata pada bank besar. Sumber data: RTI Business dan Stockbit Sekuritas.

IHSG Bertahan di Atas Penutupan Sebelumnya dan Berakhir Dekat Titik Tertinggi

IHSG dibuka di 6.346,62, sempat turun ke 6.338,24, lalu bergerak naik hingga 6.437,20. Pada akhir sesi pertama, indeks berada di 6.430,15 atau hanya sekitar 7,05 poin di bawah titik tertinggi.

Titik terendah sesi juga masih 3,77 poin di atas penutupan 22 Juli sebesar 6.334,48. Tekanan jual sejak pembukaan tidak mampu membawa indeks kembali ke wilayah negatif.

Posisi akhir sesi berada pada sekitar 92,9% dari rentang low-high. Struktur tersebut menunjukkan pembeli mampu mempertahankan sebagian besar kenaikan hingga jeda perdagangan.

IHSG juga telah merebut kembali 6.340, menembus titik tertinggi 22 Juli di 6.394,69, dan bergerak di atas level psikologis 6.400. Dari sisi harga, rebound memperoleh konfirmasi awal yang lebih kuat.

Namun, penembusan intraday belum sama dengan validasi pada akhir perdagangan. Area 6.400 dan 6.394,69 masih perlu dipertahankan pada sesi kedua.

Breadth Meluas, tetapi Saham Likuid Belum Menjadi Pemimpin

Kenaikan IHSG didukung oleh breadth yang jauh lebih sehat. Sebanyak 450 saham menguat, 166 saham melemah, dan 177 saham tidak berubah.

Rasio saham naik terhadap saham turun mencapai sekitar 2,71 kali. Dengan demikian, penguatan sesi pertama tidak bergantung hanya pada beberapa saham berkapitalisasi besar.

Seluruh 11 sektor juga berada di zona positif. Properti memimpin dengan kenaikan 4,46%, disusul energi 4,32%, teknologi 2,83%, barang baku 2,71%, dan perindustrian 2,36%.

Meski seluruh sektor naik, kekuatannya tidak merata. Finansial hanya menguat 0,22%, sedangkan kesehatan naik 0,11%.

Perbedaan kepemimpinan terlihat lebih jelas pada indeks pembanding. IDX Small-Mid Cap Liquid naik 2,36%, Development Board 2,27%, Acceleration Board 2,15%, dan IDX Small-Mid Cap Composite 1,88%.

Sebaliknya, LQ45 hanya naik 0,98% dan IDX30 menguat 0,92%, lebih rendah daripada kenaikan IHSG sebesar 1,51%.

Data tersebut menunjukkan pasar menguat secara luas berdasarkan jumlah saham dan sektor. Namun, kekuatan relatif lebih besar berada pada small-mid cap serta sektor properti, energi, teknologi, dan barang baku. Saham besar dan likuid ikut naik, tetapi belum menjadi pusat kepemimpinan pasar.

Asing Berbalik Net Buy, tetapi Distribusinya Masih Selektif

Investor asing mencatat pembelian Rp2,93 triliun dan penjualan Rp2,76 triliun secara All Market. Selisihnya menghasilkan net foreign buy Rp164,60 miliar.

Perubahan arah tersebut menjadi salah satu konfirmasi positif pada sesi pertama. Namun, saldo bersih hanya setara sekitar 2,9% dari total aktivitas beli dan jual asing yang mencapai kurang lebih Rp5,69 triliun.

Artinya, arah agregat sudah positif, tetapi jarak antara pembelian dan penjualan masih terbatas. Beberapa transaksi besar pada sesi kedua dapat kembali mengubah saldo tersebut.

Estimasi pembelian asing terbesar juga terkonsentrasi pada kelompok saham tertentu.

Top 10 Estimasi Net Foreign Buy

Saham Estimasi nilai
PTRO Rp97,71 miliar
BUMI Rp94,23 miliar
CUAN Rp80,61 miliar
DSSA Rp64,26 miliar
AMMN Rp50,29 miliar
DEWA Rp42,12 miliar
BRMS Rp41,10 miliar
BRPT Rp37,79 miliar
MDKA Rp26,95 miliar
KOTA Rp18,40 miliar

Kelompok pembelian terbesar banyak berasal dari saham pertambangan, energi, barang baku, dan saham dengan volatilitas relatif tinggi.

Di sisi lain, asing masih mencatat penjualan bersih pada sejumlah saham besar dan likuid.

Top 10 Estimasi Net Foreign Sell

Saham Estimasi nilai
TPIA Rp167,65 miliar
BBCA Rp80,66 miliar
BBRI Rp36,13 miliar
ASII Rp31,93 miliar
BREN Rp29,35 miliar
BIPI Rp26,11 miliar
BMRI Rp24,92 miliar
ERAA Rp23,18 miliar
TLKM Rp23,12 miliar
VKTR Rp18,55 miliar

Penjualan pada BBCA, BBRI, dan BMRI terjadi bersamaan dengan kenaikan sektor finansial yang hanya 0,22%. Data tersebut tidak membuktikan bahwa penjualan asing menjadi satu-satunya penyebab ketertinggalan finansial, tetapi menunjukkan bank besar belum menjadi sumber utama konfirmasi rebound.

TLKM juga masih masuk daftar penjualan asing. Karena itu, perubahan menjadi net foreign buy secara All Market belum dapat dibaca sebagai kembalinya akumulasi asing yang luas pada saham berkapitalisasi besar.

Pembacaan yang lebih tepat adalah asing melakukan rotasi selektif. Pembelian lebih kuat pada sejumlah saham komoditas dan high-beta, sementara beberapa saham besar tetap dijual.

Nilai per saham merupakan estimasi Stockbit berdasarkan harga rata-rata sesi pertama dan volume bersih. Angka tersebut bukan statistik resmi nilai transaksi asing per saham.

Nilai dan Volume Naik, tetapi Pembelian Belum Menyebar Merata

Nilai transaksi All Market mencapai Rp11,90 triliun dengan volume 34,81 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,76 juta kali.

Dibanding sesi pertama 22 Juli, nilai transaksi meningkat sekitar 5,9% dan volume bertambah sekitar 20,3%. Frekuensi transaksi turun tipis sekitar 3%.

Peningkatan nilai dan volume menunjukkan rebound berlangsung ketika aktivitas pasar meningkat, bukan menyusut. Perpindahan dana dan jumlah saham yang diperdagangkan bertambah bersamaan dengan penguatan harga.

Namun, volume tumbuh jauh lebih cepat daripada nilai transaksi, sedangkan frekuensi tidak ikut meningkat. Pola tersebut menunjukkan rata-rata nilai transaksi per saham yang berpindah tangan lebih rendah dibanding sesi sebelumnya.

Data ini tidak dapat digunakan untuk memastikan identitas investor atau kualitas fundamental pembelian. Data tersebut juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pembelian telah menyebar merata ke seluruh kelompok saham.

Kepemimpinan small-mid cap, ketertinggalan indeks likuid, dan distribusi foreign flow yang selektif tetap menjadi konteks penting dalam membaca peningkatan aktivitas tersebut.

Sesi Kedua Perlu Membuktikan Keberlanjutan 6.400 dan Arus Asing

Sebagian pemulihan jangka pendek telah tercermin dalam kenaikan IHSG sebesar 1,51%, posisi indeks yang dekat dengan titik tertinggi, serta penguatan seluruh sektor. Agar rebound memperoleh konfirmasi lanjutan, pasar tidak cukup hanya bertahan positif.

Indikator konfirmasi:

Indikator peringatan:

Indikator invalidasi:

Kehilangan 6.400 saja belum membatalkan seluruh tesis perbaikan pasar. Namun, jika indeks kembali di bawah 6.394,69, foreign flow berbalik negatif, dan breadth menyempit, kenaikan sesi pertama lebih tepat dibaca sebagai rebound selektif yang gagal memperoleh konfirmasi lanjutan.

Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes