IHSG Naik 1,56% dengan 448 Saham Menguat, Asing Net Sell Rp468 Miliar di Pasar Reguler
IHSG melanjutkan pemulihan hingga akhir perdagangan 23 September. Indeks ditutup naik 1,56%, sebanyak 448 saham menguat, dan seluruh sektor berakhir positif setelah IHSG sempat turun ke 6.253,74 pada awal sesi.
Namun arus dana asing belum ikut berbalik. Investor asing masih mencatat net sell Rp468,26 miliar di Regular Market, sementara kenaikan IDX30 dan LQ45 tetap lebih rendah daripada IHSG.
Rebound Bertahan hingga Penutupan
IHSG berakhir di 6.374,91, naik 97,87 poin atau 1,56%. Indeks sempat turun ke 6.253,74 sebelum berbalik naik hingga 6.380,17.
Dari titik terendah, IHSG pulih sekitar 121 poin dan hanya berakhir sekitar 5 poin di bawah titik tertinggi harian.
Perbaikan juga berlanjut setelah Sesi I. Pada Midday, IHSG baru naik 0,64% ke 6.317,46. Kenaikan bertambah hingga 1,56% saat penutupan.
Breadth bergerak searah. Jumlah saham naik meningkat dari 400 pada Midday menjadi 448 pada EOD, sedangkan saham turun berkurang dari 211 menjadi 186. Sebanyak 159 saham tidak berubah.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan tidak kehilangan tenaga pada Sesi II. Partisipasi saham justru semakin luas ketika indeks bergerak mendekati titik tertinggi harian.
Seluruh Sektor Menguat, tetapi Indeks Likuid Masih Tertinggal
Semua 11 indeks sektoral ditutup positif.
Basic Materials menjadi sektor terkuat dengan kenaikan 3,47%, disusul Energy 2,59%, Consumer Cyclicals 2,49%, Industrials 2,21%, serta Property & Real Estate 1,99%.
Infrastructure naik 1,26%, Transportation & Logistic 1,02%, Consumer Non-Cyclicals 0,62%, Financials 0,56%, Technology 0,55%, sementara Healthcare praktis datar dengan kenaikan 0,01%.
Breadth sektoral tersebut memperkuat sinyal bahwa rebound tidak hanya ditopang satu kelompok saham.
Namun, saham paling likuid belum menjadi pemimpin kenaikan. LQ45 bertambah 1,21% dan IDX30 naik 1,03%, keduanya tertinggal dari IHSG yang naik 1,56%. IDX SMC Composite bergerak lebih dekat dengan IHSG, yakni +1,50%.
Ketertinggalan IDX30 dan LQ45 mengecil dibanding Midday, ketika keduanya hanya naik masing-masing 0,39% dan 0,51%. Jadi, saham likuid ikut membaik sepanjang Sesi II, tetapi kepemimpinannya belum menyamai pasar secara keseluruhan.
Dari sisi kontribusi indeks, BBCA menyumbang sekitar 8,81 poin kenaikan IHSG, diikuti DSSA 7,71 poin, BYAN 7,33 poin, AMMN 6,73 poin, dan MDKA 6,71 poin.
Harga Pulih saat Asing Tetap Menjual
Divergensi terbesar masih terlihat pada foreign flow.
| Pasar | Foreign Buy | Foreign Sell | Net Foreign |
|---|---|---|---|
| All Market | Rp4,31 triliun | Rp4,77 triliun | -Rp461,35 miliar |
| Regular Market | Rp3,79 triliun | Rp4,26 triliun | -Rp468,26 miliar |
Pada Midday, All Market masih mencatat net sell sekitar Rp335,80 miliar. Nilainya meningkat menjadi Rp461,35 miliar pada penutupan, sementara kenaikan IHSG justru bertambah dari 0,64% menjadi 1,56%.
Dengan demikian, penjualan asing tidak mencegah pasar melanjutkan rebound pada Sesi II. Namun data tersebut belum menunjukkan pembalikan arah foreign flow.
Tekanan jual terbesar masih muncul pada sejumlah saham besar. BBRI mencatat net sell asing Rp187,64 miliar, BMRI Rp128,73 miliar, TLKM Rp124,67 miliar, ISAT Rp66,49 miliar, dan ADRO Rp45,77 miliar.
BBNI juga mencatat net sell Rp35,30 miliar dan BBCA sekitar Rp16,5 miliar.
Di sisi lain, pembelian asing terlihat lebih selektif dan cukup banyak muncul pada saham logam, pertambangan, serta komoditas.
Top 10 Net Foreign Buy Regular Market
| No. | Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|---|
| 1 | MDKA | Rp106,73 miliar |
| 2 | TINS | Rp53,70 miliar |
| 3 | SINI | Rp42,25 miliar |
| 4 | DSSA | Rp30,02 miliar |
| 5 | TPIA | Rp26,26 miliar |
| 6 | INCO | Rp23,45 miliar |
| 7 | INDY | Rp23,05 miliar |
| 8 | TAPG | Rp19,17 miliar |
| 9 | VKTR | Rp17,90 miliar |
| 10 | AMMN | Rp17,55 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell Regular Market
| No. | Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|---|
| 1 | BBRI | Rp187,64 miliar |
| 2 | BMRI | Rp128,73 miliar |
| 3 | TLKM | Rp124,67 miliar |
| 4 | ISAT | Rp66,49 miliar |
| 5 | ADRO | Rp45,77 miliar |
| 6 | BBNI | Rp35,30 miliar |
| 7 | CUAN | Rp31,01 miliar |
| 8 | CPIN | Rp28,87 miliar |
| 9 | MEDC | Rp28,27 miliar |
| 10 | AADI | Rp19,24 miliar |
Rupiah Menguat, Arus Asing di Saham Tetap Negatif
JISDOR turun dari Rp17.883 per dolar AS pada 22 September menjadi Rp17.803 pada 23 September. Dalam pasangan USD/IDR, perubahan tersebut menunjukkan penguatan rupiah sekitar Rp80 terhadap dolar AS.
SUN 10 tahun berada di sekitar 7,008%.
Pada hari yang sama, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%.
Meski rupiah membaik, arus asing di pasar saham tetap negatif. Karena itu, data satu sesi belum menunjukkan perubahan arah aliran modal asing secara luas.
Keputusan BI juga lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari konteks pasar hari itu, bukan sebagai penyebab tunggal kenaikan IHSG.
Konfirmasi Berikutnya Bukan Sekadar IHSG Naik Lagi
Rebound 23 September sudah didukung oleh breadth yang positif, seluruh sektor yang menguat, serta penutupan IHSG dekat titik tertinggi harian. Yang belum ikut berbalik adalah foreign flow, sementara IDX30 dan LQ45 masih tertinggal dari IHSG.
Konfirmasi berikutnya akan lebih kuat jika breadth tetap sehat, indeks likuid mulai mengejar, dan tekanan net sell asing berkurang.
Sebaliknya, jika IHSG kembali kehilangan area low 23 September di sekitar 6.253,74 bersamaan dengan breadth yang memburuk dan tekanan asing yang tetap besar, pemulihan satu sesi belum cukup untuk mengubah pembacaan pasar.
Jadi, indikator penting pada sesi berikutnya bukan hanya arah IHSG, tetapi apakah kenaikan mulai memperoleh follow-through dari partisipasi saham, indeks likuid, dan aliran dana.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.