Banyu Capital

IHSG Turun 1,20%, Asing Net Sell Rp1,42 Triliun saat Rebound 23 September Kehilangan Follow-Through

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Sebanyak 462 saham melemah dan seluruh 11 sektor ditutup negatif. LQ45 dan IDX30 juga turun lebih dalam daripada IHSG, tetapi titik terendah 23 September di sekitar 6.253,74 masih bertahan.

Dashboard Market Notes EOD BEI 24 September 2026 yang menampilkan IHSG turun 1,20%, breadth negatif, dan foreign net sell Rp1,42 triliun di pasar reguler
Dashboard EOD 24 September 2026 merangkum pelemahan IHSG, breadth pasar, indeks saham likuid, foreign flow, tekanan saham berkapitalisasi besar, serta level yang perlu dipantau pada sesi berikutnya. Sumber: Bursa Efek Indonesia, RTI Business, Stockbit, dan Bank Indonesia.

IHSG menutup perdagangan 24 September 2026 di 6.298,61, turun 76,31 poin atau 1,20%. Tekanan tidak hanya terlihat pada indeks utama. Mayoritas saham turun, seluruh sektor negatif, kelompok saham likuid tertinggal, dan investor asing mencatat net sell sekitar Rp1,42 triliun di pasar reguler.

Rebound 23 September dengan demikian belum mendapat follow-through. Namun IHSG juga belum menembus titik terendah sehari sebelumnya. Untuk saat ini, data lebih mendukung pembacaan bahwa rebound gagal memperoleh konfirmasi daripada kesimpulan bahwa penurunan baru sudah dimulai.

IHSG Ditutup Dekat Titik Terendah, tetapi 6.253,74 Belum Ditembus

IHSG dibuka di 6.364,98 dan sempat mencapai 6.368,57, masih di bawah penutupan 23 September di 6.374,91. Indeks kemudian turun hingga 6.287,46 sebelum ditutup di 6.298,61, hanya sekitar 11 poin di atas titik terendah hariannya.

Tekanan sudah muncul sejak awal perdagangan. Pemulihan intraday yang terjadi kemudian tidak cukup membawa IHSG kembali mendekati penutupan sehari sebelumnya.

Namun titik terendah 23 September di sekitar 6.253,74 belum disentuh kembali. Rebound memang kehilangan kelanjutan, tetapi level yang akan memberi bukti lebih kuat tentang penurunan lanjutan masih bertahan.

Breadth Tetap Lemah dan Saham Likuid Turun Lebih Dalam

Sebanyak 188 saham menguat, 462 melemah, dan 144 tidak berubah. Seluruh 11 indeks sektoral berakhir negatif.

Basic Materials menjadi sektor terlemah dengan penurunan 2,17%, disusul Industrials 2,09% dan Property & Real Estate 1,66%. Financials melemah 1,32%, sedangkan Consumer Non-Cyclicals turun paling ringan sebesar 0,36%.

Tekanan lebih berat terlihat pada kelompok saham likuid. LQ45 turun 1,57% dan IDX30 melemah 1,53%, dibanding penurunan IHSG sebesar 1,20%. IDX SMC Composite turun lebih kecil, sebesar 1,14%.

Pola ini melanjutkan satu kelemahan dari rebound 23 September: saham likuid belum menjadi pemimpin yang meyakinkan.

BMRI menjadi penekan IHSG terbesar dengan kontribusi sekitar 9,79 poin, disusul BBRI 7,29 poin, BBCA 6,61 poin, dan BBNI 2,31 poin. Empat bank besar tersebut secara gabungan menyumbang sekitar 26 poin atau 34% dari penurunan IHSG hari itu.

Tekanan Asing Tidak Mereda pada Sesi II

Investor asing mencatat net sell sekitar Rp1,49 triliun di All Market dan Rp1,42 triliun di pasar reguler. Transaksi tunai dan negosiasi mencatat net sell sekitar Rp71,85 miliar.

Tekanan asing juga bertambah setelah jeda siang. Pada akhir sesi I, net foreign sell All Market masih sekitar Rp987,09 miliar. Sampai penutupan, nilainya bertambah sekitar Rp506 miliar menjadi Rp1,49 triliun.

BMRI mencatat estimasi net foreign sell terbesar di pasar reguler sebesar Rp531,94 miliar. Berikutnya adalah BBRI Rp141,17 miliar dan TLKM Rp84,61 miliar.

Top 10 Net Foreign Buy Pasar Reguler

Saham Net Foreign Buy
ASII Rp24,42 miliar
MEDC Rp20,44 miliar
COIN Rp20,12 miliar
ASLI Rp17,10 miliar
TINS Rp10,36 miliar
BBCA Rp6,92 miliar
INDF Rp6,39 miliar
CMNT Rp6,31 miliar
INET Rp6,06 miliar
ERAA Rp4,72 miliar

Top 10 Net Foreign Sell Pasar Reguler

Saham Net Foreign Sell
BMRI Rp531,94 miliar
BBRI Rp141,17 miliar
TLKM Rp84,61 miliar
BUMI Rp74,90 miliar
ANTM Rp51,65 miliar
DEWA Rp39,70 miliar
TPIA Rp32,60 miliar
AMMN Rp32,03 miliar
PACK Rp31,90 miliar
CUAN Rp26,55 miliar

Tekanan asing berjalan searah dengan pelemahan beberapa saham likuid, terutama BMRI dan BBRI. Namun hubungan antara arus asing dan harga tidak berlaku seragam.

BBCA, misalnya, menyumbang sekitar 6,61 poin tekanan pada IHSG meskipun investor asing mencatat net buy sekitar Rp6,92 miliar di pasar reguler. Foreign flow karena itu menjadi salah satu lapisan penting untuk membaca tekanan pasar, tetapi bukan penjelasan tunggal.

Rupiah Ikut Melemah

JISDOR berada di Rp17.898 per dolar AS pada 24 September, dibanding Rp17.803 sehari sebelumnya. Perubahan Rp95 pada USD/IDR setara dengan pelemahan rupiah sekitar 0,53%.

Pelemahan rupiah dan net sell asing yang besar terjadi pada sesi yang sama. Dua data tersebut menambah risiko yang perlu dipantau, tetapi satu hari perdagangan belum cukup untuk memastikan terbentuknya tekanan arus modal yang lebih struktural.

6.253,74 Menjadi Level Pembuktian Berikutnya

Area sekitar 6.253,74 menjadi level yang perlu diamati pada sesi berikutnya. Penembusan area tersebut ketika breadth tetap lemah dan foreign sell kembali besar akan memberi bukti lebih kuat bahwa tekanan berkembang melampaui koreksi setelah rebound.

Di sisi lain, IHSG perlu merebut kembali area 6.374,91 untuk memperbaiki pembacaan jangka sangat pendek. Konfirmasinya akan lebih kuat jika LQ45 dan IDX30 ikut membaik, jumlah saham menguat bertambah, dan tekanan jual asing mengecil.

Arah IHSG saja belum cukup. Bukti yang lebih kuat akan muncul ketika harga, partisipasi pasar, saham likuid, dan arus asing mulai memberikan sinyal yang konsisten.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes