Banyu Capital

IHSG Turun 1,48% ke 6.405, 599 Saham dan 11 Sektor Melemah, Asing Net Sell Rp201 Miliar di Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Stabilisasi yang terlihat pada Sesi I gagal bertahan hingga penutupan. Tekanan kembali membesar pada Sesi II dan membawa IHSG turun ke 6.405,685, melemah 95,982 poin atau 1,48%, sekaligus ditutup tepat di titik terendah harian.

Pelemahan tidak terbatas pada beberapa saham berkapitalisasi besar. Sebanyak 599 saham turun dan seluruh 11 sektor berakhir negatif. Asing memang mencatat net buy Rp1,37 triliun secara All Market, tetapi pasar reguler masih membukukan net sell Rp201,10 miliar karena pembelian bersih agregat terutama ditopang transaksi tunai dan negosiasi.

Dashboard rekap EOD BEI 26 Agustus 2026 yang menampilkan IHSG, breadth pasar, sektor, dan foreign flow
IHSG ditutup di 6.405,685 atau turun 1,48% pada 26 Agustus 2026. Tekanan meluas dengan 599 saham dan seluruh 11 sektor melemah, sementara pasar reguler masih mencatat net sell asing. Sumber: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia.

Pemulihan Sesi I Terhapus pada Sesi II

Pada akhir Sesi I, IHSG masih berada di 6.496,891 atau hanya turun 0,07%. Indeks sebelumnya mampu pulih sekitar 74 poin dari titik terendah Sesi I di 6.422,610.

Kondisi berubah setelah jeda perdagangan. Dari posisi Midday hingga penutupan, IHSG kehilangan 91,206 poin atau sekitar 1,40%. Penutupan 6.405,685 bahkan berada 16,925 poin di bawah titik terendah Sesi I.

Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG sempat mencapai 6.532,171 pada perdagangan pagi. Indeks akhirnya kehilangan sekitar 126,5 poin dari titik tertinggi hingga penutupan.

Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp18,064 triliun, dengan volume 40,161 miliar saham dan frekuensi 2,489 juta kali.

Penutupan tepat di titik terendah membuat kondisi EOD berbeda dari Midday. Pemulihan intraday sepenuhnya terhapus menjelang akhir perdagangan.

Pelemahan Menjalar hingga Saham Small-Mid Cap

Breadth BEI menunjukkan 599 saham melemah, hanya 136 saham menguat, dan 228 tidak berubah. Jumlah saham yang turun sekitar 4,4 kali jumlah saham yang naik.

Sebanyak 353 saham turun lebih dari 2%, sedangkan 246 saham melemah hingga 2%. Hanya 136 saham yang berakhir positif.

Seluruh 11 sektor juga ditutup di zona merah. Transportation & Logistic menjadi sektor terlemah dengan penurunan 4,15%, disusul Properties & Real Estate 2,71%, Energy 2,61%, Consumer Cyclicals 2,42%, dan Industrials 2,36%.

Pelemahan tidak berhenti pada kelompok saham besar. LQ45 turun 1,46% dan IDX30 melemah 1,28%. Sementara itu, IDX SMC Composite turun lebih dalam sebesar 2,15% dan IDX SMC Liquid melemah 2,02%.

Saham berkapitalisasi besar tetap memberi tekanan signifikan terhadap indeks. BBRI mengurangi IHSG sekitar 7,30 poin, BRPT 6,38 poin, AMMN 4,63 poin, dan BBCA 4,41 poin.

Secara agregat, sepuluh saham pemberat terbesar mengurangi sekitar 43,46 poin IHSG. Sepuluh saham penopang terbesar hanya menambah sekitar 12,37 poin. EMAS dan BYAN menjadi dua penopang utama dengan kontribusi masing-masing sekitar 3,72 dan 3,67 poin.

Saham berbobot besar menekan indeks, sementara breadth, sektor, dan indeks small-mid cap menunjukkan bahwa pelemahan juga menyebar ke pasar yang lebih luas.

Net Buy All Market Ditopang Transaksi di Luar Pasar Reguler

Angka foreign flow memberi gambaran berbeda tergantung pasar yang dilihat.

Komponen Nilai
Foreign Buy All Market Rp6,06 triliun
Foreign Sell All Market Rp4,69 triliun
Net Buy All Market Rp1,37 triliun
Net Sell Regular Market Rp201,10 miliar
Net Buy Tunai & Negosiasi Rp1,58 triliun

BEI mencatat pembelian bersih asing sekitar Rp1,374 triliun secara agregat. Pada saat yang sama, data Stockbit dan RTI menunjukkan pasar reguler masih mencatat net sell sekitar Rp201,10 miliar.

Selisih tersebut ditopang transaksi tunai dan negosiasi yang membukukan net buy sekitar Rp1,58 triliun. Karena itu, angka All Market yang positif belum menunjukkan pembelian asing yang luas dalam perdagangan reguler yang membentuk harga harian.

Estimasi Stockbit Sekuritas juga memperlihatkan aliran asing per saham yang tetap selektif.

Top 10 Net Foreign Buy

No. Saham Net Foreign Buy
1 BMRI Rp255,24 miliar
2 DSSA Rp102,68 miliar
3 BBCA Rp80,82 miliar
4 MDKA Rp66,14 miliar
5 ICBP Rp30,20 miliar
6 PSAB Rp24,74 miliar
7 INET Rp23,94 miliar
8 BRMS Rp23,55 miliar
9 ADRO Rp17,90 miliar
10 ASII Rp15,80 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

No. Saham Net Foreign Sell
1 TPIA Rp200,43 miliar
2 ISAT Rp58,54 miliar
3 AMMN Rp52,05 miliar
4 BBNI Rp33,68 miliar
5 ITMG Rp31,13 miliar
6 BBRI Rp30,71 miliar
7 AADI Rp29,01 miliar
8 ENRG Rp26,70 miliar
9 JPFA Rp22,91 miliar
10 PANI Rp22,79 miliar

BMRI dan BBCA menunjukkan mengapa foreign flow perlu dibaca bersama pergerakan harga. Keduanya masuk daftar pembelian bersih asing, tetapi BMRI tetap turun 0,95% dan BBCA melemah 0,78%. Keduanya juga menjadi pemberat IHSG.

Pembelian asing pada saham tertentu belum cukup untuk mengimbangi tekanan jual di pasar secara keseluruhan.

IHSG Tertinggal Saat Mayoritas Bursa Asia Menguat

Pada snapshot BEI pukul 16.00 WIB, sebagian besar bursa utama Asia bergerak positif. Nikkei naik 0,62%, KOSPI 0,97%, Taiwan 1,47%, Hang Seng 0,56%, Shanghai 0,59%, Malaysia 0,70%, Thailand 0,37%, dan Vietnam 1,17%.

JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.717 per dolar AS, dibanding Rp17.703 pada 24 Agustus. Rupiah melemah sekitar 0,08% pada basis JISDOR. Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,078% pada snapshot malam.

IHSG tertinggal dibanding mayoritas pasar regional pada hari yang sama. Data tersebut belum cukup untuk menetapkan satu faktor domestik atau global sebagai penyebab utama koreksi 26 Agustus.

Pemulihan Perlu Dikonfirmasi Breadth dan Flow Reguler

Penutupan 26 Agustus menunjukkan tekanan yang jauh lebih luas dibanding kondisi Midday. Satu hari perdagangan tetap belum cukup untuk membuktikan terbentuknya tren turun baru.

Area 6.422 menjadi area pembuktian pertama jika IHSG mencoba pulih. Pergerakan kembali di atas level tersebut baru mendapat konfirmasi lebih kuat jika breadth membaik, lebih banyak sektor kembali positif, serta IDX30 dan LQ45 mulai stabil.

Jika area 6.422 dapat direbut kembali, zona 6.474 hingga 6.500 menjadi area pembuktian berikutnya karena berada dalam struktur perdagangan sebelum tekanan Sesi II membesar.

Aliran dana asing juga perlu diuji melalui pasar reguler. Berkurangnya net sell atau perubahan menjadi net buy bersama breadth yang membaik akan melemahkan pembacaan tekanan dari penutupan 26 Agustus.

Sebaliknya, tekanan mendapat konfirmasi lanjutan jika IHSG gagal memulihkan area yang hilang sementara saham melemah tetap dominan, mayoritas sektor tetap negatif, dan asing terus mencatat net sell pada pasar reguler.

Pemulihan baru mendapat konfirmasi yang lebih kuat jika harga, breadth, sektor, indeks likuid, dan foreign flow reguler membaik secara bersamaan.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes