IHSG Turun 1,48% ke 6.405, 599 Saham dan 11 Sektor Melemah, Asing Net Sell Rp201 Miliar di Reguler
Stabilisasi yang terlihat pada Sesi I gagal bertahan hingga penutupan. Tekanan kembali membesar pada Sesi II dan membawa IHSG turun ke 6.405,685, melemah 95,982 poin atau 1,48%, sekaligus ditutup tepat di titik terendah harian.
Pelemahan tidak terbatas pada beberapa saham berkapitalisasi besar. Sebanyak 599 saham turun dan seluruh 11 sektor berakhir negatif. Asing memang mencatat net buy Rp1,37 triliun secara All Market, tetapi pasar reguler masih membukukan net sell Rp201,10 miliar karena pembelian bersih agregat terutama ditopang transaksi tunai dan negosiasi.
Pemulihan Sesi I Terhapus pada Sesi II
Pada akhir Sesi I, IHSG masih berada di 6.496,891 atau hanya turun 0,07%. Indeks sebelumnya mampu pulih sekitar 74 poin dari titik terendah Sesi I di 6.422,610.
Kondisi berubah setelah jeda perdagangan. Dari posisi Midday hingga penutupan, IHSG kehilangan 91,206 poin atau sekitar 1,40%. Penutupan 6.405,685 bahkan berada 16,925 poin di bawah titik terendah Sesi I.
Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG sempat mencapai 6.532,171 pada perdagangan pagi. Indeks akhirnya kehilangan sekitar 126,5 poin dari titik tertinggi hingga penutupan.
Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp18,064 triliun, dengan volume 40,161 miliar saham dan frekuensi 2,489 juta kali.
Penutupan tepat di titik terendah membuat kondisi EOD berbeda dari Midday. Pemulihan intraday sepenuhnya terhapus menjelang akhir perdagangan.
Pelemahan Menjalar hingga Saham Small-Mid Cap
Breadth BEI menunjukkan 599 saham melemah, hanya 136 saham menguat, dan 228 tidak berubah. Jumlah saham yang turun sekitar 4,4 kali jumlah saham yang naik.
Sebanyak 353 saham turun lebih dari 2%, sedangkan 246 saham melemah hingga 2%. Hanya 136 saham yang berakhir positif.
Seluruh 11 sektor juga ditutup di zona merah. Transportation & Logistic menjadi sektor terlemah dengan penurunan 4,15%, disusul Properties & Real Estate 2,71%, Energy 2,61%, Consumer Cyclicals 2,42%, dan Industrials 2,36%.
Pelemahan tidak berhenti pada kelompok saham besar. LQ45 turun 1,46% dan IDX30 melemah 1,28%. Sementara itu, IDX SMC Composite turun lebih dalam sebesar 2,15% dan IDX SMC Liquid melemah 2,02%.
Saham berkapitalisasi besar tetap memberi tekanan signifikan terhadap indeks. BBRI mengurangi IHSG sekitar 7,30 poin, BRPT 6,38 poin, AMMN 4,63 poin, dan BBCA 4,41 poin.
Secara agregat, sepuluh saham pemberat terbesar mengurangi sekitar 43,46 poin IHSG. Sepuluh saham penopang terbesar hanya menambah sekitar 12,37 poin. EMAS dan BYAN menjadi dua penopang utama dengan kontribusi masing-masing sekitar 3,72 dan 3,67 poin.
Saham berbobot besar menekan indeks, sementara breadth, sektor, dan indeks small-mid cap menunjukkan bahwa pelemahan juga menyebar ke pasar yang lebih luas.
Net Buy All Market Ditopang Transaksi di Luar Pasar Reguler
Angka foreign flow memberi gambaran berbeda tergantung pasar yang dilihat.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Foreign Buy All Market | Rp6,06 triliun |
| Foreign Sell All Market | Rp4,69 triliun |
| Net Buy All Market | Rp1,37 triliun |
| Net Sell Regular Market | Rp201,10 miliar |
| Net Buy Tunai & Negosiasi | Rp1,58 triliun |
BEI mencatat pembelian bersih asing sekitar Rp1,374 triliun secara agregat. Pada saat yang sama, data Stockbit dan RTI menunjukkan pasar reguler masih mencatat net sell sekitar Rp201,10 miliar.
Selisih tersebut ditopang transaksi tunai dan negosiasi yang membukukan net buy sekitar Rp1,58 triliun. Karena itu, angka All Market yang positif belum menunjukkan pembelian asing yang luas dalam perdagangan reguler yang membentuk harga harian.
Estimasi Stockbit Sekuritas juga memperlihatkan aliran asing per saham yang tetap selektif.
Top 10 Net Foreign Buy
| No. | Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|---|
| 1 | BMRI | Rp255,24 miliar |
| 2 | DSSA | Rp102,68 miliar |
| 3 | BBCA | Rp80,82 miliar |
| 4 | MDKA | Rp66,14 miliar |
| 5 | ICBP | Rp30,20 miliar |
| 6 | PSAB | Rp24,74 miliar |
| 7 | INET | Rp23,94 miliar |
| 8 | BRMS | Rp23,55 miliar |
| 9 | ADRO | Rp17,90 miliar |
| 10 | ASII | Rp15,80 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell
| No. | Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|---|
| 1 | TPIA | Rp200,43 miliar |
| 2 | ISAT | Rp58,54 miliar |
| 3 | AMMN | Rp52,05 miliar |
| 4 | BBNI | Rp33,68 miliar |
| 5 | ITMG | Rp31,13 miliar |
| 6 | BBRI | Rp30,71 miliar |
| 7 | AADI | Rp29,01 miliar |
| 8 | ENRG | Rp26,70 miliar |
| 9 | JPFA | Rp22,91 miliar |
| 10 | PANI | Rp22,79 miliar |
BMRI dan BBCA menunjukkan mengapa foreign flow perlu dibaca bersama pergerakan harga. Keduanya masuk daftar pembelian bersih asing, tetapi BMRI tetap turun 0,95% dan BBCA melemah 0,78%. Keduanya juga menjadi pemberat IHSG.
Pembelian asing pada saham tertentu belum cukup untuk mengimbangi tekanan jual di pasar secara keseluruhan.
IHSG Tertinggal Saat Mayoritas Bursa Asia Menguat
Pada snapshot BEI pukul 16.00 WIB, sebagian besar bursa utama Asia bergerak positif. Nikkei naik 0,62%, KOSPI 0,97%, Taiwan 1,47%, Hang Seng 0,56%, Shanghai 0,59%, Malaysia 0,70%, Thailand 0,37%, dan Vietnam 1,17%.
JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.717 per dolar AS, dibanding Rp17.703 pada 24 Agustus. Rupiah melemah sekitar 0,08% pada basis JISDOR. Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,078% pada snapshot malam.
IHSG tertinggal dibanding mayoritas pasar regional pada hari yang sama. Data tersebut belum cukup untuk menetapkan satu faktor domestik atau global sebagai penyebab utama koreksi 26 Agustus.
Pemulihan Perlu Dikonfirmasi Breadth dan Flow Reguler
Penutupan 26 Agustus menunjukkan tekanan yang jauh lebih luas dibanding kondisi Midday. Satu hari perdagangan tetap belum cukup untuk membuktikan terbentuknya tren turun baru.
Area 6.422 menjadi area pembuktian pertama jika IHSG mencoba pulih. Pergerakan kembali di atas level tersebut baru mendapat konfirmasi lebih kuat jika breadth membaik, lebih banyak sektor kembali positif, serta IDX30 dan LQ45 mulai stabil.
Jika area 6.422 dapat direbut kembali, zona 6.474 hingga 6.500 menjadi area pembuktian berikutnya karena berada dalam struktur perdagangan sebelum tekanan Sesi II membesar.
Aliran dana asing juga perlu diuji melalui pasar reguler. Berkurangnya net sell atau perubahan menjadi net buy bersama breadth yang membaik akan melemahkan pembacaan tekanan dari penutupan 26 Agustus.
Sebaliknya, tekanan mendapat konfirmasi lanjutan jika IHSG gagal memulihkan area yang hilang sementara saham melemah tetap dominan, mayoritas sektor tetap negatif, dan asing terus mencatat net sell pada pasar reguler.
Pemulihan baru mendapat konfirmasi yang lebih kuat jika harga, breadth, sektor, indeks likuid, dan foreign flow reguler membaik secara bersamaan.
Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.