Banyu Capital

IHSG Kehilangan 52,57 Poin dari Midday dan Tutup di Level Terendah, Asing Catat Net Sell Rp1,07 Triliun

Ahmad Mujib Ahmad Mujib
Dashboard EOD IHSG 28 Juli 2026 yang menampilkan penutupan di level terendah, pelemahan 10 sektor, net sell asing Rp1,07 triliun, dan transaksi di bawah rata-rata YTD
Dashboard EOD BEI 28 Juli 2026. IHSG ditutup di 6.130,59, turun 0,89%, dengan 10 sektor melemah dan net foreign sell Rp1,07 triliun. Sumber: Bursa Efek Indonesia, Stockbit Sekuritas, RTI Business, dan Bank Indonesia.

Struktur yang sempat membaik pada sesi pertama berbalik saat penutupan. Indeks saham likuid masuk zona negatif, sepuluh sektor melemah, dan asing mencatat net sell Rp1,07 triliun. Namun, aktivitas yang masih jauh di bawah rata-rata YTD belum menunjukkan kapitulasi.

IHSG ditutup turun 55,20 poin atau 0,89% ke 6.130,59 pada Selasa, 28 Juli 2026. Posisi tersebut merupakan level terendah harian sekaligus 52,57 poin lebih rendah dibandingkan posisi Midday di 6.183,16.

Pembalikan tidak berhenti pada indeks utama. LQ45, IDX30, IDX80, serta indeks small-mid cap berbalik negatif. Jumlah saham turun melampaui saham naik, sedangkan sektor positif menyusut dari empat menjadi satu.

Nilai transaksi saham yang hanya Rp10,91 triliun menjadi pembatas utama pembacaan tekanan. Angka tersebut masih 51,8% di bawah rata-rata harian YTD sebesar Rp22,61 triliun.

IHSG Kehilangan 52,57 Poin dari Midday dan Berakhir Tepat di Level Terendah

IHSG memulai perdagangan di 6.175,20 dan sempat naik ke 6.199,44. Indeks tidak mampu mempertahankan penguatan tersebut dan kemudian melemah hingga ditutup di 6.130,59.

Posisi penutupan sama dengan titik terendah harian. Dari level tertinggi, IHSG kehilangan 68,85 poin. Dibandingkan posisi Midday 6.183,16, indeks turun 52,57 poin pada sesi kedua.

IHSG juga turun melewati 6.146,28, titik terendah sesi pertama. Pergerakan tersebut menegaskan bahwa struktur konstruktif pada Midday tidak bertahan hingga penutupan.

Struktur close at low menunjukkan tekanan bertahan sampai akhir perdagangan. Namun, kondisi itu menggambarkan dominasi penjual pada 28 Juli, bukan kepastian bahwa pelemahan langsung berlanjut pada perdagangan berikutnya.

Indeks Likuid Berbalik Negatif dan Hanya Satu Sektor Bertahan

LQ45 ditutup turun 0,74%, IDX30 turun 0,81%, dan IDX80 melemah 0,80%. Ketiga indeks tersebut masih berada di zona positif pada akhir sesi pertama.

Tekanan juga menjangkau kelompok saham berkapitalisasi menengah dan kecil. IDX SMC Composite turun 0,56%, sedangkan IDX SMC Liquid melemah 0,71%.

Penurunannya lebih ringan daripada IHSG dan IDX30, tetapi tetap menunjukkan bahwa pembalikan tidak terbatas pada saham-saham terbesar.

Untuk menjaga basis perbandingan dengan Midday, perubahan breadth menggunakan data RTI Business. Jumlah saham naik berkurang dari 332 menjadi 265, sedangkan saham turun bertambah dari 255 menjadi 360. Sebanyak 172 saham tidak berubah.

Pada tingkat sektor, hanya Consumer Non-Cyclicals yang bertahan positif dengan kenaikan 0,52%. Sepuluh sektor lainnya melemah.

Sektor Perubahan
Consumer Non-Cyclicals +0,52%
Consumer Cyclicals -0,34%
Basic Materials -0,53%
Healthcare -0,63%
Transportation and Logistics -0,74%
Infrastructures -0,76%
Financials -0,85%
Technology -0,88%
Industrials -1,00%
Energy -1,75%
Properties and Real Estate -3,25%

Statistik BEI juga menunjukkan sekitar 63% kapitalisasi pasar berada pada kelompok saham yang turun. Sekitar 21% berada pada saham yang naik, sedangkan sisanya berasal dari saham yang tidak berubah.

Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan EOD bukan sekadar distorsi satu atau dua saham. Tekanan memperoleh konfirmasi dari indeks saham likuid, kelompok small-mid cap, breadth, sektor, dan distribusi kapitalisasi pasar.

Kantong kekuatan selektif masih tersedia. Sebanyak 265 saham tetap menguat berdasarkan RTI, sementara sektor barang konsumsi primer berada di zona positif. Kekuatan tersebut belum cukup untuk mengimbangi pelemahan mayoritas pasar.

Net Sell Asing Membesar ke Rp1,07 Triliun, Bank Besar Kembali Menekan

Investor asing mencatat pembelian sekitar Rp3,29 triliun dan penjualan Rp4,36 triliun di seluruh pasar. Selisih keduanya menghasilkan net foreign sell sekitar Rp1,07 triliun.

Aktivitas asing Nilai
Foreign buy Rp3,29 triliun
Foreign sell Rp4,36 triliun
Net foreign sell Rp1,07 triliun

Snapshot Midday sebelumnya menunjukkan net sell sekitar Rp228,10 miliar. Angka penutupan sekitar Rp837,36 miliar lebih besar daripada snapshot tersebut.

Perbandingan itu menunjukkan pelebaran tekanan secara arah, tetapi bukan pengukuran presisi arus asing khusus sesi kedua. Angka Midday dan EOD menggunakan basis snapshot dan sumber yang tidak sepenuhnya sama.

Berdasarkan estimasi Stockbit per saham, BMRI dan BBRI mencatat penjualan bersih asing terbesar. Pada sisi pembelian, aliran asing terbesar terdapat pada TINS dan BRPT.

Estimasi Net Foreign Buy Terbesar

Saham Estimasi
TINS Rp33,52 miliar
BRPT Rp32,01 miliar
BBCA Rp19,09 miliar
GGRM Rp17,31 miliar
RAJA Rp14,66 miliar
BACH Rp11,42 miliar
SMGR Rp9,71 miliar
ELSA Rp6,45 miliar
ICBP Rp5,48 miliar
HEAL Rp4,72 miliar

Estimasi Net Foreign Sell Terbesar

Saham Estimasi
BMRI Rp150,19 miliar
BBRI Rp135,63 miliar
TPIA Rp50,91 miliar
ANTM Rp48,42 miliar
BUMI Rp47,91 miliar
DSSA Rp44,01 miliar
KLBF Rp32,17 miliar
INDY Rp31,79 miliar
TLKM Rp30,64 miliar
PGAS Rp30,30 miliar

Angka per saham merupakan estimasi Stockbit. Statistik resmi BEI digunakan sebagai rujukan untuk angka net foreign sell agregat, yang tercatat sebesar Rp1.065,46 miliar.

Tekanan asing beririsan dengan pelemahan beberapa saham berkapitalisasi besar. BBCA mengurangi sekitar 6,62 poin dari IHSG, BMRI 4,90 poin, BBRI 2,92 poin, dan TLKM 2,77 poin.

Keempat saham tersebut secara bersama-sama mengurangi sekitar 17,21 poin, setara 31,2% dari total penurunan IHSG.

Namun, arah harga dan arus asing tidak selalu sama. BBCA masih mencatat estimasi net buy asing meskipun harga dan kontribusinya terhadap indeks negatif. Transaksi domestik, komposisi indeks, rotasi sektor, serta likuiditas setiap saham juga memengaruhi penutupan pasar.

Tekanan Meluas, tetapi Aktivitas Masih Jauh di Bawah Rata-Rata YTD

Nilai transaksi saham pada 28 Juli mencapai Rp10,91 triliun. Angka tersebut 51,8% lebih rendah daripada rata-rata harian YTD sebesar Rp22,61 triliun.

Volume perdagangan mencapai 24,14 miliar saham, sekitar 39,0% di bawah rata-rata YTD. Frekuensi transaksi sebanyak 1,66 juta kali juga sekitar 34,9% lebih rendah daripada rata-rata harian.

Aktivitas saham 28 Juli 2026 Rata-rata YTD Selisih
Nilai transaksi Rp10,91 triliun Rp22,61 triliun -51,8%
Volume 24,14 miliar saham 39,60 miliar saham -39,0%
Frekuensi 1,66 juta kali 2,55 juta kali -34,9%

Data tersebut membentuk pembacaan yang seimbang.

Harga, breadth, sektor, indeks saham likuid, dan foreign flow menunjukkan tekanan yang meluas. Namun, pelemahan belum disertai partisipasi perdagangan yang luar biasa besar.

Nilai transaksi rendah dapat menunjukkan penjual belum bergerak secara ekstrem. Kondisi yang sama juga dapat mencerminkan minat pembeli yang belum cukup kuat untuk menyerap tekanan jual.

Aktivitas perdagangan tidak membatalkan pembacaan negatif. Data tersebut membatasi kesimpulan agar penurunan satu hari tidak langsung disebut sebagai kapitulasi atau perubahan rezim pasar.

Tekanan Regional Menambah Kehati-hatian, tetapi Bukan Penjelasan Tunggal

Sejumlah pasar utama Asia berada di zona negatif pada snapshot perdagangan 28 Juli. Rupiah juga melemah, dengan JISDOR naik dari Rp17.995 menjadi Rp18.088 per dolar AS atau sekitar 0,52%.

Kondisi regional dan pelemahan rupiah dapat menambah kehati-hatian terhadap aset Indonesia. Namun, data yang tersedia belum menunjukkan satu faktor eksternal sebagai penyebab tunggal pembalikan IHSG.

Pembacaan utama tetap bertumpu pada struktur internal pasar domestik, yaitu penutupan di level terendah, pembalikan indeks likuid, memburuknya breadth, pelemahan sepuluh sektor, tekanan saham berkapitalisasi besar, dan pelebaran net foreign sell.

Area 6.130 Menguji Apakah Tekanan Berlanjut atau Hanya Koreksi Satu Sesi

Area 6.130,59 menjadi level pengujian awal karena merupakan titik terendah sekaligus posisi penutupan 28 Juli. Level tersebut belum memiliki cukup pengujian untuk disebut sebagai support terkonfirmasi.

Tekanan memperoleh konfirmasi lanjutan apabila:

Tanda perbaikan awal muncul apabila IHSG kembali ke atas 6.146,28, yang merupakan titik terendah sesi pertama. Perbaikan berikutnya memerlukan pengujian terhadap 6.183,16, posisi Midday sebelum tekanan membesar.

Pemulihan struktur juga memerlukan breadth yang kembali positif, indeks saham likuid yang membaik, tekanan bank besar yang mereda, dan net foreign sell yang menyempit.

Penembusan kembali ke atas 6.199,44 akan memberikan konfirmasi lebih kuat karena indeks telah menghapus seluruh rentang pelemahan 28 Juli.

Penutupan EOD telah membuktikan bahwa stabilisasi Midday tidak bertahan. Yang masih perlu dibuktikan adalah apakah tekanan berkembang menjadi pelemahan lanjutan atau berhenti sebagai koreksi satu sesi dengan aktivitas yang tetap rendah.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes