Banyu Capital

IHSG Gagal Merebut 6.100 dan 8 Sektor Melemah, Net Buy Asing Rp8,97 Triliun Terkonsentrasi di Transaksi Non-Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG pulih 62,06 poin dari titik terendah, tetapi tetap ditutup di 6.091,39 dengan 494 saham melemah. IDX30 dan LQ45 ikut turun pada sesi kedua, sedangkan pasar reguler masih mencatat net foreign sell Rp183,81 miliar.

Dashboard rekap EOD BEI 29 Juli 2026 yang menampilkan IHSG, breadth pasar, struktur indeks, foreign flow, dan aktivitas transaksi
Dashboard Market Notes EOD 29 Juli 2026. IHSG menjauh dari titik terendah, tetapi tetap di bawah 6.100 dengan breadth negatif dan arus asing pasar reguler yang belum berbalik positif. Sumber data: Bursa Efek Indonesia, Stockbit Sekuritas, RTI Business, dan Bank Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan mengakhiri perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, dengan penurunan 39,20 poin atau 0,64%. Indeks sempat jatuh ke 6.029,32 sebelum menjauh dari titik terendah, tetapi pemulihan tersebut belum cukup untuk mengembalikan IHSG ke atas 6.100.

Perbaikan harga juga belum mendapat konfirmasi dari struktur pasar. Delapan dari sebelas sektor melemah, jumlah saham turun mencapai 2,66 kali saham naik, dan ketahanan indeks likuid berkurang pada sesi kedua.

Pada saat yang sama, net foreign buy All Market sebesar Rp8,97 triliun tidak mencerminkan kondisi perdagangan reguler. Pasar reguler masih mencatat net foreign sell Rp183,81 miliar, sedangkan arus positif terkonsentrasi pada transaksi negosiasi dan tunai.

IHSG Menjauh dari Titik Terendah, tetapi Gagal Merebut 6.100

IHSG dibuka di 6.141,16 dan sempat mencapai 6.174,41 sebelum turun ke 6.029,32. Indeks kemudian ditutup di 6.091,39.

Rentang perdagangan intraday mencapai 145,09 poin. IHSG memulihkan 62,06 poin dari titik terendah setelah tekanan jual membawa indeks mendekati 6.000.

Pemulihan tersebut membatasi pembacaan bahwa tekanan terus memburuk hingga penutupan. Namun, struktur harga belum pulih karena IHSG masih berakhir 8,61 poin di bawah 6.100 dan 39,20 poin di bawah penutupan sebelumnya di 6.130,59.

Kondisi ini lebih tepat dibaca sebagai tekanan yang mereda, bukan perubahan arah yang sudah terkonfirmasi. Area 6.100 menjadi area pantau awal, sedangkan 6.130,59 menjadi level berikutnya untuk menilai apakah perbaikan struktur harga berlanjut.

Delapan Sektor dan 494 Saham Melemah, Tekanan Lebih Luas dari Gerak Indeks

Penurunan IHSG sebesar 0,64% terlihat relatif terbatas jika hanya dibaca dari perubahan indeks. Breadth pasar menunjukkan tekanan yang lebih luas.

Berdasarkan statistik resmi Bursa Efek Indonesia, 494 saham melemah. Sebanyak 216 saham turun lebih dari 2%, sementara 278 saham terkoreksi hingga 2%.

Hanya 186 saham yang menguat dan 285 saham tidak berubah. Jumlah saham turun mencapai sekitar 2,66 kali jumlah saham naik.

Berdasarkan kapitalisasi pasar, kelompok saham yang melemah mewakili sekitar 53% kapitalisasi. Kelompok saham yang menguat hanya mewakili sekitar 26%.

Jumlah sektor negatif membaik dari sepuluh pada sesi pertama menjadi delapan saat penutupan. Namun, tiga sektor positif hanya membukukan kenaikan tipis:

Tekanan terbesar terjadi pada:

Sebaran tersebut menunjukkan tekanan tidak berhenti pada satu kelompok saham. Properti, industri, transportasi, infrastruktur, energi, dan konsumer siklikal melemah bersamaan.

IDX30 dan LQ45 Ikut Melemah, tetapi Masih Lebih Tahan dari IHSG

Pada sesi pertama, IDX30 dan LQ45 masih nyaris datar. Ketahanan tersebut berkurang menjelang penutupan.

IDX30 berakhir turun 0,21%, LQ45 melemah 0,25%, dan IDX80 turun 0,36%. Ketiganya mengalami pelemahan lebih dalam dibandingkan posisi Midday.

Tekanan lebih berat tetap terjadi pada kelompok saham berkapitalisasi kecil dan menengah. IDX Small-Mid Cap Composite turun 1,03%, sedangkan IDX Small-Mid Cap Liquid melemah 0,44%.

Indeks Development Board turun 1,31%, sementara Acceleration Board terkoreksi 3,02%.

Data tersebut menghasilkan dua pembacaan. Pertama, tekanan mulai menjangkau saham likuid pada sesi kedua. Kedua, IDX30 dan LQ45 masih turun lebih ringan daripada IHSG dan IDX Small-Mid Cap Composite.

Tekanan karena itu telah meluas, tetapi belum sepenuhnya sinkron. Ketahanan relatif indeks likuid membatasi pembacaan negatif, meski belum cukup untuk membuktikan stabilisasi.

Net Buy Asing Rp8,97 Triliun Tidak Mencerminkan Arus Pasar Reguler

Berdasarkan data BEI, investor asing mencatat net foreign buy All Market sebesar Rp8,97 triliun.

Pemisahan berdasarkan segmen transaksi memberikan gambaran berbeda:

Segmen Arus asing bersih
All Market Net buy Rp8,97 triliun
Pasar reguler Net sell Rp183,81 miliar
Negosiasi dan tunai Net buy sekitar Rp9,16 triliun

Arus positif agregat terkonsentrasi pada transaksi non-reguler. Angka All Market tidak menunjukkan bahwa investor asing telah kembali mencatat pembelian bersih yang meluas melalui perdagangan reguler.

Arus reguler juga belum seragam pada saham berkapitalisasi besar. BBCA menjadi tujuan pembelian asing terbesar, tetapi BBRI dan BMRI berada dalam kelompok penjualan asing terbesar.

Estimasi Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell Reguler

Peringkat Net foreign buy Rp miliar Net foreign sell Rp miliar
1 BBCA 94,29 EMAS 50,81
2 DSSA 34,32 BBRI 50,80
3 BRPT 29,62 BMRI 44,95
4 DEWA 15,61 BNBR 43,54
5 TPIA 14,24 AMMN 36,26
6 TLKM 11,05 ANTM 32,01
7 BACH 10,34 TINS 29,28
8 ITMG 8,93 BUMI 25,65
9 INCO 8,05 BREN 20,67
10 ADRO 7,70 AMRT 17,61

Sumber estimasi: Stockbit Sekuritas, 29 Juli 2026.

Pembelian pada BBCA dan TLKM membantu indeks saham likuid bertahan relatif lebih baik. Namun, penjualan pada BBRI dan BMRI menunjukkan arus beli asing pada bank besar belum merata.

Karena itu, net buy All Market hampir Rp9 triliun belum dapat digunakan sebagai bukti pembalikan foreign flow reguler.

Nilai Transaksi Hampir Rp23 Triliun, tetapi Aktivitas Tidak Meluas

Nilai transaksi saham mencapai Rp22,96 triliun, sedikit di atas rata-rata harian YTD sebesar Rp22,62 triliun.

Namun, distribusi transaksi sangat terkonsentrasi. MAPI mencatat nilai transaksi Rp9,33 triliun atau 40,64% dari seluruh nilai transaksi saham.

Jika transaksi MAPI dikeluarkan sebagai ilustrasi pro forma, nilai transaksi saham lainnya tersisa sekitar Rp13,63 triliun. Angka tersebut sekitar 39,7% di bawah rata-rata harian YTD.

Perhitungan ini bukan statistik resmi BEI yang telah disesuaikan. Angka tersebut hanya menunjukkan pengaruh satu transaksi terhadap nilai agregat dan tidak dapat diperlakukan sebagai nilai pasar reguler.

Indikator aktivitas lainnya juga belum menunjukkan partisipasi yang meluas:

Nilai transaksi yang tinggi karena itu tidak sama dengan peningkatan aktivitas di seluruh pasar. Frekuensi yang jauh di bawah rata-rata menunjukkan kenaikan nilai tidak diikuti jumlah transaksi yang sebanding.

BBCA Memberi Bantalan, tetapi Pemberat Indeks Lebih Dominan

BBCA menjadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi sekitar 4,41 poin. BRPT dan TPIA masing-masing menambah sekitar 2,32 poin dan 2,31 poin.

Sepuluh saham penopang utama menyumbang sekitar 15,31 poin. Namun, sepuluh saham pemberat utama mengurangi sekitar 31,53 poin.

Tekanan terbesar datang dari:

Komposisi ini menunjukkan pelemahan tidak disebabkan oleh satu saham. Tekanan datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar serta kelompok energi, komoditas, transportasi, dan industri.

Pada saat yang sama, dukungan BBCA serta saham petrokimia mencegah penurunan IHSG menjadi lebih dalam. Tekanan masih luas, tetapi belum berubah menjadi penjualan yang sepenuhnya seragam.

Rupiah Tidak Memberi Konfirmasi Tekanan Tambahan

JISDOR Bank Indonesia berada di Rp18.087 per dolar AS, hampir tidak berubah dari Rp18.088 sehari sebelumnya.

Yield SUN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,299% berdasarkan pembaruan data pasar pada sore hari.

Rupiah yang relatif stabil tidak menunjukkan tekanan tambahan yang jelas dari kurs. Namun, data satu hari tidak cukup untuk menghapus pengaruh faktor eksternal.

Indikasi yang paling langsung terlihat dalam data 29 Juli berasal dari struktur internal BEI, yaitu breadth negatif, pelemahan small-mid cap, penurunan mayoritas sektor, dan foreign flow reguler yang belum berbalik positif.

Stabilisasi Perlu Dibuktikan oleh Breadth dan Foreign Flow Reguler

Pemulihan dari titik terendah menunjukkan tekanan jual tidak berlangsung tanpa perlawanan. Namun, stabilisasi membutuhkan konfirmasi yang lebih luas daripada pantulan indeks.

Konfirmasi awal perlu datang dari kombinasi beberapa indikator:

  1. IHSG kembali dan bertahan di atas 6.100.
  2. IHSG ditutup di atas 6.130,59.
  3. Jumlah saham naik melampaui saham turun.
  4. Mayoritas sektor kembali menguat.
  5. IDX30 dan LQ45 ditutup positif.
  6. Pasar reguler berbalik mencatat net foreign buy.
  7. IDX Small-Mid Cap Composite berhenti tertinggal.
  8. Nilai dan frekuensi pasar reguler membaik tanpa dominasi transaksi blok.

Risiko tekanan meningkat jika IHSG kembali menguji atau menembus 6.029,32. Risiko menjadi lebih besar apabila pelemahan tersebut disertai penurunan indeks likuid, pembesaran net foreign sell reguler, dan hilangnya dukungan saham bank besar.

Penutupan 29 Juli belum menunjukkan perubahan rezim pasar. Tekanan intraday mereda, tetapi breadth, sektor, small-mid cap, dan arus asing reguler belum cukup kuat untuk mengonfirmasi stabilisasi.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes