Banyu Capital

IHSG Nyaris Datar meski 348 Saham dan 8 Sektor Melemah, Asing Catat Net Sell All Market Rp708 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG menghapus kenaikan pembukaan dan berakhir di 6.234,497. Breadth berbalik negatif dan sektor positif menyusut menjadi tiga, tetapi LQ45, IDX30, serta IDX Small-Mid Cap Liquid tetap menguat sehingga tekanan belum merata.

Dashboard rekap EOD IHSG 3 Agustus 2026 yang menampilkan breadth pasar, sektor, indeks likuid, foreign flow, dan saham penopang
IHSG menutup perdagangan 3 Agustus 2026 nyaris datar, tetapi 348 saham dan delapan sektor melemah, sementara asing mencatat net sell All Market sekitar Rp708 miliar. Sumber data: Bursa Efek Indonesia, Stockbit Sekuritas, dan RTI Business.

IHSG menutup perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, hampir tidak berubah setelah gagal mempertahankan kenaikan kuat pada pembukaan. Indeks berakhir di 6.234,497, turun 1,629 poin atau 0,03% dari penutupan sebelumnya di 6.236,126.

Penutupan yang nyaris datar menutupi perubahan yang lebih lemah pada partisipasi pasar. Dibanding penutupan sesi pertama, jumlah saham yang melemah bertambah, sektor positif menyusut, dan net foreign sell All Market meningkat menjadi sekitar Rp708 miliar.

Pelemahan tersebut belum merata. LQ45, IDX30, IDX80, dan IDX Small-Mid Cap Liquid tetap menguat. Hasil akhirnya menunjukkan ketahanan yang masih selektif pada saham likuid dan beberapa penopang indeks, bukan stabilitas pasar secara luas.

Kenaikan Pembukaan Terhapus, IHSG Kembali ke Area Penutupan Jumat

IHSG dibuka di 6.272,617 atau sekitar 0,59% di atas penutupan Jumat. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.273,326, tetapi kemudian turun hingga 6.212,551 sebelum berakhir di 6.234,497.

Posisi penutupan berada 38,829 poin di bawah level tertinggi, tetapi masih 21,946 poin di atas titik terendah. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan intraday tidak berlangsung satu arah, meskipun kenaikan pembukaan akhirnya terhapus seluruhnya.

Dibanding penutupan sesi pertama di 6.234,293, IHSG hanya bertambah 0,204 poin. Sesi kedua dengan demikian tidak menghasilkan perubahan arah indeks yang material.

Nilai transaksi saham tercatat Rp14,366 triliun dengan volume 37,667 miliar saham dan frekuensi sekitar 2,312 juta kali. Nilai transaksi tersebut sekitar 36% di bawah rata-rata harian sejak awal tahun yang mencapai Rp22,451 triliun.

Dengan nilai transaksi yang masih jauh di bawah rata-rata, kontribusi beberapa saham berkapitalisasi besar perlu mendapat perhatian lebih ketika membaca kualitas pergerakan indeks. Level IHSG karena itu perlu dilihat bersama breadth, sektor, dan kontribusi saham dominan.

Breadth Berbalik Negatif saat Sektor Positif Menyusut

Perubahan paling penting dari sesi pertama menuju penutupan terjadi pada partisipasi pasar.

Pada penutupan sesi pertama, RTI Business mencatat 323 saham menguat dan 294 saham melemah. Saat perdagangan berakhir, jumlah saham yang menguat berkurang menjadi 292, sedangkan saham melemah bertambah menjadi 348. Sebanyak 150 saham tidak berubah.

Selisih antara saham naik dan turun memburuk 85 saham, dari positif 29 pada sesi pertama menjadi negatif 56 saat penutupan, meskipun level IHSG hampir tidak berubah.

Kepemimpinan sektor juga menyempit. Enam sektor masih menguat pada sesi pertama, tetapi hanya tiga sektor yang bertahan positif hingga penutupan.

Barang Konsumen Non-Primer memimpin dengan kenaikan 1,64%, disusul Kesehatan 1,26% dan Barang Baku 0,50%.

Delapan sektor melemah, dipimpin Teknologi sebesar 1,52%, Properti dan Real Estat 0,77%, serta Energi 0,76%. Perindustrian dan Keuangan juga turun, sedangkan tekanan pada Infrastruktur, Barang Konsumen Primer, dan Transportasi lebih terbatas.

Kombinasi tersebut menunjukkan partisipasi dan kepemimpinan sektor memburuk dibanding sesi pertama, meskipun beberapa indeks likuid tetap bertahan.

LQ45 naik 0,43%, IDX30 menguat 0,07%, dan IDX80 bertambah 0,33%. IDX Small-Mid Cap Liquid juga ditutup naik 0,84%, sedangkan IDX Small-Mid Cap Composite turun 0,12%.

Kinerja tersebut menunjukkan ketahanan masih lebih terlihat pada kelompok small-mid cap yang likuid. Namun, perbandingan tetap perlu dibatasi karena kedua indeks memiliki komposisi dan bobot yang berbeda.

TLKM, AMMN, dan MAPI Menjadi Bantalan bagi Indeks

Ketahanan IHSG tidak terlepas dari kontribusi sejumlah saham yang mencatat kenaikan besar.

TLKM menjadi penopang utama dengan kontribusi 10,15 poin setelah harga sahamnya naik 4,18%. AMMN menyumbang 7,58 poin setelah menguat 4,39%, sedangkan MAPI memberi tambahan 6,34 poin setelah melonjak 21,86%.

Dalam daftar kontributor utama BEI, TLKM, AMMN, dan MAPI menyumbang sekitar 24,07 poin. Jumlah tersebut hampir mengimbangi tekanan sekitar 24,43 poin dari sepuluh saham pemberat terbesar.

Penopang IHSG Perubahan Kontribusi
TLKM +4,18% +10,15 poin
AMMN +4,39% +7,58 poin
MAPI +21,86% +6,34 poin
SRAJ +3,73% +2,13 poin
TKIM +10,00% +1,36 poin

Pada sisi sebaliknya, BREN menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 5,42 poin. DCII menekan 3,23 poin, disusul BBRI 2,92 poin, BBCA 2,21 poin, dan ASII 2,04 poin.

Pemberat IHSG Perubahan Kontribusi
BREN -4,18% -5,42 poin
DCII -1,66% -3,23 poin
BBRI -0,66% -2,92 poin
BBCA -0,40% -2,21 poin
ASII -0,98% -2,04 poin

Struktur tersebut menjelaskan mengapa IHSG dapat berakhir nyaris datar ketika jumlah saham dan sektor yang melemah lebih banyak. Posisi akhir indeks merupakan hasil perimbangan kontribusi saham besar, bukan cerminan pergerakan yang merata.

Net Sell Asing Bertambah, tetapi Arah Harga Tidak Seragam

Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp3,96 triliun dan penjualan Rp4,67 triliun. Hasilnya, terjadi net foreign sell All Market Rp707,59 miliar, dibulatkan menjadi sekitar Rp708 miliar.

Pada pasar reguler, net foreign sell mencapai Rp758,71 miliar. Transaksi tunai dan negosiasi mencatat net buy Rp50,72 miliar sehingga mengurangi nilai penjualan bersih secara keseluruhan.

Secara kumulatif, net foreign sell All Market bertambah sekitar Rp344,06 miliar, dari Rp363,53 miliar pada sesi pertama menjadi Rp707,59 miliar pada penutupan.

Top 10 Net Foreign Buy

Saham Nilai
TLKM Rp118,70 miliar
BBCA Rp78,29 miliar
GGRM Rp38,22 miliar
TINS Rp30,45 miliar
ICBP Rp28,69 miliar
MAPI Rp27,09 miliar
BRMS Rp25,70 miliar
INDF Rp14,99 miliar
ERAA Rp13,23 miliar
KOTA Rp11,59 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

Saham Nilai
TPIA Rp191,93 miliar
AMMN Rp91,13 miliar
BMRI Rp88,41 miliar
BBRI Rp62,21 miliar
ASII Rp53,31 miliar
EMAS Rp52,19 miliar
DSSA Rp49,22 miliar
BREN Rp48,14 miliar
MDIA Rp36,44 miliar
INDY Rp31,21 miliar

Arah foreign flow tidak selalu sama dengan arah harga. AMMN tetap naik dan menjadi penopang kedua terbesar IHSG meski masuk daftar net foreign sell. Sebaliknya, BBCA mencatat net foreign buy, tetapi harga sahamnya turun dan menjadi salah satu pemberat indeks.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa arus asing dan harga tidak selalu bergerak searah dalam satu hari. Foreign flow tetap relevan untuk membaca tekanan dana, tetapi bukan penjelasan tunggal atas perubahan harga.

Tekanan asing pada BMRI dan BBRI juga perlu dicermati bersama pelemahan sektor Keuangan sebesar 0,32%. Namun, net buy pada BBCA menunjukkan arus asing di saham bank besar belum sepenuhnya bergerak dalam satu arah.

Rupiah Menguat saat Yield SUN Naik dan Komoditas Bergerak Campuran

Rupiah, obligasi, dan komoditas tidak memberi arah yang seragam pada penutupan pasar. Waktu pembaruan antarindikator juga berbeda, sehingga data ini digunakan sebagai konteks, bukan penjelasan langsung atas pergerakan IHSG atau sektor.

JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.991 per dolar AS, menguat Rp67 atau sekitar 0,37% dari 31 Juli. Pada saat yang sama, snapshot yield SUN 10 tahun berada di 7,375%, naik sekitar 0,038 poin persentase.

Komoditas bergerak tidak seragam. WTI turun 6,96%, Brent melemah 5,40%, nikel turun 1,48%, dan CPO melemah 0,85%. Sebaliknya, tembaga naik 0,38% dan timah menguat 1,94%.

Sinyal yang terpecah tersebut belum cukup kuat untuk menjelaskan pergerakan IHSG atau pelemahan sektor tertentu secara tunggal.

Ketahanan Indeks Belum Mendapat Konfirmasi dari Pasar yang Lebih Luas

Penutupan 3 Agustus belum memberi konfirmasi bahwa ketahanan indeks telah meluas. IHSG memang pulih hampir 22 poin dari level terendah dan sejumlah indeks likuid tetap menguat. Namun, breadth berbalik negatif, sektor positif menyusut, transaksi masih jauh di bawah rata-rata YTD, dan net foreign sell bertambah sampai penutupan.

Konfirmasi berikutnya harus datang dari partisipasi yang lebih luas. Saham naik perlu kembali mendominasi, jumlah sektor positif perlu bertambah, dan tekanan asing pada saham likuid serta bank besar perlu menyusut. Dukungan indeks juga perlu meluas di luar TLKM, AMMN, dan MAPI.

Level 6.212,551 menjadi batas risiko harga terdekat. Penembusan level tersebut akan lebih berarti jika terjadi bersamaan dengan pelemahan LQ45, IDX30, dan saham small-mid cap. Sebaliknya, bertahannya IHSG di atas level itu belum cukup tanpa perbaikan breadth dan kepemimpinan sektor.

Satu hari perdagangan belum cukup untuk menandai perubahan rezim. Standar pembuktian pada perdagangan berikutnya adalah apakah ketahanan indeks mulai diikuti pasar yang lebih luas atau kembali bergantung pada sedikit penopang.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes