IHSG Tutup di Level Tertinggi dan 11 Sektor Menguat, tetapi Net Buy Asing Reguler Terbatas Rp100 Miliar
IHSG naik 1,56% ke 6.186,36 dan berakhir tepat pada level tertinggi harian. Breadth, seluruh sektor, serta indeks likuid dan small-mid cap mendukung rebound, tetapi nilai transaksi saham masih 42,7% di bawah rata-rata YTD dan sekitar 61,9% net foreign buy terjadi di luar pasar reguler.
IHSG berbalik menguat tajam pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026. Setelah melemah dalam tiga perdagangan sebelumnya, indeks tidak hanya mempertahankan kenaikan sesi pertama, tetapi terus bergerak naik hingga ditutup pada 6.186,36, bertambah 94,98 poin atau 1,56%.
Partisipasi pasar juga meluas. Seluruh 11 sektor berakhir positif, saham yang menguat jauh lebih banyak daripada saham yang melemah, sementara indeks likuid dan small-mid cap sama-sama mengungguli IHSG.
Rebound ini tidak hanya terlihat pada kenaikan IHSG. Partisipasinya meluas ke seluruh sektor, saham likuid, dan kelompok small-mid cap. Meski begitu, stabilisasi belum sepenuhnya terkunci karena net foreign buy reguler hanya sekitar Rp100 miliar dan aktivitas transaksi masih jauh di bawah rata-rata harian YTD.
IHSG Menutup Perdagangan Tepat di Level Tertinggi
IHSG dibuka pada 6.110,28 dan sempat menyentuh titik terendah 6.106,55. Indeks kemudian bergerak naik hingga ditutup pada 6.186,36, sama dengan level tertinggi perdagangan.
Jarak dari titik terendah menuju penutupan mencapai 79,82 poin. Penutupan tepat di level tertinggi menunjukkan tekanan jual tidak cukup kuat untuk menghapus kenaikan menjelang berakhirnya perdagangan.
Pada penutupan sesi pertama, IHSG berada di 6.147,96. Indeks masih bertambah 38,40 poin selama sesi kedua dan melewati titik tertinggi sesi pertama di 6.168,57.
Dengan demikian, konfirmasi harga bertahan hingga akhir sesi, bukan hanya terbentuk pada perdagangan intraday.
Breadth Meluas, Seluruh Sektor Naik, dan Indeks Utama Mengungguli
Berdasarkan klasifikasi seluruh 963 saham tercatat oleh BEI, sebanyak 511 saham berada di zona positif, 171 saham melemah, dan 281 saham stabil.
Saham yang menguat juga mewakili sekitar 67% kapitalisasi pasar. Artinya, breadth positif tidak hanya berasal dari saham berkapitalisasi kecil.
RTI Business, yang digunakan untuk menjaga kesinambungan dengan data sesi pertama, mencatat 495 saham naik, 158 turun, dan 136 tidak berubah. Cakupan perhitungannya berbeda dari statistik BEI, tetapi kedua sumber memberikan kesimpulan yang sama bahwa partisipasi kenaikan berlangsung luas.
Pembacaan sesi pertama menguat sampai penutupan. Jumlah saham yang naik bertambah dari 468 menjadi 495, saham yang turun berkurang dari 167 menjadi 158, dan sektor positif bertambah dari sembilan menjadi seluruh 11 sektor.
Consumer Cyclicals memimpin dengan kenaikan 2,25%, disusul Consumer Non-Cyclicals 2,12%.
Energy dan Properties & Real Estate masing-masing menguat 1,87%. Industrials naik 1,54%, Transportation & Logistics 1,47%, sedangkan Basic Materials dan Financials masing-masing bertambah 1,43%.
Healthcare menguat 1,24%, Infrastructures 1,11%, dan Technology 0,29%. Technology menjadi sektor dengan kenaikan paling terbatas, tetapi tetap berakhir di zona positif.
Perluasan sektoral itu kemudian dikonfirmasi oleh performa indeks utama.
IDX30 naik 2,11%, LQ45 2,03%, dan IDX80 1,94%. Pada kelompok kapitalisasi menengah dan kecil, IDX SMC Composite naik 2,00% dan IDX SMC Liquid menguat 2,30%.
Saham likuid berkapitalisasi besar memberikan kepemimpinan, sedangkan kelompok small-mid cap memperluas kenaikan. Karena itu, penguatan IHSG tidak berhenti pada satu kelompok saham atau satu lapisan kapitalisasi.
Saham Besar Memimpin, tetapi Tidak Menguasai Seluruh Kenaikan
BBCA menjadi kontributor terbesar bagi IHSG dengan tambahan 15,44 poin setelah harganya naik 2,79%. BBRI menyumbang 10,22 poin, TLKM 10,15 poin, dan BMRI 5,71 poin.
Keempat saham tersebut memberikan total kontribusi 41,52 poin. Jumlah itu setara dengan sekitar 43,7% dari kenaikan IHSG sebesar 94,98 poin.
Kontribusi bank besar dan TLKM tetap material. Kepemimpinan saham berkapitalisasi besar juga membantu IDX30 dan LQ45 mengungguli IHSG.
Namun, lebih dari separuh kenaikan indeks berasal dari saham lain. Temuan ini konsisten dengan breadth positif, penguatan seluruh sektor, serta kenaikan indeks kapitalisasi menengah dan kecil.
Di sisi berlawanan, BREN menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 1,93 poin. TPIA menekan 1,89 poin dan BYAN 1,22 poin. Tekanan dari saham pemberat relatif kecil dibandingkan kontribusi kelompok penggerak.
Kepemimpinan saham besar belum disertai arus asing yang seragam. BBRI dan BMRI termasuk penopang IHSG, tetapi keduanya tetap berada dalam daftar estimasi net foreign sell.
Net Buy Asing Positif, tetapi Mayoritas Berada di Luar Pasar Reguler
BEI mencatat net foreign buy sebesar Rp262,93 miliar pada 30 Juli 2026. Angka ini membaik dibanding sesi pertama, ketika pembelian bersih asing All Market masih sekitar Rp46,91 miliar.
Sementara itu, pembagian RTI Business menunjukkan net foreign buy All Market Rp262,81 miliar. Jumlah tersebut terdiri atas Rp100,16 miliar di pasar reguler dan Rp162,65 miliar di pasar negosiasi serta tunai.
Berdasarkan pembagian RTI, sekitar 61,9% pembelian bersih asing terjadi di luar pasar reguler. Karena itu, angka All Market yang positif belum dapat langsung dibaca sebagai akumulasi reguler yang kuat dan merata.
Komposisi arus asing per saham masih terfragmentasi, sebagaimana terlihat pada tabel berikut.
Estimasi Net Foreign Buy
| Saham | Estimasi net buy |
|---|---|
| BBCA | Rp317,41 miliar |
| TINS | Rp73,85 miliar |
| TLKM | Rp66,63 miliar |
| BULL | Rp64,90 miliar |
| INCO | Rp43,91 miliar |
| BBNI | Rp41,83 miliar |
| MDKA | Rp31,12 miliar |
| KOTA | Rp28,68 miliar |
| BACH | Rp28,33 miliar |
| MDIA | Rp20,90 miliar |
Estimasi Net Foreign Sell
| Saham | Estimasi net sell |
|---|---|
| TPIA | Rp368,21 miliar |
| EMAS | Rp79,90 miliar |
| AMMN | Rp69,38 miliar |
| ANTM | Rp43,59 miliar |
| BBRI | Rp37,01 miliar |
| CUAN | Rp35,72 miliar |
| ADRO | Rp27,16 miliar |
| KLBF | Rp22,70 miliar |
| BRMS | Rp19,22 miliar |
| DSSA | Rp16,31 miliar |
Data per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas. Cakupan mengikuti klasifikasi platform dan tidak otomatis sama dengan foreign flow pasar reguler.
Kenaikan IHSG Berlangsung dengan Transaksi Rendah dan Yield SUN Naik
BEI mencatat nilai transaksi saham sebesar Rp12,921 triliun. Angka tersebut masih 42,7% lebih rendah daripada rata-rata harian YTD sebesar Rp22,543 triliun.
Volume transaksi saham mencapai 29,706 miliar saham, sekitar 24,8% di bawah rata-rata YTD sebesar 39,524 miliar saham. Frekuensi transaksi sebanyak 1,741 juta kali juga masih 31,4% lebih rendah daripada rata-rata harian YTD sebesar 2,538 juta kali.
Perbandingan tersebut menggunakan data transaksi saham agar cakupannya konsisten. Total seluruh instrumen mencapai Rp12,932 triliun, dengan volume 30,812 miliar unit dan frekuensi 1,755 juta kali. Angka total tersebut mencakup instrumen selain saham.
Meski harga, sektor, dan breadth menguat, aktivitas perdagangan belum mendekati pola normal YTD. Daya tahan kenaikan masih perlu diuji melalui peningkatan nilai, volume, dan frekuensi transaksi pada perdagangan berikutnya.
JISDOR 30 Juli berada di Rp18.078 per dolar AS, menguat tipis Rp9 dari Rp18.087 pada hari sebelumnya.
Di pasar obligasi, yield SUN 10 tahun berada sekitar 7,337% berdasarkan snapshot pukul 17.02 WIB. Yield naik sekitar 3,8 basis poin, sementara harga obligasi bergerak turun.
Rupiah yang membaik tipis membantu konteks risiko, tetapi kenaikan yield SUN menunjukkan pasar obligasi belum memberi konfirmasi yang sama dengan ekuitas.
Yang Perlu Dibuktikan pada Perdagangan Berikutnya
Fokus berikutnya bukan lagi apakah rebound telah terjadi, melainkan apakah dukungannya dapat bertahan lebih dari satu perdagangan.
IHSG perlu mempertahankan area di atas 6.100 dan menguji 6.200 tanpa kehilangan breadth. IDX30 dan LQ45 juga perlu mempertahankan kepemimpinan, sementara net foreign buy reguler dan nilai transaksi perlu meningkat.
Stabilitas rupiah dan yield SUN akan menjadi konfirmasi tambahan. Sebaliknya, penutupan kembali di bawah 6.100 yang disertai net foreign sell reguler, penyempitan breadth, dan pelemahan mayoritas sektor akan mengurangi kekuatan pembacaan stabilisasi awal.
Rebound telah memperoleh partisipasi yang luas. Hal yang belum terbukti adalah daya tahannya.
Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.