IHSG Tutup Dekat Level Tertinggi dan 10 Sektor Menguat, tetapi Saham Likuid Masih Tertinggal
IHSG bertambah 19,85 poin dari posisi midday dan sektor Financials berbalik positif. Namun, IDX30 dan LQ45 tetap tertinggal, nilai transaksi saham berada sekitar 19% di bawah rata-rata harian YTD, dan investor asing masih mencatat net sell Rp34,82 miliar di pasar reguler.
Indeks Harga Saham Gabungan memperpanjang penguatan pada sesi kedua perdagangan Jumat, 31 Juli 2026. IHSG ditutup di 6.236,126, naik 49,763 poin atau 0,80%, setelah bertambah 19,846 poin dari posisi midday.
Indeks berakhir hanya 0,489 poin di bawah titik tertinggi, sementara Financials berbalik positif dan jumlah sektor yang menguat bertambah dari sembilan menjadi sepuluh.
Ketertinggalan IDX30 dan LQ45 menunjukkan bahwa kenaikan belum merata ke saham paling likuid. Aktivitas perdagangan juga masih di bawah rata-rata harian tahun berjalan, sementara investor asing tetap mencatat net sell di pasar reguler.
IHSG Menutup Sesi Hanya 0,49 Poin di Bawah Level Tertinggi
IHSG dibuka di 6.219,623, sempat turun ke 6.201,894, lalu mencapai titik tertinggi 6.236,615. Indeks akhirnya ditutup di 6.236,126, hanya 0,489 poin di bawah level tertinggi tersebut.
Dari titik terendah, IHSG pulih 34,232 poin. Dibanding posisi midday di 6.216,28, indeks menambahkan kenaikan 19,846 poin.
Penutupan yang hanya terpaut 0,489 poin dari titik tertinggi menunjukkan bahwa permintaan bertahan hingga akhir perdagangan. Bukti ini tetap terbatas pada satu sesi dan belum memastikan penguatan berlanjut.
Sepuluh Sektor Menguat, tetapi Saham Likuid Masih Tertinggal
Partisipasi pasar tetap positif. RTI Business mencatat 437 saham naik, 193 saham turun, dan 159 saham tidak berubah. Rasio saham naik terhadap saham turun mencapai sekitar 2,26 kali.
Meski demikian, jumlah saham yang naik tidak bertambah dari posisi midday, yang juga mencapai 437 saham. Perbaikan pada sesi kedua lebih terlihat pada kenaikan lanjutan harga, pemulihan Financials, dan bertambahnya jumlah sektor positif daripada perluasan jumlah saham yang menguat.
Sepuluh dari sebelas sektor berakhir di zona hijau. Basic Materials memimpin dengan kenaikan 2,54%, diikuti Healthcare 2,43%, Technology 2,23%, Consumer Cyclicals 1,95%, dan Properties and Real Estate 1,52%.
Perubahan penting terjadi pada Financials. Sektor ini turun 0,38% pada sesi pertama, tetapi berbalik naik 0,18% saat penutupan. Consumer Non-Cyclicals menjadi satu-satunya sektor yang melemah, meski koreksinya menyempit menjadi 0,03%.
Penguatan sepuluh sektor memperlihatkan partisipasi lintas industri yang cukup luas. Perbandingan antarindeks kemudian menunjukkan lapisan pasar mana yang paling kuat memimpin kenaikan.
IDX SMC Composite naik 1,10%, lebih tinggi daripada IHSG yang menguat 0,80%. Sementara itu, IDX80 hanya naik 0,54%, LQ45 0,39%, dan IDX30 0,34%.
Kepemimpinan pasar masih berada pada kelompok saham berkapitalisasi kecil-menengah, sementara saham paling likuid belum mengejar kenaikan IHSG.
Dukungan Saham Besar Belum Seragam
Kontribusi saham besar belum bergerak satu arah. BBRI menjadi penopang terbesar dengan tambahan 7,30 poin, disusul ASII 6,11 poin, AMMN 5,05 poin, BREN 3,87 poin, dan BRPT 3,19 poin.
Lima saham tersebut menyumbang 25,52 poin atau sekitar 51,3% dari kenaikan IHSG. Namun, partisipasi pasar yang positif dan penguatan sepuluh sektor menunjukkan bahwa kenaikan tidak hanya bergantung pada kelompok tersebut.
Dukungan saham besar juga belum seragam. BBCA menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 11,03 poin, sedangkan TLKM mengurangi sekitar 3,69 poin.
Di kelompok perbankan, BBRI dan BMRI mencatat pembelian asing bersih, sementara BBCA menjadi saham dengan penjualan asing bersih terbesar dalam peringkat Stockbit.
Perbedaan arah antarbank besar membantu menjelaskan mengapa Financials hanya menguat tipis dan IDX30 serta LQ45 tetap tertinggal dari IHSG.
Net Sell Asing All Market Membesar, Tekanan Reguler Terbatas Rp34,82 Miliar
Investor asing mencatat net foreign sell All Market Rp250,53 miliar pada akhir perdagangan. Angka tersebut membesar dari net sell Rp70,18 miliar pada sesi pertama.
Komposisi transaksinya perlu diperhatikan. Penjualan bersih di pasar reguler hanya mencapai Rp34,82 miliar, sedangkan pasar tunai dan negosiasi mencatat net sell Rp215,71 miliar.
Sekitar 86,1% dari net foreign sell All Market terjadi di luar pasar reguler.
Angka All Market tetap mencerminkan perubahan kepemilikan asing, sementara pasar reguler lebih dekat dengan proses pembentukan harga harian. Karena itu, net sell Rp250,53 miliar perlu dibaca bersama tekanan reguler yang jauh lebih terbatas, bukan diperlakukan sebagai arus jual reguler penuh.
Berdasarkan peringkat Stockbit, BBRI menjadi tujuan pembelian asing terbesar dengan net foreign buy Rp233,22 miliar, sedangkan BBCA mencatat net foreign sell terbesar Rp100,40 miliar. Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa dukungan asing pada saham besar belum seragam.
Top 10 Net Foreign Buy Berdasarkan Stockbit
| Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|
| BBRI | Rp233,22 miliar |
| TINS | Rp160,60 miliar |
| TPIA | Rp91,30 miliar |
| BMRI | Rp79,28 miliar |
| BRPT | Rp54,56 miliar |
| BUVA | Rp27,70 miliar |
| INCO | Rp25,33 miliar |
| ASII | Rp23,53 miliar |
| BACH | Rp19,06 miliar |
| MDIA | Rp14,55 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell Berdasarkan Stockbit
| Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|
| BBCA | Rp100,40 miliar |
| AMMN | Rp72,40 miliar |
| BUMI | Rp67,69 miliar |
| ANTM | Rp52,02 miliar |
| UNTR | Rp39,19 miliar |
| JECX | Rp39,09 miliar |
| TLKM | Rp33,82 miliar |
| AADI | Rp29,30 miliar |
| DSSA | Rp28,56 miliar |
| DEWA | Rp27,25 miliar |
Likuiditas Belum Mengikuti Posisi Penutupan
BEI mencatat volume perdagangan saham sebanyak 31,527 miliar saham, nilai transaksi Rp18,245 triliun, dan frekuensi 1,939 juta kali.
Ketiga indikator tersebut masih berada di bawah rata-rata harian tahun berjalan.
Volume sekitar 20,1% lebih rendah daripada rata-rata YTD sebesar 39,465 miliar saham. Nilai transaksi sekitar 19,0% di bawah rata-rata Rp22,511 triliun, sedangkan frekuensi sekitar 23,5% di bawah rata-rata 2,533 juta kali.
Penutupan dekat titik tertinggi belum diikuti aktivitas perdagangan yang setara. Nilai transaksi Rp18,245 triliun masih sekitar 19,0% di bawah rata-rata YTD, sehingga kenaikan berikutnya akan lebih meyakinkan jika nilai dan frekuensi ikut meningkat.
JISDOR menguat 20 rupiah menjadi Rp18.058 per dolar AS, sementara yield SUN 10 tahun relatif stabil di 7,337%. Keduanya tidak menunjukkan tambahan tekanan domestik yang material, tetapi juga belum cukup untuk menjelaskan penguatan IHSG atau arah arus asing.
Saham Likuid dan Arus Asing Menjadi Ujian Berikutnya
Area 6.200 menjadi syarat awal untuk menjaga pembacaan konstruktif. Konfirmasi berikutnya harus datang dari IDX30 dan LQ45 yang mulai mengejar, Financials yang tetap positif, peningkatan nilai dan frekuensi transaksi, serta foreign flow reguler yang bergerak mendekati netral atau berbalik positif.
Kehilangan 6.200 belum cukup menjadi invalidasi tunggal. Risiko meningkat secara material jika penurunan itu terjadi bersama jumlah saham turun yang melampaui saham naik, pelemahan Financials dan indeks likuid, aktivitas perdagangan yang tetap lemah, serta pembesaran net foreign sell reguler.
Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.