IHSG Naik 1,21% dengan 489 Saham Menguat, Asing Jual Bersih Rp630 Miliar
Penguatan IHSG bertahan hingga penutupan 6 Oktober 2026. Sebanyak 489 saham menguat dan seluruh sektor berakhir positif, tetapi LQ45 serta IDX30 tertinggal dari indeks utama sementara arus asing masih negatif.
IHSG ditutup di 6.192,93, naik 74,07 poin atau 1,21%. Indeks sempat mencapai 6.216,44 dan menyentuh 6.120,24. Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp12,34 triliun dengan volume 47,13 miliar saham.
Posisi akhir hanya sedikit di bawah level Midday. Artinya, sesi II tidak menghapus pemulihan yang terbentuk pada pagi hari. Namun penutupan juga masih cukup jauh dari titik tertinggi harian, sehingga kekuatan harga belum memperoleh konfirmasi penuh sampai akhir perdagangan.
Penutupan ini memperkuat tanda bahwa tekanan jual mulai mereda secara luas. Namun satu hari dengan breadth yang kuat belum cukup untuk mengonfirmasi bahwa pasar telah membentuk bottom.
Kenaikan Tidak Hanya Datang dari Segelintir Saham
RTI Business mencatat 489 saham menguat, 183 melemah, dan 120 tidak berubah. Jumlah saham naik sekitar 2,7 kali jumlah saham turun.
Seluruh 11 sektor juga ditutup positif. Transportasi & Logistik memimpin dengan kenaikan 3,16%, diikuti Teknologi 3,09% dan Energi 2,67%. Basic Materials naik 1,60%, Infrastruktur 1,49%, dan Industrials 1,41%.
Financials menjadi sektor paling tertinggal dengan kenaikan hanya 0,09%.
Breadth tersebut menunjukkan bahwa rebound tidak bergantung pada satu atau dua saham besar. Namun luasnya penguatan baru menjadi bukti stabilisasi satu hari. Keberlanjutannya masih perlu diuji pada sesi berikutnya.
Saham Likuid Belum Sejalan dengan Headline IHSG
LQ45 naik 0,82%, sedangkan IDX30 hanya 0,41%. Keduanya tertinggal dari kenaikan IHSG 1,21%.
Komposisi penggerak indeks memperlihatkan perbedaan yang sama. BYAN menyumbang sekitar 19,67 poin terhadap IHSG dan AMMN sekitar 11,05 poin. MORA menambah sekitar 6,45 poin.
Sebaliknya, BBCA mengurangi IHSG sekitar 6,84 poin, BBRI 1,47 poin, dan TLKM sekitar 0,92 poin.
Pasar memang naik luas, tetapi kelompok saham besar dan likuid belum memberikan konfirmasi sekuat headline IHSG. Agar rebound lebih meyakinkan, breadth yang luas perlu diikuti perbaikan pada saham besar dan likuid yang menjadi pusat aktivitas investor institusional.
Asing Masih Menjual Bersih Rp629,87 Miliar
Investor asing tetap berada di sisi jual. BEI mencatat net foreign sell sekitar Rp629,87 miliar pada All Market. Dari jumlah tersebut, RTI Business mencatat sekitar Rp597,49 miliar berasal dari Regular Market, sementara pasar tunai dan negosiasi menyumbang sekitar Rp32,37 miliar.
Pada Midday, posisi jual bersih asing masih sekitar Rp273,81 miliar. Artinya, sekitar Rp356 miliar tambahan jual bersih tercatat setelah sesi pertama.
Angka tersebut tidak berarti kecepatan penjualan asing otomatis memburuk karena kedua angka merupakan posisi kumulatif pada waktu berbeda. Yang dapat dipastikan adalah arus asing tetap negatif sampai penutupan.
Pembelian asing terbesar pada All Market antara lain:
| Saham | Net Buy |
|---|---|
| TPIA | Rp58,91 miliar |
| BBRI | Rp45,80 miliar |
| TINS | Rp38,24 miliar |
| ANTM | Rp35,76 miliar |
| PTBA | Rp26,91 miliar |
| ENRG | Rp20,85 miliar |
| DSSA | Rp18,12 miliar |
| MEDC | Rp14,34 miliar |
| BRMS | Rp11,27 miliar |
| MAPI | Rp10,37 miliar |
Sementara jual bersih terbesar berada pada:
| Saham | Net Sell |
|---|---|
| GOTO | Rp255,81 miliar |
| BMRI | Rp127,23 miliar |
| TLKM | Rp73,07 miliar |
| PACK | Rp44,34 miliar |
| AADI | Rp31,65 miliar |
| UNTR | Rp30,70 miliar |
| BRPT | Rp22,32 miliar |
| AMRT | Rp18,80 miliar |
| TOWR | Rp18,69 miliar |
| SINI | Rp18,51 miliar |
Tekanan terbesar terkonsentrasi pada GOTO, BMRI, dan TLKM, sementara TPIA, BBRI, TINS, ANTM, dan PTBA masih mencatat pembelian bersih.
Jadi, tekanan asing masih terlihat pada level pasar, tetapi distribusinya tetap selektif antar-saham.
Rupiah Stabil, tetapi Konfirmasi Utama Tetap Berasal dari Bursa
JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.910 per dolar AS, dibanding Rp17.917 sehari sebelumnya. Perubahannya hanya sekitar Rp7 atau 0,04%.
SUN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,167%.
Kondisi tersebut tidak menambah tekanan cross-asset yang berarti, tetapi juga belum cukup kuat untuk menjadi bukti tersendiri bahwa tekanan terhadap aset Indonesia telah berbalik.
Untuk saat ini, bukti paling penting tetap berada pada struktur pasar saham: harga membaik dan breadth meluas, tetapi saham likuid serta foreign flow belum mengikuti dengan kekuatan yang sama.
Tiga Bukti yang Perlu Muncul Berikutnya
Perdagangan berikutnya perlu menjawab tiga hal.
Pertama, apakah breadth positif dapat bertahan setelah 489 saham menguat pada 6 Oktober.
Kedua, apakah LQ45 dan IDX30 mulai mengejar IHSG. Perbaikan pada indeks saham likuid akan memperkuat bukti bahwa rebound mulai memperoleh dukungan yang lebih merata dari saham-saham besar.
Ketiga, apakah net foreign sell mulai menyempit atau berbalik, terutama pada saham berkapitalisasi besar.
Jika ketiganya mulai bergerak searah, bukti stabilisasi akan menjadi lebih kuat.
Sebaliknya, IHSG yang kembali turun di bawah low 6 Oktober sekitar 6.120, disertai breadth negatif dan tekanan asing yang tetap besar, akan melemahkan tesis stabilisasi.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.