Banyu Capital

IHSG Naik 1,26%, 498 Saham Menguat; Asing Net Sell Rp273,81 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Kenaikan IHSG pada sesi I 6 Oktober semakin luas. Seluruh 11 sektor menguat, LQ45 dan IDX30 naik lebih dari 1%, sementara jumlah saham yang naik lebih dari tiga kali jumlah saham yang turun. Namun, investor asing masih mencatat net sell Rp273,81 miliar.

Dashboard Market Notes Midday IHSG 6 Oktober 2026 yang menampilkan kenaikan indeks, market breadth, sektor, dan foreign flow
IHSG menguat 1,26% pada sesi I 6 Oktober 2026 dengan 498 saham naik dan seluruh 11 sektor positif. Partisipasi pasar yang luas memperkuat indikasi stabilisasi jangka pendek, tetapi investor asing masih mencatat net sell Rp273,81 miliar. Sumber: RTI Business, Stockbit, Stockbit Sekuritas, dan TradingView.

IHSG berakhir di 6.196,09, naik 77,23 poin atau 1,26%. Indeks sempat menyentuh 6.203,70 dan mengakhiri sesi hanya sekitar delapan poin di bawah level tertingginya.

Harga dan partisipasi pasar bergerak searah pada sesi I. Konfirmasinya belum lengkap karena foreign flow tetap negatif dan rupiah belum ikut menguat.

IHSG Bertahan Dekat Tertinggi, Kenaikan Didukung Breadth Luas

IHSG dibuka di 6.139,13 dan sempat menyentuh 6.120,24 sebelum bergerak hingga 6.203,70. Posisi 6.196,09 pada akhir sesi menunjukkan sebagian besar kenaikan intraday masih bertahan.

Nilai transaksi All Market mencapai sekitar Rp6,12 triliun dengan volume 29,37 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,14 juta kali.

Partisipasi pasar terlihat lebih penting daripada kenaikan indeks semata. Sebanyak 498 saham menguat, 157 melemah, dan 130 tidak berubah. Artinya, jumlah saham yang naik sekitar 3,17 kali jumlah saham yang turun.

Seluruh 11 sektor juga berada di zona positif. Transportasi memimpin dengan kenaikan 3,33%, disusul teknologi 2,59% dan energi 2,33%. Sektor kesehatan menjadi penguat paling terbatas dengan kenaikan 0,50%.

LQ45 naik 1,17% dan IDX30 menguat 1,16%. Pergerakan keduanya yang mendekati kenaikan IHSG menunjukkan saham-saham likuid ikut berpartisipasi.

Data sesi I menunjukkan penguatan yang cukup luas, bukan sekadar kenaikan indeks akibat beberapa saham tertentu. Kondisi ini memperkuat indikasi stabilisasi jangka pendek, tetapi belum dapat digunakan sebagai konfirmasi bahwa pasar telah membentuk bottom.

Asing Masih Menjual di Tengah Penguatan Pasar

Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp1,85 triliun dan penjualan Rp2,12 triliun di All Market. Selisihnya menghasilkan net sell Rp273,81 miliar.

Komponen Nilai
Foreign Buy Rp1,85 triliun
Foreign Sell Rp2,12 triliun
Net Foreign Sell Rp273,81 miliar

Arus asing juga tidak bergerak seragam pada saham-saham besar.

BBRI mencatat estimasi net foreign buy terbesar sekitar Rp57,22 miliar. Sebaliknya, GOTO mencatat estimasi net foreign sell sekitar Rp111,55 miliar, diikuti BMRI Rp48,04 miliar, TLKM Rp38,36 miliar, dan BBCA Rp30,06 miliar.

No. Kode Estimasi Net Foreign Buy
1 BBRI Rp57,22 miliar
2 TPIA Rp25,63 miliar
3 BUMI Rp17,88 miliar
4 PTBA Rp16,62 miliar
5 FORU Rp13,87 miliar
6 TINS Rp11,10 miliar
7 DEWA Rp10,53 miliar
8 ANTM Rp9,17 miliar
9 SMDR Rp8,09 miliar
10 ENRG Rp7,55 miliar
No. Kode Estimasi Net Foreign Sell
1 GOTO Rp111,55 miliar
2 BMRI Rp48,04 miliar
3 TLKM Rp38,36 miliar
4 BBCA Rp30,06 miliar
5 PACK Rp24,88 miliar
6 AMMN Rp19,42 miliar
7 COCO Rp11,68 miliar
8 BRPT Rp11,60 miliar
9 AMRT Rp10,95 miliar
10 BRIS Rp10,93 miliar

Nilai per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas berdasarkan harga rata-rata sesi I dan net volume.

Perbedaan antara BBRI dengan BMRI dan BBCA menunjukkan arus asing pada bank besar belum bergerak dalam satu arah. GOTO memberi contoh lain. Saham tersebut naik 6,90% meski mencatat estimasi jual bersih asing terbesar.

Dengan demikian, net sell asing tidak membatalkan perbaikan internal pasar. Data tersebut lebih tepat dibaca sebagai faktor yang membatasi tingkat konfirmasi: harga dan breadth sudah membaik, tetapi arus asing belum mengikuti.

Rupiah Belum Memperkuat Sinyal dari Pasar Saham

USD/IDR berada di sekitar 17.902, naik tipis 0,04%. Artinya, rupiah sedikit melemah pada snapshot sesi I.

Pergerakannya terlalu kecil untuk dijadikan penyebab utama kenaikan atau tekanan pada IHSG. Namun, rupiah juga belum memberikan konfirmasi tambahan terhadap penguatan pasar saham.

Sinyal terkuat sesi I tetap datang dari internal pasar: IHSG bertahan dekat titik tertinggi, breadth lebar, seluruh sektor positif, dan indeks saham likuid ikut naik.

Sesi II Akan Menguji Apakah Penguatan Tetap Luas

Ukuran utama pada sesi II bukan sekadar apakah IHSG tetap berada di zona hijau.

Indikasi stabilisasi akan mendapat dukungan tambahan apabila IHSG mampu mempertahankan sebagian besar kenaikannya, breadth tetap luas, LQ45 dan IDX30 tidak tertinggal, serta tekanan jual asing tidak melebar secara material.

Sebaliknya, sinyal sesi I akan melemah jika IHSG kehilangan sebagian besar kenaikan bersamaan dengan menyempitnya breadth dan melemahnya saham-saham likuid.

Karena itu, sesi II menjadi tes berikutnya. Selama harga, breadth, dan saham likuid tetap bergerak searah, indikasi stabilisasi masih bertahan. Pembentukan bottom baru membutuhkan bukti yang lebih panjang daripada satu sesi penguatan.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes