Banyu Capital

IHSG Naik 1,04% dan Tutup di Level Tertinggi, Asing Net Buy Rp1,24 Triliun

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Penguatan IHSG mendapat konfirmasi tambahan pada sesi kedua 7 Agustus. Indeks yang masih berada di 6.388,483 pada jeda siang akhirnya ditutup di 6.409,654, tepat pada level tertinggi hari itu.

Partisipasi pasar juga tetap positif. Sebanyak 355 saham menguat dan 10 dari 11 sektor berakhir di zona hijau. LQ45 naik 1,50% dan IDX30 1,45%, keduanya lebih tinggi daripada kenaikan IHSG sebesar 1,04%. Di saat yang sama, investor asing meningkatkan net buy All Market dari Rp343,13 miliar pada midday menjadi Rp1,24 triliun pada penutupan.

Penutupan Jumat memberi konfirmasi lebih kuat dibanding posisi midday. Namun, kondisi ini belum cukup untuk disebut perubahan tren. Nilai transaksi masih berada di bawah rata-rata harian YTD, sementara sekitar 69% kenaikan poin IHSG berasal dari 10 saham penopang terbesar.

Dashboard rekap EOD IHSG 7 Agustus 2026 yang menampilkan penutupan indeks, breadth pasar, sektor, foreign flow, dan batas validasi harian
IHSG naik 1,04% ke 6.409,654 dan menutup perdagangan 7 Agustus 2026 tepat di level tertinggi harian. Net foreign buy All Market mencapai Rp1,24 triliun. Sumber: Indonesia Stock Exchange, Stockbit Sekuritas, dan RTI Business.

Penutupan di Puncak Menghapus Keraguan Utama Sesi Pertama

IHSG mengakhiri perdagangan di 6.409,654, naik 65,943 poin atau 1,04%. Indeks dibuka di 6.352,376, sempat turun ke 6.347,429, kemudian menguat hingga mencetak level tertinggi sekaligus harga penutupan di 6.409,654.

Posisi tersebut memperbaiki kondisi pada midday. Pada jeda siang, IHSG berada di 6.388,483 setelah sebelumnya sempat menyentuh 6.408,083. Saat itu indeks sudah turun sekitar 19,60 poin dari puncaknya.

Sesi kedua mengubah kondisi tersebut. IHSG menambah sekitar 21,17 poin dari posisi midday dan akhirnya melampaui puncak sesi pertama.

Nilai transaksi saham sepanjang hari mencapai Rp16,449 triliun dengan volume 36,880 miliar saham dan frekuensi sekitar 2,192 juta kali. Nilai transaksi tersebut masih sekitar 26% di bawah rata-rata harian YTD sebesar Rp22,256 triliun.

Harga akhirnya memberikan konfirmasi lebih kuat daripada pada jeda siang, tetapi aktivitas transaksi belum meningkat sekuat pergerakan indeks.

Breadth Tetap Positif, tetapi Penggerak Indeks Masih Terkonsentrasi

RTI Business mencatat 355 saham menguat, 235 melemah, dan 203 tidak berubah. Rasio saham naik terhadap saham turun meningkat menjadi sekitar 1,51 kali, dari sekitar 1,37 kali pada sesi pertama.

Sepuluh dari sebelas sektor juga berakhir positif. Infrastruktur memimpin dengan kenaikan 2,17%, diikuti Barang Baku 1,63%, Barang Konsumen Primer 1,25%, Teknologi 1,25%, Energi 1,22%, serta Properti dan Real Estat 1,16%.

Transportasi dan Logistik naik 0,37%, Industrial 0,34%, Keuangan 0,31%, dan Kesehatan 0,11%. Barang Konsumen Siklikal menjadi satu-satunya sektor yang turun, sebesar 0,69%.

LQ45 naik 1,50% dan IDX30 menguat 1,45%. Keduanya kembali mengungguli IHSG, menunjukkan saham likuid ikut berpartisipasi dalam penguatan.

Breadth positif tidak berarti kontribusi terhadap indeks tersebar merata.

Data BEI menunjukkan BBRI menjadi penopang terbesar dengan kontribusi sekitar 13,14 poin terhadap IHSG. DCII menyumbang 5,64 poin, TLKM 5,54 poin, kemudian AMMN 3,37 poin, sedangkan ISAT dan BMRI masing-masing menyumbang 3,27 poin.

Jika sepuluh penopang terbesar dijumlahkan, kontribusinya mencapai sekitar 45,76 poin. Angka itu setara sekitar 69,4% dari total kenaikan IHSG sebesar 65,943 poin.

Partisipasi pasar membaik, tetapi kontribusi terhadap IHSG tetap terkonsentrasi. Sekitar 69% kenaikan poin indeks berasal dari 10 penopang terbesar.

Net Buy Asing Bertambah Hampir Rp900 Miliar Setelah Jeda Siang

Perubahan paling besar pada sesi kedua terlihat pada arus dana asing.

BEI mencatat pembelian asing sekitar Rp5,681 triliun dan penjualan Rp4,446 triliun. Selisihnya menghasilkan net buy sekitar Rp1,23552 triliun di seluruh pasar.

Pada Pasar Reguler, Stockbit mencatat net buy sekitar Rp917,23 miliar. Sekitar Rp318,29 miliar sisanya berasal dari transaksi tunai dan negosiasi.

Dibanding posisi midday sebesar Rp343,13 miliar, net buy All Market bertambah sekitar Rp892,39 miliar setelah jeda siang.

Komposisinya juga berubah.

Pada midday, BBRI membukukan estimasi net buy Rp309,37 miliar. Posisi tersebut secara aritmetis setara sekitar 90,2% dari saldo net buy asing seluruh pasar.

Pada penutupan, estimasi net buy BBRI meningkat menjadi Rp506,88 miliar, tetapi saldo bersih asing agregat sudah mencapai Rp1,23552 triliun. Dengan perbandingan yang sama, posisi BBRI setara sekitar 41,0% dari saldo bersih pasar.

Rasio ini membandingkan posisi net buy BBRI dengan saldo net buy seluruh pasar, bukan dengan total pembelian bruto asing. Turunnya rasio dari sekitar 90% menjadi 41% menunjukkan bahwa tambahan net buy pada sesi kedua tidak lagi terkonsentrasi seberat sesi pertama pada BBRI, meski saham tersebut tetap menjadi penerima net buy terbesar.

10 Saham dengan Net Foreign Buy Terbesar

Saham Estimasi net foreign buy
BBRI Rp506,88 miliar
TPIA Rp275,85 miliar
ANTM Rp147,37 miliar
TINS Rp132,01 miliar
BRPT Rp120,51 miliar
ISAT Rp60,43 miliar
ICBP Rp43,09 miliar
DSSA Rp39,45 miliar
BREN Rp38,62 miliar
AMMN Rp32,20 miliar

Di sisi lain, tekanan jual asing terbesar tercatat pada BBCA dan BMRI. Arus dana pada saham perbankan besar masih bergerak dengan arah yang berbeda.

10 Saham dengan Net Foreign Sell Terbesar

Saham Estimasi net foreign sell
BBCA Rp93,08 miliar
BULL Rp69,35 miliar
BMRI Rp60,43 miliar
EMAS Rp36,22 miliar
UNTR Rp27,78 miliar
CPIN Rp27,26 miliar
BACH Rp26,92 miliar
ASII Rp26,69 miliar
KOTA Rp25,99 miliar
LPKR Rp23,83 miliar

Pesan utama foreign flow bukan sekadar bahwa asing mencatat net buy. Perubahan yang lebih penting adalah skala pembelian bersih yang meningkat tajam pada sesi kedua dan ketergantungannya yang tidak lagi seberat sesi pertama pada BBRI.

Validasi Harian Menguat, tetapi Belum Menjadi Perubahan Tren

Kombinasi penutupan di level tertinggi, breadth positif, penguatan 10 sektor, serta LQ45 dan IDX30 yang mengungguli IHSG memberi dasar lebih kuat untuk melihat perdagangan Jumat sebagai perbaikan kondisi pasar dibanding posisi pada jeda siang.

Konteks eksternal tidak sepenuhnya satu arah. Pada pukul 16.00 WIB, Shanghai Composite naik 1,02% dan Hang Seng 0,54%, sementara Nikkei turun 0,12%, KOSPI melemah 0,60%, dan VN-Index turun 0,66%.

Penguatan IHSG karena itu tidak cukup dijelaskan sebagai gerakan seragam bursa regional.

Konfirmasi Jumat juga masih memiliki batas. Nilai transaksi saham berada sekitar 26% di bawah rata-rata harian YTD. Barang Konsumen Siklikal masih melemah. Selain itu, sekitar 69% kenaikan poin IHSG berasal dari 10 saham penopang terbesar.

IHSG secara YTD masih turun 25,87% berdasarkan statistik BEI. Satu perdagangan positif belum cukup untuk mengubah konteks tersebut.

Senin Menguji Apakah Konfirmasi Jumat Berlanjut

Bukti berikutnya bukan sekadar apakah IHSG kembali hijau pada perdagangan selanjutnya.

Konfirmasi akan lebih kuat jika foreign flow tetap positif, breadth kembali menunjukkan lebih banyak saham naik daripada turun, LQ45 dan IDX30 mempertahankan kekuatan relatifnya, serta IHSG mampu bertahan di sekitar atau di atas area 6.400.

Sebaliknya, pembacaan Jumat mulai melemah jika indeks kehilangan area tersebut bersamaan dengan breadth yang berbalik negatif dan asing kembali mencatat net sell.

Jika tekanan meluas hingga menghapus sebagian besar kenaikan Jumat sementara ketiga indikator tersebut memburuk bersama, penutupan di level tertinggi 7 Agustus lebih tepat diperlakukan sebagai konfirmasi satu hari daripada awal perubahan tren.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes