IHSG Turun 0,75% ke 6.146: Rebound Belum Batal, Konfirmasi Melemah
IHSG gagal mempertahankan penguatan awal pada 7 Oktober 2026 dan ditutup dekat titik terendah harian. Tekanan yang terlihat pada sesi pertama tidak membaik sampai penutupan: breadth tetap negatif, 10 dari 11 sektor melemah, dan net foreign sell bertambah menjadi Rp871,36 miliar. Low 6 Oktober masih bertahan dan LQ45 serta IDX30 turun lebih ringan, sehingga rebound belum terinvalidasi, tetapi belum mendapat konfirmasi lanjutan.
IHSG menutup perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026 di 6.146,724, turun 46,203 poin atau 0,75%. Indeks sempat naik hingga 6.214,764 pada awal perdagangan, lalu berbalik turun hingga 6.136,191 dan ditutup hanya sekitar 10,5 poin di atas low harian.
Dibanding Midday, tekanan justru bertambah menjelang EOD. Net foreign sell meningkat sekitar Rp208 miliar dan indeks tetap berakhir dekat bagian bawah rentang perdagangan. Rebound 6 Oktober dengan demikian belum memperoleh follow-through yang meyakinkan.
Penguatan Pagi Hilang, IHSG Ditutup Dekat Low
Pada awal sesi, IHSG kembali berada di atas penutupan hari sebelumnya. Indeks dibuka di 6.210,416 dan mencapai 6.214,764, tetapi penguatan itu tidak bertahan sampai penutupan. Pada akhir sesi, IHSG berada sekitar 68 poin di bawah high harian.
Penutupan tersebut memperlemah konfirmasi rebound sehari sebelumnya. Belum ada breakdown penuh karena low 6 Oktober sekitar 6.120 masih bertahan.
Kelompok saham likuid juga relatif lebih tahan. LQ45 turun 0,40% dan IDX30 turun 0,42%, dibanding IHSG yang melemah 0,75%.
Perbedaan tersebut penting. Pelemahan memang meluas, tetapi belum terjadi dengan intensitas yang sama pada kelompok saham paling likuid.
Breadth dan Sektor Menunjukkan Tekanan yang Lebih Luas
Statistik Bursa Efek Indonesia menunjukkan 390 saham turun, 280 naik, dan 293 tidak berubah. Dari kelompok yang melemah, 154 saham turun lebih dari 2%.
Tekanan juga terlihat hampir di seluruh sektor. Energy turun 1,56%, Consumer Cyclicals 1,21%, Basic Materials 1,15%, dan Industrials 1,11%. Dari 11 sektor IDX, hanya Financials yang bertahan positif dengan kenaikan tipis 0,02%.
BYAN menjadi penekan terbesar IHSG dengan kontribusi sekitar minus 14,74 poin. BBCA menyumbang sekitar minus 4,55 poin, DSSA minus 3,33 poin, BRPT minus 2,92 poin, dan BREN minus 2,72 poin. BBRI dan TLKM membantu menahan penurunan dengan kontribusi sekitar 4,42 dan 2,76 poin.
Koreksi 7 Oktober karena itu tidak hanya berasal dari satu saham besar. Breadth dan sebaran sektor menunjukkan pelemahan yang lebih luas, meski beberapa big caps masih menahan penurunan indeks.
Tekanan Asing Bertambah pada Sesi II
Investor asing mencatat net sell Rp871,36 miliar di seluruh pasar pada akhir perdagangan. Sekitar Rp828,65 miliar berasal dari pasar reguler.
Pada Midday, net foreign sell masih sekitar Rp663,34 miliar. Artinya, tekanan asing bertambah sekitar Rp208 miliar hingga EOD. Sesi II belum menghasilkan perubahan arah pada arus dana asing.
Top 10 Foreign Flow Pasar Reguler
| No. | Net Foreign Buy | Net Foreign Sell |
|---|---|---|
| 1 | BBRI +Rp129,58 miliar | BBCA -Rp299,69 miliar |
| 2 | ULTJ +Rp25,92 miliar | GOTO -Rp147,37 miliar |
| 3 | TLKM +Rp22,26 miliar | BUMI -Rp41,48 miliar |
| 4 | FORU +Rp13,36 miliar | BRIS -Rp30,74 miliar |
| 5 | BRMS +Rp12,70 miliar | TPIA -Rp28,08 miliar |
| 6 | DSSA +Rp11,71 miliar | ANTM -Rp27,67 miliar |
| 7 | MMIX +Rp8,09 miliar | DEWA -Rp27,64 miliar |
| 8 | MEDC +Rp7,02 miliar | UNTR -Rp27,39 miliar |
| 9 | SRSN +Rp6,68 miliar | AMMN -Rp26,28 miliar |
| 10 | INDF +Rp6,15 miliar | TINS -Rp22,35 miliar |
Sumber: Stockbit, Regular Market, 7 Oktober 2026. Ranking pasar reguler berbeda dari angka net foreign flow All Market karena transaksi di pasar non-reguler juga masuk dalam perhitungan All Market.
Distribusinya menunjukkan arus beli asing masih selektif. BBRI menerima net foreign buy yang jauh lebih besar daripada nama lain di sisi beli, sedangkan tekanan jual terkonsentrasi terutama pada BBCA dan GOTO.
Pola tersebut belum menunjukkan kembalinya dukungan asing secara luas. Namun arus dana juga tidak bergerak seragam pada seluruh big caps, sehingga pergerakan antar-saham tetap berbeda.
Turnover Rp36,2 Triliun Didominasi Pasar Negosiasi
Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp36,19 triliun. Angka tersebut terlihat besar, tetapi komposisinya penting.
Nilai transaksi pasar reguler hanya sekitar Rp8,72 triliun, sedangkan sekitar Rp27,48 triliun terjadi di pasar negosiasi. Dengan kata lain, sekitar tiga perempat nilai perdagangan saham hari itu tidak berasal dari transaksi reguler.
BYAN sendiri mencatat nilai transaksi sekitar Rp26,19 triliun atau 72,35% dari total nilai perdagangan saham.
Karena itu, turnover Rp36 triliun tidak tepat dibaca sebagai lonjakan partisipasi atau risk appetite di pasar reguler. Untuk menilai aktivitas perdagangan harian, nilai transaksi reguler memberikan konteks yang lebih relevan.
Pelemahan Saham Belum Diikuti Tekanan Seragam pada Rupiah dan SUN
JISDOR 7 Oktober berada di Rp17.880 per dolar AS, dibanding Rp17.910 sehari sebelumnya. Snapshot USD/IDR di pasar berada sekitar Rp17.898. Perbedaan tersebut mencerminkan waktu dan metode observasi yang berbeda, sehingga tidak perlu diperlakukan sebagai data yang saling bertentangan.
Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,168%.
Data tersebut belum menunjukkan tekanan lintas aset domestik yang seragam. Pelemahan 7 Oktober lebih jelas terlihat pada internal pasar saham dan foreign flow dibanding pada rupiah atau obligasi pemerintah.
6.120 Masih Bertahan, tetapi Bukan Satu-Satunya Bukti
Area sekitar 6.120 tetap menjadi referensi harga terdekat karena menjadi low rebound 6 Oktober. Bertahannya level ini membuat struktur harga belum masuk kategori breakdown.
Namun harga tidak cukup dibaca sendirian. Jika 6.120 tetap bertahan tetapi jumlah saham turun terus mendominasi dan net sell asing berlanjut, rebound masih berada dalam fase pengujian, bukan konfirmasi.
Risiko berubah lebih serius jika IHSG menembus low tersebut bersamaan dengan pelemahan LQ45 dan IDX30, breadth yang kembali memburuk, serta arus asing yang tetap negatif. Kombinasi itu akan memberi bukti yang lebih kuat bahwa tekanan sudah bergerak dari kegagalan follow-through menuju breakdown yang lebih luas.
Untuk perdagangan berikutnya, ukuran yang lebih penting bukan sekadar apakah IHSG ditutup hijau atau merah. Yang perlu dilihat adalah apakah harga, breadth, dan foreign flow mulai memberikan pesan yang sama.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.