Banyu Capital

IHSG Tutup di 6.031 Setelah Tembus 6.120, 518 Saham Melemah

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG gagal mempertahankan batas bawah rebound 6 Oktober dan berakhir tepat di titik terendah harian. Pelemahan meluas pada saham dan kapitalisasi pasar, sementara BBRI, AMMN, dan BMRI menjadi penekan utama indeks. Jual bersih asing tetap besar, tetapi tidak meningkat secara seragam.

IHSG menutup perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, di 6.031,284, turun 115,440 poin atau 1,88%. Penurunan ini mengonfirmasi kegagalan mempertahankan level 6.120,24, yang sebelumnya menjadi titik terendah rebound 6 Oktober.

Pada akhir sesi pertama, IHSG masih berada di 6.097,40. Tekanan berlanjut sepanjang sesi kedua hingga indeks ditutup tepat di titik terendah perdagangan hari itu.

Pelemahan tidak hanya berasal dari beberapa saham besar. Sebanyak 518 saham turun dan sembilan dari sebelas sektor berakhir negatif. Kelompok saham yang melemah juga mewakili sekitar 74% kapitalisasi pasar tercatat.

BBRI, AMMN, dan BMRI memberikan kontribusi negatif terbesar terhadap IHSG. Investor asing masih mencatat jual bersih yang besar, meskipun perubahan nilainya berbeda antara pasar reguler dan seluruh pasar.

Dashboard Market Notes EOD BEI 8 Oktober 2026 menampilkan IHSG ditutup di 6.031,28, sebanyak 518 saham melemah, dan jual bersih asing All Market Rp859,25 miliar
Dashboard Market Notes EOD, 8 Oktober 2026. IHSG turun 1,88% ke 6.031,28 dan ditutup pada titik terendah harian. Sebanyak 518 saham melemah, sembilan sektor negatif, dan investor asing mencatat jual bersih All Market Rp859,25 miliar menurut BEI. Sumber: Bursa Efek Indonesia dan Stockbit Sekuritas.

Penutupan di 6.031 Mengakhiri Pertahanan Batas Rebound 6 Oktober

IHSG sempat mencapai 6.179,092 pada awal perdagangan. Penguatan itu tidak bertahan. Indeks kemudian bergerak semakin rendah dan ditutup di 6.031,284, sama dengan titik terendah hariannya.

Pergerakan ini mengubah pembacaan terhadap rebound awal pekan.

Pada 6 Oktober, IHSG sempat turun ke 6.120,24 sebelum pulih dan ditutup di 6.192,93. Sehari kemudian, indeks terkoreksi ke 6.146,72, tetapi titik terendah rebound tersebut masih bertahan.

Pada 8 Oktober, batas 6.120 akhirnya ditembus dan tidak berhasil dipulihkan sampai penutupan.

Penembusan ini menunjukkan bahwa rebound 6 Oktober kehilangan batas harga terdekat yang sebelumnya masih bertahan. Namun, IHSG belum membuat titik terendah baru untuk seluruh Oktober.

Area 5.973–5.980 yang terbentuk pada 1–2 Oktober masih berada di bawah penutupan terbaru. Risiko pengujian ulang area tersebut meningkat jika pelemahan berlanjut, tetapi belum ada bukti bahwa pengujian itu pasti terjadi.

518 Saham Turun, Tekanan Meluas ke Kapitalisasi Besar

Statistik Bursa Efek Indonesia menunjukkan 518 saham melemah, 187 menguat, dan 258 tidak berubah pada 8 Oktober.

Sehari sebelumnya, 390 saham turun dan 280 saham naik. Bertambahnya jumlah saham yang melemah menunjukkan penurunan indeks kini disertai kondisi pasar yang lebih lemah secara internal.

Distribusi berdasarkan kapitalisasi pasar memperkuat gambaran tersebut.

Sekitar 74% kapitalisasi pasar tercatat berasal dari kelompok saham yang mengalami penurunan harga. Sebanyak 43% berada pada kelompok saham yang turun lebih dari 2%, sedangkan 31% berasal dari kelompok yang turun hingga 2%.

Angka itu menunjukkan besarnya kapitalisasi saham yang terdampak penurunan harga, bukan kehilangan 74% nilai kapitalisasi pasar.

Tekanan juga terlihat pada sembilan dari sebelas sektor BEI. Perindustrian turun 2,86%, energi 2,77%, infrastruktur 2,54%, dan konsumer siklikal 2,09%. Sektor barang baku melemah 2,04%, sedangkan keuangan turun 1,22%.

Dua sektor masih bertahan positif, yakni kesehatan yang naik 0,70% serta transportasi dan logistik yang menguat 0,61%.

Jumlah sektor negatif berkurang dari sepuluh pada 7 Oktober menjadi sembilan pada 8 Oktober. Pada saat yang sama, jumlah saham individual yang turun justru bertambah.

Ini menunjukkan bahwa perbaikan pada sebagian sektor belum cukup untuk mengimbangi pelemahan yang lebih luas pada tingkat saham.

Indeks likuid juga bergerak berbeda. LQ45 turun 1,99%, sedikit lebih dalam daripada IHSG, sedangkan IDX30 melemah 1,66%.

Aktivitas perdagangan reguler meningkat di tengah penurunan tersebut. Nilai transaksi saham pasar reguler mencapai sekitar Rp11,31 triliun, dibanding sekitar Rp8,72 triliun pada 7 Oktober.

Total transaksi saham, termasuk pasar negosiasi dan tunai, mencapai Rp12,71 triliun.

Nilai agregat ini lebih kecil daripada sekitar Rp36,19 triliun pada 7 Oktober. Namun, perdagangan hari sebelumnya didominasi transaksi negosiasi sekitar Rp27,48 triliun.

Karena itu, penurunan nilai transaksi agregat tidak mencerminkan penurunan aktivitas di pasar reguler. Justru lebih banyak nilai perdagangan reguler terjadi ketika IHSG melemah lebih dalam.

BBRI Berbalik dari Penahan Menjadi Penekan Terbesar IHSG

Saham berkapitalisasi besar memberikan kontribusi penting terhadap penurunan indeks.

BBRI menjadi penekan terbesar dengan kontribusi negatif sekitar 16,20 poin terhadap IHSG setelah harga sahamnya turun 3,50%.

AMMN mengurangi indeks sekitar 11,04 poin dengan penurunan harga 6,40%, sedangkan BMRI memberikan kontribusi negatif 7,97 poin setelah melemah 2,44%.

Tekanan berikutnya berasal dari BREN sebesar 7,38 poin, BRMS 5,00 poin, TLKM 4,61 poin, dan BBCA 4,55 poin.

Perubahan BBRI menjadi salah satu perkembangan yang paling jelas dibanding perdagangan sebelumnya.

Pada 7 Oktober, BBRI masih membantu menahan penurunan IHSG dengan kontribusi positif sekitar 4,42 poin. Saham tersebut juga mencatat pembelian bersih asing di pasar reguler sekitar Rp129,58 miliar.

Sehari kemudian, BBRI menjadi penekan terbesar IHSG sekaligus mencatat jual bersih asing reguler sekitar Rp207,29 miliar.

BMRI mengalami tekanan serupa, dengan jual bersih asing reguler sekitar Rp190,63 miliar.

Perubahan harga dan arus transaksi pada kedua bank tersebut memberi bukti konkret mengenai pergeseran kondisi sejumlah saham utama indeks.

Meski begitu, tidak semua saham besar melemah. AMRT, KLBF, dan ASII masih memberikan kontribusi positif terhadap IHSG. Dukungan tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari saham-saham utama yang turun.

Jual Bersih Asing Tetap Besar, tetapi Tidak Melonjak Seragam

Investor asing kembali mencatat jual bersih pada 8 Oktober.

Statistik resmi BEI menunjukkan net foreign sell seluruh pasar sebesar Rp859,25 miliar.

Untuk perbandingan antarhari dengan penyedia yang sama, data RTI Business menunjukkan jual bersih All Market sekitar Rp871,36 miliar pada 7 Oktober dan Rp867,27 miliar pada 8 Oktober. Artinya, tekanan jual bersih agregat sedikit mengecil.

Di pasar reguler, arah perubahannya berbeda.

Data Stockbit mencatat jual bersih asing sekitar Rp848,28 miliar pada 8 Oktober, meningkat dari sekitar Rp828,65 miliar pada perdagangan sebelumnya.

Dengan demikian, pasar reguler mengalami tambahan jual bersih terbatas, sementara nilai agregat seluruh pasar sedikit mengecil menurut RTI.

Perbedaan angka All Market BEI dan RTI pada 8 Oktober juga perlu dipisahkan. Angka resmi BEI digunakan untuk statistik utama, sementara RTI digunakan untuk perbandingan antarhari yang konsisten.

Sepuluh Saham dengan Arus Asing Terbesar

Berikut transaksi bersih asing pasar reguler pada 8 Oktober 2026.

No. Net Foreign Buy Rp miliar Net Foreign Sell Rp miliar
1 ULTJ 42,0 BBRI 207,3
2 ASII 28,0 BMRI 190,6
3 DSSA 16,2 AMMN 64,0
4 MEDC 15,5 ANTM 55,9
5 EMAS 15,2 TLKM 51,3
6 TINS 10,5 UNTR 48,9
7 GOTO 10,4 BUMI 45,3
8 MDKA 10,0 TPIA 44,2
9 INDF 9,8 BBNI 38,5
10 INET 7,7 BRPT 26,9

Sumber: Stockbit Sekuritas, Foreign Regular Market, 8 Oktober 2026. Angka dibulatkan.

Pembelian bersih asing masih terlihat pada ULTJ, ASII, DSSA, dan MEDC. Namun, nilainya relatif kecil dibanding penjualan bersih pada BBRI dan BMRI.

Distribusi transaksi tersebut menunjukkan bahwa arus dana asing tidak bergerak seragam. Besarnya jual bersih agregat juga tidak dapat digunakan sebagai ukuran langsung kontribusi terhadap penurunan IHSG.

Perubahan indeks tetap bergantung pada harga saham dan bobot masing-masing emiten, termasuk respons transaksi investor domestik.

Bursa Regional Melemah, Rupiah Bergerak Lebih Terbatas

Penurunan IHSG terjadi bersamaan dengan melemahnya sejumlah bursa Asia.

Berdasarkan perbandingan BEI yang dikumpulkan pada pukul 16.00 WIB, KOSPI Korea Selatan turun 2,62%, Hang Seng Hong Kong melemah 1,43%, Nikkei Jepang terkoreksi 1,42%, dan Shanghai Composite berkurang 0,79%.

Pelemahan regional memberikan konteks bahwa tekanan saham tidak hanya terjadi di Indonesia. Namun, kesamaan arah indeks belum membuktikan bahwa seluruh penurunan dipicu faktor yang sama.

Di pasar valuta asing, JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.890 per dolar AS pada 8 Oktober, dibanding Rp17.880 sehari sebelumnya.

Rupiah melemah Rp10 per dolar berdasarkan referensi tersebut. Perubahannya relatif terbatas, meskipun kondisi pasar valuta asing dan pasar saham tidak dapat dinilai menggunakan ukuran yang sepenuhnya sama.

Bukti tekanan paling jelas pada perdagangan 8 Oktober tetap berasal dari saham: penutupan di titik terendah, bertambahnya emiten yang melemah, dan besarnya kontribusi negatif sejumlah saham utama.

Bukti Berikutnya Ada pada Harga, Partisipasi, dan Arus Asing

Penutupan 8 Oktober menempatkan pasar pada posisi yang lebih lemah dibanding dua hari perdagangan sebelumnya. Namun, keberlanjutan tekanan masih membutuhkan konfirmasi dari pergerakan berikutnya.

Referensi pertama adalah area penutupan 6.031. Jika IHSG kembali bergerak lebih rendah, perhatian akan tertuju pada area terendah awal Oktober di sekitar 5.973–5.980. Area tersebut merupakan referensi historis, bukan target penurunan.

Sebaliknya, pemulihan menuju 6.120 dapat menjadi tanda awal berkurangnya tekanan harga. Namun, satu kenaikan indeks belum cukup untuk menunjukkan bahwa kondisi pasar sudah pulih.

Bukti kedua berasal dari partisipasi saham. Pemulihan yang lebih sehat memerlukan bertambahnya saham menguat, meluasnya sektor positif, dan berkurangnya tekanan pada LQ45 serta IDX30.

Bukti ketiga adalah arus asing, terutama pada saham yang memiliki kontribusi besar terhadap IHSG. Setelah BBRI dan BMRI menjadi pusat tekanan, perubahan transaksi pada kedua saham tersebut layak dicermati bersama kinerja saham besar lainnya.

Risiko pelemahan lanjutan tetap terbuka jika indeks kembali turun, mayoritas saham masih melemah, dan jual bersih asing pada saham utama berlanjut.

Sebaliknya, pemulihan 6.120 yang disertai perbaikan partisipasi pasar dan berkurangnya tekanan asing akan melemahkan pembacaan negatif jangka pendek.

Penembusan batas rebound 6 Oktober sudah terkonfirmasi pada penutupan 8 Oktober. Yang belum terjawab adalah apakah tekanan tersebut akan berlanjut hingga menguji titik terendah awal bulan, atau mulai mereda melalui perbaikan yang lebih luas pada harga dan arus dana.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes