Banyu Capital

IHSG Turun ke 6.097 dan Tembus 6.120, Jual Bersih Asing Justru Mengecil

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG melemah 0,80% pada sesi I dan menembus titik terendah 6 Oktober. Sebanyak 440 saham turun, tetapi jual bersih asing lebih kecil dibanding sesi I sebelumnya. Penutupan hari ini akan menjadi ujian berikutnya bagi kekuatan tekanan jual.

Dashboard Market Notes Midday BEI 8 Oktober 2026: IHSG turun 0,80% ke 6.097,40 dan menembus 6.120,24 secara intraday, 440 saham melemah, sementara jual bersih asing mengecil menjadi Rp194,24 miliar.
IHSG turun ke 6.097,40 pada akhir sesi I, 8 Oktober 2026, dan menembus level 6.120,24 secara intraday. Sebanyak 440 saham melemah dan sembilan dari sebelas sektor berada di zona negatif. Namun, jual bersih asing tercatat Rp194,24 miliar, lebih kecil dibanding Rp663,34 miliar pada sesi I sebelumnya. Sumber: RTI Business dan Stockbit Sekuritas.

Penurunan IHSG pada Kamis, 8 Oktober 2026, membawa pasar ke bawah level yang masih bertahan sehari sebelumnya. Indeks berada di 6.097,40 pada akhir sesi I, turun 49,32 poin atau 0,80% dari penutupan Rabu.

Level 6.120,24, yang menjadi titik terendah perdagangan 6 Oktober, telah ditembus. Jumlah saham yang melemah juga meningkat dibanding sesi I sehari sebelumnya.

Akan tetapi, arus dana asing menunjukkan perkembangan berbeda. Investor asing masih mencatatkan jual bersih, tetapi nilainya turun dari Rp663,34 miliar menjadi Rp194,24 miliar dalam perbandingan sesi I.

Tekanan harga memburuk tanpa diikuti peningkatan jual bersih asing. Penembusan 6.120 pada sesi I memperlemah pijakan pemulihan jangka pendek, tetapi masih memerlukan konfirmasi saat perdagangan ditutup.

Kenaikan Awal Sesi Gagal Bertahan, IHSG Berakhir Dekat Titik Terendah

IHSG sempat bergerak positif setelah dibuka pada 6.154,97. Indeks kemudian mencapai posisi tertinggi 6.179,09 sebelum berbalik turun.

Tekanan berlanjut hingga IHSG menyentuh 6.088,89. Pada akhir sesi I, indeks berada di 6.097,40, hanya sekitar 8,52 poin dari titik terendah sesi.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pembelian pada awal perdagangan belum cukup untuk mempertahankan kenaikan. Setelah sempat menguat, indeks kembali berada di bawah tekanan.

Menurut RTI Business, nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp7,06 triliun, dengan volume 43,80 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,13 juta transaksi.

Perubahan yang paling penting bukan hanya penurunan 0,80%, melainkan posisi IHSG terhadap 6.120,24. Pada 7 Oktober, level terendah 6 Oktober tersebut masih bertahan. Kini indeks telah bergerak di bawahnya.

Level itu menjadi referensi untuk menguji daya tahan pemulihan jangka pendek, bukan batas pasti perubahan tren. Jika IHSG kembali ke atas 6.120,24 sebelum penutupan, penembusan sesi I dapat kehilangan sebagian maknanya. Sebaliknya, penutupan di bawah level tersebut akan menambah bukti bahwa tekanan belum mereda.

Saham yang Melemah Bertambah, tetapi Tekanan Tidak Merata di Semua Indikator

Pelemahan IHSG disertai tekanan pada sebagian besar saham. RTI Business mencatat 440 saham turun, 200 saham naik, dan 142 saham tidak berubah.

Pada sesi I 7 Oktober, jumlah saham melemah tercatat 345. Artinya, saham yang berada di zona negatif bertambah 95 dalam perbandingan sesi yang sama.

Tekanan juga terlihat pada sektor teknologi yang turun 1,82%, energi melemah 1,73%, dan infrastruktur terkoreksi 1,50%.

Secara keseluruhan, sembilan dari sebelas sektor berada di zona negatif. Dua sektor masih menguat, yakni transportasi sebesar 0,46% dan barang konsumen siklikal sebesar 0,08%.

Perbandingan dengan sesi I sehari sebelumnya memperlihatkan perbedaan yang penting. Pada 7 Oktober, sepuluh sektor melemah. Hari ini, jumlah sektor negatif berkurang menjadi sembilan, meskipun jumlah saham yang turun justru bertambah.

Indeks saham besar juga tidak melemah dengan intensitas yang sama. LQ45 turun 0,62%, sedangkan IDX30 melemah 0,33%, keduanya lebih ringan daripada IHSG.

Lebih banyak saham mengalami penurunan, tetapi tekanan terhadap indeks saham besar relatif lebih ringan. Kondisi tersebut menunjukkan pelemahan yang luas, bukan tekanan yang sama beratnya pada setiap kelompok saham.

Jual Bersih Asing Turun Rp469 Miliar, Meski IHSG Lebih Lemah

Investor asing masih menjadi penjual bersih pada sesi I. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, pembelian asing mencapai sekitar Rp1,53 triliun, sedangkan penjualannya sekitar Rp1,73 triliun.

Hasilnya adalah net foreign sell Rp194,24 miliar untuk transaksi seluruh pasar (all market).

Angka tersebut jauh lebih kecil daripada jual bersih Rp663,34 miliar pada sesi I 7 Oktober. Selisihnya mencapai sekitar Rp469,10 miliar.

Ini merupakan perbandingan sesi I dengan sesi I. Angka tersebut tidak dicampur dengan jual bersih asing pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Arus dana asing juga berbeda antar-saham. Berdasarkan estimasi nilai transaksi bersih dari Stockbit Sekuritas, BBCA mencatat pembelian bersih sekitar Rp48,78 miliar, ASII Rp44,42 miliar, dan GOTO Rp43,53 miliar.

Sebaliknya, BMRI mencatat estimasi penjualan bersih Rp37,64 miliar, BUMI Rp35,85 miliar, dan ANTM Rp34,49 miliar.

Nilai per saham tersebut dihitung menggunakan harga rata-rata sesi I dan volume bersih transaksi asing. Karena itu, angka tersebut merupakan estimasi, bukan penjumlahan nilai setiap transaksi pada harga eksekusinya.

Pergerakan BBCA dan BMRI yang berbeda menunjukkan bahwa transaksi asing bahkan tidak seragam di antara saham perbankan besar.

Jual bersih asing memang mengecil, tetapi investor asing secara agregat masih menjadi penjual bersih. Pelemahan IHSG pada saat yang sama menunjukkan bahwa berkurangnya jual bersih belum cukup untuk membalikkan tekanan harga.

Rupiah dan Pasar Global Menambah Konteks Kehati-hatian

Tekanan pada saham Indonesia berlangsung ketika sejumlah indikator eksternal juga bergerak kurang mendukung.

Dalam tampilan pasar Stockbit, USD/IDR berada di sekitar Rp17.905 per dolar AS, naik 0,25%. Kenaikan pasangan kurs tersebut mencerminkan pelemahan rupiah terhadap dolar.

Sejumlah indeks regional, termasuk Nikkei 225 dan Hang Seng, juga tercatat melemah pada snapshot pasar yang tersedia.

Sementara itu, minyak Brent naik 2,21% ke sekitar US$102,41 per barel. Penguatan minyak tidak diikuti sektor energi BEI, yang justru turun 1,73%.

Perbedaan ini memperlihatkan bahwa pergerakan harga komoditas dan saham sektornya tidak selalu searah dalam jangka pendek. Penilaian investor terhadap risiko pasar dan prospek masing-masing emiten juga memengaruhi harga saham.

Data tersebut memberikan konteks eksternal, bukan bukti hubungan sebab-akibat langsung dengan penurunan IHSG.

Konfirmasi tekanan lintas aset juga masih terbatas. Data imbal hasil SUN tenor 10 tahun yang sebanding dengan pengamatan sesi I ini belum tersedia, sehingga belum dapat dipastikan apakah pasar obligasi pemerintah mengalami tekanan yang searah dengan saham dan rupiah.

Penutupan di Bawah 6.120 Akan Memperkuat Bukti Tekanan

Hasil sesi I menempatkan IHSG pada posisi yang lebih lemah daripada penutupan 7 Oktober. Namun, arah sesi II masih dapat mengubah pembacaan pasar.

Tiga indikator perlu diperhatikan.

Pertama, posisi IHSG terhadap 6.120,24. Penutupan di bawah area ini akan memperkuat bukti bahwa pemulihan dari titik terendah 6 Oktober sedang kehilangan pijakan. Jika IHSG kembali melampauinya, penembusan sesi I perlu diperlakukan lebih hati-hati.

Kedua, jumlah saham yang melemah. Dominasi 440 saham turun menunjukkan tekanan yang luas. Pemulihan indeks akan lebih meyakinkan apabila disertai bertambahnya saham yang menguat, bukan hanya kenaikan beberapa saham besar.

Ketiga, arah transaksi asing pada sesi II. Jual bersih Rp194,24 miliar masih dapat bertambah atau berkurang hingga penutupan. Perubahan tersebut perlu diperiksa bersama pergerakan harga dan keluasan pasar.

Jika IHSG tetap di bawah 6.120,24, mayoritas saham terus melemah, dan jual bersih asing kembali membesar, bukti tekanan pasar akan semakin kuat.

Sebaliknya, pemulihan di atas 6.120,24 dengan keluasan pasar yang membaik akan melemahkan pembacaan negatif dari sesi I.

Penutupan di bawah 6.120,24, terutama jika disertai dominasi saham melemah, akan memberikan konfirmasi tambahan bahwa tekanan belum selesai. Pemulihan di atas level tersebut dengan partisipasi saham yang membaik akan menjadi bukti tandingnya.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes