IHSG Pulih ke 6.093,76, Jual Bersih Asing Reguler Menyusut 83%
407 saham menguat dan sekitar 67% kapitalisasi pasar berada pada kelompok saham yang naik. Namun, nilai perdagangan reguler mengecil dan IHSG belum kembali ke area 6.120.
IHSG menutup perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, di 6.093,759, menguat 62,475 poin atau 1,04%. Indeks sempat turun ke 5.995,821 pada awal perdagangan sebelum berbalik dan berakhir mendekati titik tertinggi hariannya.
Kenaikan itu disertai perbaikan partisipasi pasar. Sebanyak 407 saham menguat, sepuluh sektor berakhir positif, dan kelompok saham likuid mencatat kenaikan lebih tinggi daripada IHSG. Jual bersih asing di pasar reguler juga menyusut sekitar 83% dibanding sehari sebelumnya.
Perubahan ini membalik sebagian tekanan pada perdagangan Kamis. Akan tetapi, IHSG masih berada di bawah 6.120,24, titik terendah rebound 6 Oktober yang telah ditembus sehari sebelumnya. Nilai transaksi reguler pun lebih kecil.
Harga dan partisipasi sudah membaik. Ketahanan pemulihan tersebut masih harus dibuktikan pada perdagangan berikutnya.
IHSG Kembali dari Bawah 6.000, tetapi Belum Merebut 6.120
Perdagangan Jumat dimulai setelah IHSG kehilangan 115,440 poin atau 1,88% pada Kamis, ketika indeks ditutup di 6.031,284, tepat pada titik terendah hariannya.
Tekanan sempat berlanjut pada awal Jumat. IHSG dibuka di sekitar 6.039 dan turun hingga 5.995,821, sebelum pembeli membawa indeks kembali ke atas 6.000.
Pemulihan berlanjut sepanjang perdagangan. Indeks mencapai 6.100,577 pada sore hari dan berakhir di 6.093,759.
Dari titik terendahnya, IHSG pulih 97,938 poin. Posisi penutupan hanya 6,818 poin di bawah titik tertinggi harian, atau berada pada sekitar 93,5% rentang perdagangan dari titik terendah menuju tertinggi.
Perubahan dibanding Kamis cukup jelas. Sehari sebelumnya, IHSG terus melemah hingga penutupan. Pada Jumat, penguatan bertahan sampai akhir sesi.
Namun, level 6.120,24 belum berhasil direbut kembali. Bahkan titik tertinggi Jumat masih sekitar 19,66 poin di bawah area tersebut.
Pasar telah memulihkan sebagian tekanan Kamis, tetapi belum mengembalikan posisi harga yang menjadi pijakan rebound 6 Oktober.
Penguatan Meluas, Sekitar 67% Kapitalisasi Pasar Berada pada Saham yang Naik
Statistik Bursa Efek Indonesia mencatat 407 saham naik, 245 turun, dan 311 tidak berubah pada 9 Oktober. Sehari sebelumnya, hanya 187 saham menguat, sementara 518 saham melemah.
Perubahan yang lebih besar terlihat pada distribusi kapitalisasi pasar.
Pada 8 Oktober, sekitar 74% kapitalisasi pasar tercatat berada pada kelompok saham yang mengalami penurunan harga. Pada 9 Oktober, kondisinya berbalik. Sekitar 67% kapitalisasi pasar berada pada saham yang menguat, sedangkan kelompok yang melemah mewakili sekitar 15%.
Angka tersebut menggambarkan distribusi kapitalisasi berdasarkan perubahan harga saham, bukan besarnya kenaikan atau penurunan kapitalisasi pasar secara keseluruhan.
Penguatan juga tersebar ke hampir seluruh sektor. Barang baku naik 1,67%, perindustrian 1,51%, infrastruktur 1,15%, transportasi dan logistik 1,08%, serta konsumer non-siklikal 1,02%. Hanya properti yang berakhir negatif, turun 0,16%.
Kelompok saham likuid ikut menopang indeks. LQ45 menguat 1,35% dan IDX30 naik 1,27%, keduanya melampaui IHSG yang bertambah 1,04%.
Nilai transaksi reguler justru tidak mengikuti kenaikan harga.
BEI mencatat perdagangan saham pasar reguler sebesar Rp8,576 triliun pada Jumat, turun sekitar 24,2% dibanding Rp11,31 triliun pada Kamis. Total perdagangan saham di seluruh papan mencapai Rp9,927 triliun.
Jadi, lebih banyak saham dan sektor menguat ketika nilai transaksi reguler justru mengecil. Kondisi ini tidak otomatis menjadikan pemulihan lemah, tetapi belum memberikan bukti adanya peningkatan nilai aktivitas perdagangan yang menyertai kenaikan indeks.
Jual Bersih Asing Menyusut 83%, Tekanan Belum Sepenuhnya Hilang
Aliran dana asing turut membaik dibanding perdagangan Kamis.
Data Stockbit menunjukkan jual bersih asing pasar reguler turun dari Rp848,28 miliar pada 8 Oktober menjadi Rp141,50 miliar pada 9 Oktober. Tekanannya berkurang sekitar Rp706,78 miliar, atau 83,3%.
Pada seluruh pasar, perubahan terlihat lebih besar. Statistik resmi BEI mencatat posisi asing berbalik dari jual bersih Rp859,25 miliar pada Kamis menjadi pembelian bersih Rp30,40 miliar pada Jumat.
Dua angka tersebut mengukur cakupan yang berbeda.
Menurut RTI Business, transaksi di pasar negosiasi dan tunai menghasilkan pembelian bersih asing sekitar Rp171,13 miliar. Nilai ini lebih besar daripada jual bersih Rp141,50 miliar di pasar reguler, sehingga posisi agregat asing menurut RTI menjadi positif Rp29,63 miliar, sedikit berbeda dari angka resmi BEI.
Dengan demikian, tekanan asing di pasar reguler memang jauh berkurang, tetapi belum berbalik menjadi pembelian bersih. Posisi positif All Market juga belum membuktikan pembelian asing telah kembali merata.
Saham dengan Pembelian dan Penjualan Bersih Asing Terbesar
| No. | Net Foreign Buy | Rp miliar | Net Foreign Sell | Rp miliar |
|---|---|---|---|---|
| 1 | ENRG | 34,88 | GOTO | 154,63 |
| 2 | EMAS | 17,33 | BBRI | 80,01 |
| 3 | ARCI | 15,96 | TLKM | 46,49 |
| 4 | ICBP | 14,25 | PACK | 23,13 |
| 5 | PTRO | 13,15 | AADI | 20,13 |
| 6 | TPIA | 12,92 | BBNI | 14,79 |
| 7 | SINI | 12,75 | ASII | 14,43 |
| 8 | ERAA | 12,61 | ITMG | 13,97 |
| 9 | GGRM | 12,28 | HRTA | 12,27 |
| 10 | DSSA | 10,16 | INCO | 11,16 |
Sumber: Stockbit Sekuritas, Foreign Regular Market, 9 Oktober 2026.
GOTO mencatat jual bersih asing sekitar Rp154,63 miliar, lebih besar daripada jual bersih agregat pasar reguler sebesar Rp141,50 miliar. Penjualan pada GOTO dengan demikian diimbangi sebagian pembelian bersih asing pada saham lain.
ENRG, EMAS, dan ARCI berada di urutan atas pembelian bersih. Sebaliknya, GOTO, BBRI, dan TLKM menjadi pusat penjualan bersih. Arus dana asing masih berbeda cukup besar antarsaham meskipun tekanan agregat mengecil.
BBRI dan TLKM Mengangkat IHSG meski Asing Masih Menjual
Saham berkapitalisasi besar memberikan kontribusi penting terhadap kenaikan Jumat.
Menurut BEI, BBRI menyumbang sekitar 10,31 poin terhadap IHSG, disusul AMMN 6,47 poin, TLKM 5,53 poin, dan BBCA 4,55 poin.
Perubahan pada BBRI cukup menonjol. Setelah menjadi penekan terbesar IHSG pada Kamis dengan kontribusi negatif sekitar 16,20 poin, saham tersebut berbalik naik 2,31% pada Jumat.
TLKM juga menguat 2,65%, setelah sehari sebelumnya termasuk saham yang menekan indeks.
Di tengah kenaikan tersebut, investor asing masih menjual bersih BBRI sekitar Rp80,01 miliar dan TLKM sekitar Rp46,49 miliar di pasar reguler. Pembelian bersih investor domestik mengimbangi penjualan asing pada kedua saham itu.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa arah harga tidak selalu sama dengan arah transaksi bersih investor asing. Kontribusi terhadap IHSG ditentukan oleh perubahan harga dan bobot saham, sedangkan data transaksi asing menunjukkan distribusi aktivitas antarkelompok investor.
Tidak semua saham besar ikut menopang indeks. BYAN menjadi penekan terbesar IHSG pada Jumat dengan kontribusi negatif sekitar 8,19 poin, disusul GEMS sebesar 1,20 poin.
Penguatan pasar sudah meluas, tetapi kontribusi saham utama tetap berbeda.
Rupiah Menguat Tipis, SUN 10Y Menjadi Indikator Pantau
JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.884 per dolar AS pada 9 Oktober, dibanding Rp17.890 sehari sebelumnya. Rupiah menguat tipis berdasarkan kurs referensi tersebut.
Sementara itu, tampilan CNBC Indonesia pada pagi 9 Oktober mencatat yield SUN tenor 10 tahun sekitar 7,237%. Angka ini merupakan snapshot pagi, bukan data penutupan obligasi.
Rupiah dan imbal hasil surat utang tetap relevan bagi daya tarik relatif aset Indonesia. Namun, data yang tersedia belum menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung antara kedua indikator tersebut dan pemulihan IHSG pada Jumat.
Bukti Berikutnya Ada pada 6.120, Partisipasi Pasar, dan Arus Asing
Penutupan Jumat memberikan titik pembanding baru untuk perdagangan berikutnya.
Kemampuan IHSG kembali melewati 6.120,24 akan menjadi salah satu bukti bahwa pemulihan harga berlanjut. Bukti tersebut lebih kuat apabila jumlah saham naik tetap dominan, LQ45 dan IDX30 relatif kuat, serta jual bersih asing reguler terus mengecil.
Sebaliknya, pergerakan di antara 6.000 dan 6.120 dengan indikator pasar yang masih bercampur akan menunjukkan proses konsolidasi setelah tekanan dua hari sebelumnya.
Risiko pemulihan gagal meningkat apabila IHSG kembali turun di bawah 6.000, jumlah saham melemah bertambah, dan investor asing kembali memperbesar jual bersih di pasar reguler. Dalam kondisi itu, area terendah awal Oktober di sekitar 5.973–5.980 berpotensi kembali diuji.
Area harga tersebut adalah referensi historis, bukan target penurunan atau sinyal transaksi.
Perdagangan 9 Oktober sudah memperlihatkan berkurangnya tekanan yang mendominasi pada Kamis. Bukti berikutnya adalah kemampuan pasar mempertahankan partisipasi yang lebih luas dan memperbaiki aliran dana asing, bukan sekadar mencatat kenaikan IHSG satu hari lagi.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.