IHSG Naik ke 6.052 Setelah Sentuh 5.995, Jual Bersih Asing Mengecil
IHSG menguat 0,35% pada sesi I 9 Oktober 2026 setelah sempat turun di bawah 6.000. Sembilan sektor menguat dan jual bersih asing menyusut menjadi Rp32,05 miliar. Namun, nilai transaksi lebih rendah dan IHSG belum kembali ke area 6.120.
IHSG berbalik menguat pada sesi I Jumat, 9 Oktober 2026, sehari setelah turun 1,88% ke 6.031,28. Indeks naik 21,229 poin atau 0,35% ke 6.052,513, setelah sempat menyentuh 5.995,821 selama perdagangan sesi pertama.
Perbaikan terlihat pada partisipasi saham dan kinerja sektoral. Sebanyak 311 saham menguat, sembilan dari sebelas sektor berada di zona positif, dan LQ45 serta IDX30 naik lebih tinggi daripada IHSG. Jual bersih asing juga mengecil dari Rp194,24 miliar pada sesi I sebelumnya menjadi Rp32,05 miliar.
Meski demikian, kenaikan ini belum cukup untuk menyatakan bahwa tren pasar telah berbalik. IHSG masih berada di bawah 6.120,24, sementara nilai transaksi lebih rendah dibanding sesi I 8 Oktober.
IHSG Pulih dari 5.995, tetapi Belum Kembali ke Area 6.120
IHSG dibuka pada 6.039,009 dan sempat turun hingga 5.995,821. Indeks kemudian berbalik menguat, mencapai 6.059,536, dan mengakhiri sesi pertama di 6.052,513.
Tekanan pada awal perdagangan tidak bertahan hingga jeda siang. Namun, pemulihan tersebut belum mengembalikan IHSG ke posisi tengah hari sebelumnya.
Pada sesi I 8 Oktober, IHSG masih berada di 6.097,40 meskipun turun 0,80%. Artinya, posisi indeks pada 9 Oktober lebih rendah sekitar 45 poin dibandingkan tingkat tersebut. Kenaikan 0,35% hari ini dihitung dari penutupan Kamis di 6.031,28.
IHSG juga masih berada di bawah 6.120,24, titik terendah perdagangan 6 Oktober yang telah ditembus sehari sebelumnya. Area tersebut tetap menjadi referensi untuk menilai apakah pemulihan dapat berkembang lebih jauh.
Untuk saat ini, perbaikan harga terlihat dari kemampuan indeks kembali ke atas 6.000 setelah sempat menembusnya.
Sembilan Sektor Menguat, tetapi Saham Naik Hanya Unggul 13
Partisipasi pasar membaik dibandingkan sesi I 8 Oktober.
RTI Business mencatat 311 saham naik, 298 turun, dan 176 tidak berubah. Sehari sebelumnya, terdapat 200 saham menguat, 440 melemah, dan 142 stagnan.
Jumlah saham yang mengalami penurunan berkurang cukup besar. Namun, saham yang menguat kini hanya unggul 13 dibanding saham yang melemah. Tekanan pasar mereda, tetapi penguatan belum mendominasi sebagian besar saham secara meyakinkan.
Perbaikan juga terlihat pada indeks sektoral. Sembilan dari sebelas sektor menguat, berbalik dari sesi I sebelumnya ketika sembilan sektor berada di zona negatif.
Barang baku memimpin kenaikan sebesar 0,94%, disusul industri 0,59%, keuangan 0,54%, dan transportasi 0,50%. Dua sektor yang masih melemah adalah energi sebesar 0,53% dan properti sebesar 0,27%.
Kelompok saham likuid bergerak lebih kuat daripada indeks utama. LQ45 naik 0,86% dan IDX30 menguat 0,89%, dibandingkan kenaikan IHSG sebesar 0,35%.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa indeks yang berisi saham-saham likuid mencatat penguatan persentase lebih tinggi daripada IHSG. Namun, data tersebut tidak menjelaskan besarnya kontribusi masing-masing saham terhadap kenaikan indeks ataupun sumber pembeliannya.
Jual Bersih Asing Mengecil Rp162 Miliar, tetapi Belum Berbalik Arah
Investor asing masih mencatat penjualan bersih pada sesi I, meskipun nilainya jauh lebih kecil dibandingkan sehari sebelumnya.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, pembelian asing mencapai sekitar Rp1,20 triliun dan penjualan sekitar Rp1,24 triliun di seluruh pasar. Posisi akhirnya adalah net foreign sell Rp32,05 miliar.
Pada sesi I 8 Oktober, investor asing membukukan jual bersih Rp194,24 miliar. Dalam perbandingan sesi yang sama, tekanan bersih tersebut berkurang Rp162,19 miliar.
Perubahan itu menunjukkan bahwa nilai jual bersih asing mengecil, tetapi belum berubah menjadi pembelian bersih secara agregat.
Distribusinya juga berbeda antar-emiten.
BBCA mencatat estimasi net buy Rp9,11 miliar dan BMRI Rp3,69 miliar. Sebaliknya, BBRI masih mencatat estimasi net sell Rp20,63 miliar.
Bahkan di antara bank besar, transaksi asing belum menunjukkan arah yang seragam.
10 Saham dengan Pembelian Bersih Asing Terbesar
| No. | Saham | Estimasi Pembelian Bersih |
|---|---|---|
| 1 | SINI | Rp15,94 miliar |
| 2 | CUAN | Rp12,80 miliar |
| 3 | ARCI | Rp9,52 miliar |
| 4 | BBCA | Rp9,11 miliar |
| 5 | EMAS | Rp8,96 miliar |
| 6 | INET | Rp6,62 miliar |
| 7 | TPIA | Rp6,48 miliar |
| 8 | ISAT | Rp6,33 miliar |
| 9 | GGRM | Rp5,64 miliar |
| 10 | ERAA | Rp5,34 miliar |
10 Saham dengan Penjualan Bersih Asing Terbesar
| No. | Saham | Estimasi Penjualan Bersih |
|---|---|---|
| 1 | GOTO | Rp27,91 miliar |
| 2 | BUMI | Rp21,98 miliar |
| 3 | BBRI | Rp20,63 miliar |
| 4 | PACK | Rp15,34 miliar |
| 5 | ITMG | Rp11,19 miliar |
| 6 | ANTM | Rp7,28 miliar |
| 7 | DEWA | Rp7,03 miliar |
| 8 | INCO | Rp6,76 miliar |
| 9 | TOWR | Rp6,74 miliar |
| 10 | TEBE | Rp6,48 miliar |
Sumber: Stockbit Sekuritas, sesi I 9 Oktober 2026, seluruh pasar. Nilai bersih per emiten merupakan estimasi berdasarkan harga rata-rata dan selisih volume transaksi asing, bukan nilai aktual setiap transaksi pada harga eksekusinya.
Angka tersebut memperlihatkan mengapa arus asing perlu dibaca pada dua tingkat. Jual bersih seluruh pasar sudah jauh mengecil, tetapi tekanan masih terkonsentrasi pada sejumlah saham, termasuk GOTO, BUMI, dan BBRI.
Nilai Transaksi Turun ke Rp4,58 Triliun Saat IHSG Menguat
Nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp4,584 triliun pada sesi I, dengan volume 19,015 miliar saham dan frekuensi 795.318 kali.
Sekitar Rp4,08 triliun berasal dari pasar reguler, Rp482,78 miliar dari pasar negosiasi, dan Rp16,83 miliar dari pasar tunai.
Pada sesi I 8 Oktober, nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp7,06 triliun. Dengan demikian, kenaikan IHSG hari ini berlangsung dengan nilai perdagangan lebih rendah dibandingkan saat pasar melemah sehari sebelumnya.
Nilai transaksi yang turun dapat terjadi ketika tekanan jual berkurang, tetapi kondisi ini belum membuktikan bahwa permintaan saham meningkat secara berkelanjutan.
Karena itu, kekuatan kenaikan masih perlu diuji melalui pergerakan harga, perubahan jumlah saham yang menguat, dan arah transaksi asing hingga penutupan.
Penutupan Akan Menguji Ketahanan IHSG di Atas 6.000
Sesi pertama menunjukkan perbaikan setelah tekanan perdagangan 8 Oktober. IHSG kembali menguat, mayoritas sektor berada di zona positif, dan nilai jual bersih asing mengecil.
Pengujian berikutnya terletak pada kemampuan mempertahankan perubahan tersebut.
IHSG perlu diperhatikan terhadap rentang pergerakan sesi I. Kenaikan yang berlanjut melampaui 6.059,536 akan menunjukkan penguatan dalam perdagangan hari ini, sedangkan penurunan kembali di bawah 5.995,821 akan melemahkan pembacaan bahwa tekanan harga mulai mereda.
Perubahan jumlah saham yang menguat juga penting. Jika saham melemah kembali mendominasi dan jumlah sektor positif menyusut, perbaikan partisipasi yang terlihat pada sesi pertama akan kehilangan sebagian dukungannya.
Sementara itu, posisi jual bersih asing Rp32,05 miliar masih dapat berubah pada sesi II. Pembelian bersih akan menjadi bukti tambahan yang mendukung pemulihan, sedangkan jual bersih yang kembali membesar perlu diperiksa bersama pergerakan IHSG.
Area 6.120,24 tetap menjadi referensi untuk menilai pemulihan harga yang lebih luas, bukan batas yang wajib ditembus pada perdagangan hari ini.
Bukti terpenting saat penutupan bukan sekadar apakah IHSG tetap hijau, melainkan apakah kenaikan tersebut bertahan bersama partisipasi saham yang membaik dan tekanan asing yang tidak kembali meningkat.
Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.