Banyu Capital

IHSG Turun 1,94% ke 5.975,78; 537 Saham Melemah pada Sesi I

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG gagal mempertahankan penguatan awal perdagangan dan berakhir mendekati titik terendah sesi I. Koreksi menjangkau mayoritas saham dan seluruh 11 sektor, sementara investor asing mencatat jual bersih Rp166,22 miliar di seluruh pasar.

Dashboard Market Notes Midday Banyu Capital, 12 Oktober 2026: IHSG turun 1,94% ke 5.975,78, sebanyak 537 saham dan seluruh 11 sektor melemah, serta jual bersih asing Rp166,22 miliar.
IHSG turun 1,94% ke 5.975,78 pada akhir sesi I, Senin, 12 Oktober 2026. Sebanyak 537 saham melemah dan seluruh 11 sektor berada di zona negatif. Investor asing mencatat jual bersih Rp166,22 miliar di seluruh pasar. Sumber: RTI Business dan Stockbit Sekuritas, sesi I 12 Oktober 2026.

IHSG turun 117,98 poin atau 1,94% ke 5.975,78 pada akhir sesi I perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Indeks sebelumnya sempat menguat ke 6.128,72, melampaui penutupan Jumat di 6.093,76.

Pembalikan arah itu disertai pelemahan 537 saham dan seluruh indeks sektor Bursa Efek Indonesia. Koreksi berlangsung luas, meskipun tekanan pada masing-masing sektor berbeda.

IHSG Gagal Mempertahankan Penguatan Awal

IHSG membuka perdagangan di 6.109,32 dan sempat mencapai level tertinggi 6.128,72. Kenaikan itu berbalik menjadi penurunan hingga indeks menyentuh 5.971,41.

Pada akhir sesi I, IHSG berada di 5.975,78, hanya 4,37 poin di atas titik terendahnya.

Setelah sempat bergerak di atas penutupan Jumat, indeks mengakhiri sesi dekat batas bawah rentang perdagangan. Pemulihan awal tidak mampu bertahan hingga jeda siang.

Nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp6,478 triliun, dengan volume 39,188 miliar saham dan frekuensi 1.056.211 transaksi. Sekitar Rp6,11 triliun dari nilai tersebut berasal dari pasar reguler.

Besarnya transaksi belum dapat ditafsirkan sebagai lonjakan aktivitas atau aksi jual panik tanpa pembanding periode perdagangan yang setara.

Sebanyak 537 Saham Turun, Seluruh 11 Sektor Melemah

Dari 791 saham dalam data keluasan pasar, sebanyak 537 saham atau sekitar 67,9% melemah. Sebanyak 159 saham menguat dan 95 saham tidak berubah.

Seluruh 11 indeks sektor juga mencatat penurunan.

Sektor energi melemah paling dalam, yakni 3,57%, disusul infrastruktur sebesar 3,33% dan bahan baku sebesar 2,77%. Sektor industri turun 2,39%, sedangkan transportasi kehilangan 1,81%.

Penurunan sektor keuangan lebih terbatas, sebesar 0,96%. Barang konsumsi primer mencatat koreksi paling kecil, yakni 0,49%.

Indeks saham unggulan turut melemah. LQ45 turun 1,62%, sementara IDX30 terkoreksi 1,36%.

Koreksi sesi I menjangkau mayoritas saham dan seluruh sektor, bukan hanya terlihat pada pergerakan indeks utama. Namun, perbedaan persentase antarsektor menunjukkan bahwa intensitas tekanan tidak seragam.

Asing Mencatat Jual Bersih, tetapi Arah Harga Saham Tidak Seragam

Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp1,58 triliun dan penjualan sekitar Rp1,75 triliun pada sesi I. Secara agregat, tercatat jual bersih Rp166,22 miliar di seluruh pasar, berdasarkan data Stockbit Sekuritas.

Jual bersih tersebut terjadi bersamaan dengan pelemahan IHSG. Namun, data agregat belum merinci seberapa besar kontribusi transaksi asing terhadap penurunan indeks.

Perbedaan arah transaksi lebih terlihat pada masing-masing saham.

Estimasi 10 Saham dengan Pembelian dan Penjualan Bersih Asing Terbesar — Sesi I, 12 Oktober 2026

Pembelian bersih Rp miliar Penjualan bersih Rp miliar
GOTO 133,02 BUMI 44,40
ASII 48,53 BBCA 38,65
ERAA 12,35 DEWA 23,93
SMGR 11,78 DSSA 19,34
TINS 9,97 INET 15,94
BRMS 8,86 BDMN 14,56
CPIN 8,30 ISAT 14,52
MEDC 5,95 ANTM 14,11
VKTR 5,66 PACK 14,08
DOOH 5,01 EXCL 13,30

Catatan: nilai bersih per saham merupakan estimasi Stockbit berdasarkan harga rata-rata sesi I dikalikan volume bersih transaksi asing. Metodenya berbeda dari penghitungan nilai jual bersih agregat seluruh pasar.

GOTO menjadi contoh penting. Harga sahamnya turun 10% ke Rp27, meskipun estimasi pembelian bersih asing mencapai Rp133,02 miliar.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pembelian bersih asing tidak otomatis menghasilkan kenaikan harga. Data arus transaksi perlu dibaca bersama pergerakan harga dan kondisi perdagangan masing-masing saham.

Sesi II Akan Menguji Apakah Pelemahan Mulai Mereda

IHSG mengakhiri sesi I dekat titik terendah perdagangan di 5.971,41. Angka tersebut menjadi acuan intraday untuk melihat perkembangan tekanan harga, bukan batas yang menjamin arah indeks selanjutnya.

Apabila IHSG kembali melewati titik terendah tersebut ke bawah, sementara mayoritas saham dan sektor masih melemah, indikasi kelanjutan tekanan akan menguat.

Sebaliknya, pemulihan akan lebih meyakinkan jika kenaikan IHSG diikuti bertambahnya saham yang menguat dan berkurangnya jumlah sektor negatif. Kenaikan indeks yang hanya ditopang beberapa saham besar belum mencerminkan pemulihan pasar secara luas.

Posisi jual bersih asing juga perlu diperiksa kembali pada penutupan perdagangan, menggunakan cakupan pasar yang konsisten.

Bukti terpenting pada sesi II bukan sekadar kenaikan IHSG, melainkan apakah pemulihan turut menjangkau lebih banyak saham dan sektor.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes