Banyu Capital

IHSG Bertahan di 5.930, tetapi Rebound Belum Mendapat Konfirmasi

IHSG naik tipis 0,11% dan pulih setelah sempat turun di bawah 5.900. Namun, kegagalan mempertahankan 5.950, breadth negatif, pelemahan Financials dan saham likuid, serta net foreign sell Rp274,81 miliar menunjukkan rebound belum memperoleh dukungan yang cukup luas.

IHSG menutup sesi 1 perdagangan Senin, 13 Juli 2026, di level 5.930,84, naik 6,47 poin atau 0,11%. Indeks sempat turun ke 5.898,15 dan naik hingga 5.974,65 sebelum kehilangan sebagian besar kenaikannya.

Pergerakan ini menguji tiga syarat lanjutan rebound dari penutupan Jumat: IHSG bertahan di atas 5.950, partisipasi pasar meluas, dan tekanan jual asing mengecil. Pada sesi 1 Senin, hanya tekanan asing yang membaik secara parsial.

IHSG masih menunjukkan ketahanan di atas 5.900. Namun, kegagalan mempertahankan 5.950, breadth negatif, pelemahan Financials dan saham likuid, serta net foreign sell Rp274,81 miliar menunjukkan rebound belum memperoleh konfirmasi yang cukup luas.

Dashboard Market Notes Midday 13 Juli 2026 yang menampilkan IHSG 5.930,84, breadth negatif, dan net foreign sell Rp274,81 miliar
Dashboard sesi 1, 13 Juli 2026. IHSG bertahan di 5.930,84, tetapi gagal menjaga 5.950. Sebanyak 326 saham melemah dan asing mencatat net foreign sell All Market Rp274,81 miliar. Sumber: Stockbit Sekuritas dan RTI Business.

IHSG Pulih dari Bawah 5.900, tetapi 5.950 Belum Menjadi Pijakan

IHSG dibuka di 5.934,72 dan bergerak dalam rentang sekitar 76,50 poin. Indeks sempat turun ke 5.898,15 sebelum naik hingga 5.974,65, lalu kembali ke 5.930,84 pada akhir sesi.

Pemulihan dari 5.898,15 menunjukkan adanya respons pembelian intraday di sekitar 5.900. Namun, satu sesi belum cukup untuk memastikan area tersebut menjadi pertahanan yang berkelanjutan.

Pada sisi atas, indeks sempat melampaui 5.950 sekitar 24,65 poin. Kenaikan itu tidak bertahan. Posisi sesi 1 berakhir sekitar 43,82 poin di bawah titik tertinggi dan 3,88 poin di bawah harga pembukaan.

Struktur harga tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual belum mampu mempertahankan IHSG di bawah 5.900, tetapi pembeli juga belum mampu mengubah 5.950 menjadi pijakan baru.

Indeks Hijau Belum Mewakili Mayoritas Saham

Nilai transaksi All Market mencapai sekitar Rp6,01 triliun, dengan volume 14,80 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,80 juta kali. Namun, aktivitas tersebut belum diikuti partisipasi pasar yang positif.

Sebanyak 266 saham menguat, 326 saham melemah, dan 197 saham tidak berubah. Jumlah saham turun melampaui saham naik sebanyak 60 saham, sedangkan rasio saham naik terhadap saham turun berada di sekitar 0,82 kali.

Dari saham yang bergerak, sekitar 44,9% berada di zona hijau dan 55,1% berada di zona merah.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan IHSG tidak mencerminkan kondisi mayoritas saham. Indeks masih hijau, tetapi partisipasi pasar lebih condong ke pelemahan.

Perbedaan antara arah indeks dan breadth menjadi salah satu batas utama validasi rebound. Penguatan akan memiliki kualitas lebih baik jika jumlah saham naik mulai mengungguli saham turun, bukan hanya jika level indeks bergerak positif.

Financials dan Saham Likuid Belum Memberi Konfirmasi

Kelemahan internal juga terlihat pada kelompok saham likuid.

LQ45 turun 0,07%, sedangkan IDX30 melemah 0,09%. SRI-KEHATI turun lebih dalam sebesar 0,34%.

Sebaliknya, IDX Small-Mid Cap Composite naik 0,46% dan IDX Small-Mid Cap Liquid menguat 0,41%. Perbedaan tersebut menunjukkan kelompok small-mid cap relatif lebih kuat daripada saham berkapitalisasi besar dan likuid.

Rotasi ini tidak otomatis negatif. Namun, penguatan small-mid cap berlangsung bersamaan dengan breadth pasar yang masih negatif. Karena itu, pergerakan tersebut lebih tepat dibaca sebagai kekuatan selektif, bukan perluasan risk appetite.

Secara sektoral, Cyclicals memimpin kenaikan sebesar 1,47%, disusul Basic Materials 0,56%, Infrastructure 0,52%, Energy 0,25%, dan Transportation 0,10%.

Enam sektor melemah. Financials turun paling dalam sebesar 0,69%, diikuti Property 0,35%, Healthcare 0,31%, Non-Cyclicals 0,28%, Technology 0,12%, dan Industrials 0,11%.

Tekanan Financials penting karena sektor tersebut berbobot besar dalam IHSG serta banyak dihuni saham likuid berkapitalisasi besar. Namun, arus asing pada saham perbankan tidak bergerak seragam. BBCA mencatat penjualan bersih asing yang besar, sedangkan BBRI masih membukukan pembelian bersih asing.

Dengan demikian, kelemahan sektor keuangan tidak dapat disederhanakan sebagai penjualan asing merata pada seluruh saham bank.

Asing Masih Menjual, tetapi Tekanannya Tidak Merata

Investor asing mencatat pembelian sekitar Rp1,42 triliun dan penjualan sekitar Rp1,70 triliun. Secara bersih, asing membukukan net foreign sell All Market sebesar Rp274,81 miliar.

Angka tersebut lebih kecil Rp146,89 miliar dibanding net foreign sell Rp421,70 miliar pada penutupan Jumat. Tekanan jual mengecil, tetapi arah aliran dana tetap negatif.

Pembelian asing terbesar sesi 1 terlihat pada:

Saham Estimasi net foreign buy
BRPT Rp70,93 miliar
BRMS Rp40,39 miliar
BBRI Rp18,82 miliar
VKTR Rp17,56 miliar
TLKM Rp15,10 miliar
UNTR Rp14,52 miliar
AMMN Rp11,03 miliar
EMAS Rp4,99 miliar
GGRM Rp4,10 miliar
INDF Rp3,27 miliar

Total estimasi Top 10 net foreign buy mencapai Rp200,71 miliar. BRPT dan BRMS menyumbang sekitar Rp111,32 miliar atau 55,5% dari jumlah tersebut.

Pada sisi penjualan:

Saham Estimasi net foreign sell
MAPI Rp110,23 miliar
BBCA Rp95,19 miliar
ASII Rp42,55 miliar
AADI Rp25,72 miliar
DEWA Rp22,61 miliar
ADRO Rp21,39 miliar
ANTM Rp18,72 miliar
TINS Rp15,61 miliar
ELSA Rp9,32 miliar
BIPI Rp8,93 miliar

Total estimasi Top 10 net foreign sell mencapai Rp370,27 miliar. MAPI dan BBCA membukukan gabungan penjualan bersih sekitar Rp205,42 miliar atau 55,5% dari jumlah tersebut.

Nilai per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas berdasarkan harga rata-rata sesi 1 dan volume bersih asing. Daftar Top 10 tidak dapat langsung direkonsiliasi dengan net foreign sell seluruh pasar karena hanya mencakup sepuluh saham terbesar pada masing-masing sisi, sementara transaksi pada saham lain tetap memengaruhi angka agregat.

Arus asing tidak bergerak seragam. Pembelian masih masuk ke BRPT, BRMS, BBRI, TLKM, UNTR, dan AMMN, tetapi penjualan besar pada MAPI, BBCA, serta ASII tetap memberi tekanan pada kelompok saham likuid.

IHSG Relatif Tahan Saat Pasar Regional Tertekan

Pada waktu pengambilan data sesi 1, Nikkei turun 2,34%, Shanghai melemah 1,54%, dan Hang Seng turun 0,11%. IHSG masih mampu bertahan naik 0,11%.

Brent naik 4,26% ke US$79,25 per barel dan WTI menguat 4,29% ke US$74,47. USD/IDR pasar berada di sekitar Rp18.064 per dolar AS.

Ketahanan relatif ini menjadi counter-argument terhadap pembacaan terlalu negatif. Namun, harga indeks yang lebih tahan belum berarti struktur pasar sudah kuat karena breadth, Financials, saham likuid, dan arus asing masih memberi sinyal berhati-hati.

5.900 dan 5.950 Menjadi Batas Pembuktian Sesi 2

Base case sesi 2 adalah IHSG tetap bergerak di antara 5.900 dan 5.950.

Dalam skenario tersebut, respons pembelian di sekitar batas bawah masih bekerja, tetapi pasar belum memperoleh konfirmasi di batas atas.

Skenario bullish memerlukan IHSG kembali menembus dan bertahan di atas 5.950. Pembacaan akan lebih kuat jika LQ45 dan IDX30 berbalik positif, Financials pulih, jumlah saham naik melampaui saham turun, dan tekanan jual asing menyempit.

Sebaliknya, skenario bearish menguat jika IHSG kembali berada di bawah 5.900. Risikonya meningkat apabila Financials melemah lebih dalam, net foreign sell membesar, dan selisih antara saham turun dan saham naik semakin lebar.

Sesi 2 perlu membuktikan dua hal. Pertama, apakah respons pembelian mampu menjaga IHSG di atas 5.900. Kedua, apakah indeks dapat merebut kembali 5.950 bersama perbaikan breadth, Financials, saham likuid, dan arus asing.

Tanpa konfirmasi tersebut, penguatan sesi 1 masih lebih tepat dibaca sebagai ketahanan dalam konsolidasi, bukan rebound yang sudah solid.

Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes