IHSG Turun 0,42% ke 5.911 Setelah Sentuh 5.828; 315 Saham Naik
IHSG memulihkan 82,78 poin dari titik terendah sesi I. Jumlah saham yang menguat bertambah dibanding sehari sebelumnya, tetapi indeks masih berada di bawah titik terendah Senin dan asing tetap mencatat jual bersih.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 24,68 poin atau 0,42% ke 5.911,46 pada akhir sesi I perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Indeks sempat jatuh ke 5.828,68 sebelum kembali mendekati level pembukaan menjelang jeda siang.
Penurunan tersebut membawa IHSG melewati titik terendah perdagangan Senin di 5.917,39. Meski sebagian tekanan intraday berkurang, indeks masih berada di bawah penutupan sebelumnya sebesar 5.936,15.
Di tengah indeks yang tetap melemah, jumlah saham naik dan turun menjadi lebih seimbang. Sebanyak 315 saham menguat dan 328 melemah, dibanding 159 saham naik dan 537 turun pada sesi I sehari sebelumnya.
Perbaikan ini belum menjangkau seluruh pasar. LQ45 dan IDX30 turun lebih dalam daripada IHSG, sementara investor asing mencatat jual bersih Rp62,53 miliar di seluruh pasar.
IHSG Memulihkan 82,78 Poin, tetapi Masih di Bawah Titik Terendah Senin
IHSG dibuka pada 5.914,98, mencapai titik tertinggi 5.927,13, lalu turun hingga 5.828,68. Pada akhir sesi I, indeks berada di 5.911,46, sekitar 82,78 poin di atas titik terendahnya.
Posisi tersebut masih 5,93 poin di bawah titik terendah Senin dan 24,68 poin di bawah penutupan hari sebelumnya. Bahkan, titik tertinggi perdagangan Selasa belum berhasil menyentuh penutupan Senin.
Pemantulan intraday menunjukkan bahwa indeks mampu memulihkan sebagian penurunan pagi. Akan tetapi, IHSG belum berhasil kembali ke posisi penutupan sebelumnya sepanjang sesi I.
Nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp6,275 triliun, dengan volume sekitar 24,672 miliar saham dan frekuensi 943.835 transaksi, berdasarkan RTI Business.
Sebagai pembanding, nilai transaksi pada sesi I Senin sebesar Rp6,478 triliun. Penurunan sekitar 3,1% menunjukkan perubahan nilai perdagangan relatif terbatas, meskipun komposisi saham naik dan turun berubah cukup besar.
Tekanan Tidak Lagi Merata, tetapi Saham Unggulan Masih Tertinggal
Pada sesi I Senin, 12 Oktober, sebanyak 537 saham melemah, 159 menguat, dan 95 tidak berubah. Seluruh sebelas sektor BEI berada di zona negatif.
Komposisi itu berubah pada sesi I Selasa. Sebanyak 315 saham menguat, 328 melemah, dan 148 tidak berubah. Jumlah saham yang naik mendekati jumlah saham yang turun, setelah sehari sebelumnya pelemahan mendominasi perdagangan.
Lima sektor juga berada di zona positif pada jeda siang.
| Sektor | Perubahan sesi I |
|---|---|
| Energi | +0,62% |
| Properti | +0,57% |
| Kesehatan | +0,09% |
| Konsumsi primer | +0,08% |
| Transportasi | +0,03% |
| Infrastruktur | −0,02% |
| Industri | −0,19% |
| Bahan baku | −0,26% |
| Keuangan | −0,56% |
| Konsumsi siklikal | −0,67% |
| Teknologi | −1,23% |
Sumber: Stockbit Sekuritas, sesi I 13 Oktober 2026.
Energi memimpin penguatan sebesar 0,62%, disusul properti 0,57%. Di sisi lain, teknologi turun paling dalam sebesar 1,23%, sementara keuangan melemah 0,56%.
Sebaran tersebut menunjukkan bahwa penurunan tidak lagi meliputi seluruh sektor. Namun, kelompok saham unggulan belum bergerak sebaik pasar secara keseluruhan.
LQ45 turun 0,52% dan IDX30 melemah 0,71%, keduanya lebih dalam daripada koreksi IHSG sebesar 0,42%.
Perbedaan ini penting karena pergerakan IHSG tidak hanya ditentukan oleh jumlah saham yang naik atau turun. Bobot masing-masing saham juga memengaruhi perubahan indeks.
Dengan jumlah saham naik dan turun yang hampir seimbang, IHSG tetap dapat melemah apabila tekanan terjadi pada saham yang memiliki bobot besar. Kontribusi individual emiten terhadap penurunan indeks belum dapat dihitung dari data sesi I yang tersedia.
Jual Bersih Asing Mengecil, tetapi Penjualan Terkonsentrasi pada Sejumlah Saham Besar
Investor asing mencatat net sell Rp62,53 miliar di seluruh pasar pada sesi I Selasa, berdasarkan Stockbit Sekuritas.
Nilai tersebut lebih kecil dibanding net sell Rp166,22 miliar pada sesi I Senin. Perbandingan dua periode sesi I ini menunjukkan berkurangnya nilai jual bersih agregat, meski transaksi asing masih berakhir negatif.
Perubahan sepanjang Senin memberi konteks penting. Setelah mencatat jual bersih pada sesi I, transaksi asing pada penutupan 12 Oktober justru menunjukkan net buy Rp142,75 miliar menurut statistik BEI.
Perbandingan sesi I Stockbit dengan penutupan BEI menggunakan waktu dan metodologi pengamatan berbeda. Karena itu, perubahan nominalnya tidak dapat dihitung sebagai selisih arus dana dengan metode identik.
Pada tingkat saham individual, distribusi transaksi asing memperlihatkan arah yang beragam.
Estimasi 10 Saham dengan Pembelian dan Penjualan Bersih Asing Terbesar — Sesi I, 13 Oktober 2026
| Pembelian bersih | Rp (miliar) | Penjualan bersih | Rp (miliar) |
|---|---|---|---|
| TINS | 26,05 | BMRI | 91,03 |
| BUMI | 24,00 | TLKM | 51,56 |
| DSSA | 20,22 | BBRI | 49,95 |
| BRMS | 17,96 | BBCA | 45,81 |
| SINI | 15,39 | GOTO | 27,85 |
| BULL | 13,55 | ANTM | 17,05 |
| AMMN | 12,56 | ITMG | 10,57 |
| VKTR | 12,22 | AADI | 8,60 |
| PTRO | 11,44 | DEWA | 7,64 |
| ASII | 11,23 | ADMR | 7,27 |
Catatan: nilai per saham merupakan estimasi Stockbit berdasarkan harga rata-rata sesi I dan volume bersih transaksi asing. Metode ini berbeda dari perhitungan arus asing agregat seluruh pasar.
BMRI mencatat estimasi penjualan bersih asing terbesar sebesar Rp91,03 miliar, disusul TLKM Rp51,56 miliar, BBRI Rp49,95 miliar, dan BBCA Rp45,81 miliar.
Sebaliknya, pembelian bersih asing terbesar terjadi pada TINS sebesar Rp26,05 miliar, BUMI Rp24 miliar, serta DSSA Rp20,22 miliar.
Data tersebut menunjukkan bahwa investor asing tidak mengambil posisi transaksi yang seragam pada seluruh saham. Pembelian bersih muncul pada sejumlah emiten, sementara penjualan bersih tetap besar pada beberapa saham berkapitalisasi besar.
Nilai jual bersih suatu saham tidak otomatis menunjukkan besarnya tekanan terhadap IHSG atau membuktikan penyebab perubahan harganya. Penilaian tersebut memerlukan data bobot indeks, perubahan harga, dan aktivitas transaksi yang lebih rinci.
Sesi II Perlu Mengonfirmasi Perbaikan pada Saham Unggulan
Perubahan keluasan pasar merupakan perkembangan utama sesi I: jumlah saham naik hampir menyamai saham turun, dan lima sektor telah kembali positif. Namun, IHSG masih berada di bawah titik terendah perdagangan Senin.
Area 5.828,68 menjadi acuan untuk menguji apakah tekanan harga kembali meningkat. Jika IHSG mendekati atau menembus level tersebut bersamaan dengan bertambahnya saham dan sektor negatif, bukti tekanan lanjutan akan menguat.
Sebaliknya, pergerakan menuju atau melewati 5.936,15 akan menunjukkan bahwa indeks mulai menghapus penurunan harian. Konfirmasi lebih kuat membutuhkan perbaikan LQ45 dan IDX30 serta bertambahnya jumlah saham yang menguat.
Kedua level tersebut merupakan acuan pengamatan berdasarkan perdagangan yang telah terjadi, bukan batas yang menjamin arah harga berikutnya.
Arus asing juga perlu diperiksa pada penutupan dengan cakupan transaksi yang konsisten. Nilai jual bersih yang mengecil pada sesi I belum memastikan perubahan arah transaksi sepanjang hari.
Bukti terpenting pada sesi II adalah apakah pemulihan harga bertahan, menjangkau saham unggulan, dan disertai perbaikan keluasan pasar hingga penutupan.
Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.