Banyu Capital

IHSG Turun 1,70% dan Tembus Titik Terendah Jumat, 517 Saham Melemah

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Pemulihan tajam pada Jumat belum berlanjut pada Senin pagi. IHSG sempat naik ke 6.543,28, sedikit di atas penutupan Jumat, tetapi kemudian berbalik hingga 6.420,01 dan mengakhiri Sesi I di 6.429,88 atau turun 1,70%.

Tekanan meluas ke seluruh sektor dan breadth, sementara asing mencatat net sell Rp664,34 miliar di All Market. Namun, LQ45 dan IDX30 turun lebih ringan daripada IHSG. Pasar melemah secara luas, tetapi tekanannya tidak seragam pada seluruh saham likuid.

Dashboard Market Notes Midday 14 September 2026 yang merangkum pelemahan IHSG, breadth pasar, sektor, indeks likuid, dan foreign flow
Dashboard Market Notes Midday 14 September 2026. IHSG turun 1,70% ke 6.429,88, sebanyak 517 saham melemah, seluruh 11 sektor berada di zona negatif, dan asing mencatat net sell Rp664,34 miliar di All Market. Sumber: RTI Business, Stockbit Sekuritas, dan Bloomberg Technoz.

Pada Jumat, 11 September, IHSG sempat pulih sekitar 78 poin dari titik terendah intraday dan menutup di 6.541,38. Pemulihan harga tersebut belum sepenuhnya diikuti perbaikan breadth, sektor, indeks likuid, dan aliran dana asing.

Pada Senin pagi, tekanan kembali melebar.

Upaya Melanjutkan Rebound Jumat Tidak Bertahan

IHSG dibuka di 6.533,87 dan sempat mencapai high 6.543,28. Level itu sekitar 1,90 poin di atas penutupan Jumat.

Kenaikan tersebut tidak bertahan. Indeks berbalik turun hingga low 6.420,01 dan mengakhiri Sesi I hanya sekitar 9,87 poin di atas titik terendah intraday.

Titik terendah Senin juga sekitar 42,95 poin di bawah low Jumat di 6.462,96.

Nilai transaksi mencapai sekitar Rp8,01 triliun, dengan volume 17,32 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,19 juta kali.

Pergerakan awal menunjukkan indeks sempat mencoba mempertahankan pemulihan Jumat, tetapi tekanan jual kembali mendominasi sebelum Sesi I berakhir. Karena data berhenti pada sesi pagi, arah penutupan masih terbuka.

517 Saham Turun dan 11 Sektor Merah, tetapi Indeks Likuid Lebih Tahan

RTI Business mencatat 517 saham melemah, 144 saham menguat, dan 122 saham tidak berubah. Jumlah saham turun sekitar 3,6 kali jumlah saham naik.

Seluruh 11 sektor berada di zona negatif. Energy turun 3,06%, Basic Materials 2,88%, Infrastructure 2,63%, Consumer Cyclicals 2,14%, dan Transportation & Logistics 1,97%.

Tekanan pada indeks saham likuid lebih ringan. LQ45 turun 1,05% dan IDX30 melemah 1,09%, dibanding IHSG yang turun 1,70%.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelemahan pasar memang luas dari sisi jumlah saham dan sektor, tetapi tekanan terhadap IHSG juga diperbesar oleh sejumlah saham berbobot besar.

Berdasarkan data Bloomberg Technoz, BYAN menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi sekitar 22,53 poin terhadap penurunan IHSG. EMAS menyusul sekitar 10,05 poin, kemudian BREN sekitar 7 poin.

Karena itu, penurunan IHSG 1,70% tidak berarti seluruh saham besar dan likuid mengalami tekanan dengan intensitas yang sama.

Asing Net Sell Rp664 Miliar, tetapi Arus Dana Tetap Selektif

Investor asing berada di sisi jual pada Sesi I.

Pada All Market, nilai foreign buy mencapai sekitar Rp1,97 triliun dan foreign sell Rp2,63 triliun. Selisihnya menghasilkan net foreign sell sekitar Rp664,34 miliar.

Komponen Nilai
Foreign Buy Rp1,97 triliun
Foreign Sell Rp2,63 triliun
Net Foreign Sell Rp664,34 miliar

Tekanan asing terbesar terlihat pada ANTM, BMRI, dan BUMI.

No. Kode Net Foreign Sell
1 ANTM Rp164,81 miliar
2 BMRI Rp127,90 miliar
3 BUMI Rp124,55 miliar
4 TINS Rp45,83 miliar
5 MDKA Rp34,71 miliar
6 ADRO Rp25,10 miliar
7 DSSA Rp23,85 miliar
8 TPIA Rp20,05 miliar
9 JARR Rp19,48 miliar
10 MEDC Rp19,07 miliar

Di sisi beli, BRMS menjadi penerima net buy asing terbesar.

No. Kode Net Foreign Buy
1 BRMS Rp42,53 miliar
2 AADI Rp33,46 miliar
3 AMMN Rp30,35 miliar
4 TLKM Rp21,34 miliar
5 BBRI Rp18,37 miliar
6 PGAS Rp17,73 miliar
7 SINI Rp9,97 miliar
8 ASII Rp8,35 miliar
9 INKP Rp7,67 miliar
10 DMAS Rp5,80 miliar

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan asing cukup nyata secara agregat, tetapi tidak berlangsung seragam.

BBRI masih mencatat net buy, demikian pula BRMS, AADI, AMMN, dan PGAS. Karena itu, foreign flow memperkuat pembacaan tekanan Sesi I, tetapi bukan satu-satunya penjelasan terhadap pelemahan pasar.

USD/IDR intraday berada di sekitar Rp17.648 per dolar AS, sementara Brent sekitar US$107,73 per barel dan naik hampir 3%. Bursa regional bergerak campuran.

Data lintas aset ini memberi konteks tambahan, tetapi belum cukup untuk menjelaskan penyebab pelemahan IHSG. Bukti langsung pada Sesi I tetap berasal dari breadth, sektor, saham pemberat, dan foreign flow.

Sesi II Perlu Membuktikan Apakah Tekanan Mulai Mereda

Pembacaan tekanan pagi akan semakin kuat jika IHSG tetap berada di bawah titik terendah Jumat, jumlah saham turun tetap jauh melampaui saham naik, sektor negatif tetap mendominasi, dan tekanan jual asing tidak mengecil.

Sebaliknya, pemulihan Sesi II perlu membawa perbaikan yang lebih luas daripada sekadar kenaikan indeks.

Area 6.462,96, yang merupakan titik terendah Jumat, menjadi salah satu pembanding penting. Kembalinya IHSG ke atas area tersebut akan lebih berarti jika disertai perbaikan breadth, berkurangnya sektor negatif, dan mengecilnya tekanan jual asing.

Tanpa kombinasi itu, pemulihan harga saja belum cukup untuk menunjukkan bahwa tekanan pagi sudah mereda.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes