Banyu Capital

IHSG Naik 1,70% ke 5.419, 550 Saham Menguat; Jual Bersih Asing Hampir Tak Berubah

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG menguat dengan dukungan 550 saham dan seluruh sektor pada sesi I Kamis, 22 Oktober 2026. Namun, jual bersih asing masih mencapai Rp576,78 miliar, hampir sama dengan sesi I sebelumnya. Keluasan penguatan membaik, sementara perubahan arus modal belum terlihat.

Dashboard Banyu Capital Market Notes Midday 22 Oktober 2026. IHSG naik 1,70% ke 5.419,00 dengan 550 saham menguat dan seluruh sektor positif, sementara investor asing mencatat jual bersih Rp576,78 miliar di seluruh pasar.
Dashboard perdagangan BEI sesi I, Kamis, 22 Oktober 2026. IHSG menguat 1,70% dengan 550 saham naik dan seluruh 11 sektor positif. Namun, jual bersih asing Rp576,78 miliar hanya sedikit lebih rendah dibanding sesi I sebelumnya. Sumber: RTI Business dan Stockbit Sekuritas.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, di level 5.419,00, naik 90,64 poin atau 1,70% dibanding penutupan sebelumnya. Sebanyak 550 saham menguat, 131 melemah, dan 112 tidak berubah. Seluruh 11 sektor berada di zona positif.

Perubahan tersebut cukup besar dibanding sesi I Rabu, ketika hanya 212 saham menguat dan 472 melemah. Meski demikian, investor asing masih mencatat jual bersih Rp576,78 miliar di seluruh pasar, hanya berkurang Rp4,81 miliar dari sesi I sebelumnya.

Pasar menunjukkan pemulihan harga yang lebih luas, tetapi penjualan bersih asing belum berkurang secara berarti.

IHSG Pulih 233 Poin setelah Kembali Menyentuh Area 5.185

Perdagangan dimulai dengan tekanan. IHSG dibuka di 5.247,98, lebih rendah daripada penutupan Rabu sebesar 5.328,36, kemudian turun hingga 5.185,53.

Indeks berbalik naik dari titik tersebut dan mencapai 5.422,59. Pada akhir sesi I, IHSG berada di 5.419,00, hanya 3,59 poin di bawah posisi tertingginya.

Pemulihan dari titik terendah mencapai 233,47 poin. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual pada awal perdagangan tidak bertahan sepanjang sesi pagi.

Area 5.185 menjadi perhatian karena hampir berimpit dengan titik terendah Rabu sebesar 5.185,36. Respons harga pada dua sesi tersebut menunjukkan adanya pembelian setelah indeks mendekati area yang sama, meskipun data yang tersedia belum cukup untuk menetapkannya sebagai support jangka menengah yang terkonfirmasi.

Menurut RTI Business, nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp9,191 triliun, dengan volume sekitar 21,93 miliar saham dan frekuensi 1,31 juta transaksi.

Dibanding sesi I Rabu, volume meningkat dari 18,91 miliar saham dan frekuensi dari sekitar 1,09 juta transaksi. Namun, nilai transaksi justru turun dari sekitar Rp9,61 triliun atau sekitar 4,4%.

Aktivitas perdagangan meningkat berdasarkan jumlah saham dan frekuensi, tetapi belum berdasarkan nilai uang yang diperdagangkan.

Sebanyak 550 Saham Menguat, Seluruh Sektor Bergerak Positif

Keluasan pasar menjadi perubahan paling menonjol pada sesi pertama.

Jumlah saham menguat bertambah dari 212 pada Rabu menjadi 550 pada Kamis. Sebaliknya, jumlah saham melemah turun dari 472 menjadi 131.

Seluruh 11 sektor mencatat kenaikan. Energi memimpin dengan penguatan 3,24%, diikuti transportasi dan logistik 2,60%, barang baku 2,27%, serta infrastruktur 2,20%.

Sektor barang konsumen primer naik 1,91%, sedangkan barang konsumen siklikal menguat 1,77%. Sektor industri, kesehatan, properti, dan teknologi juga positif. Kenaikan sektor keuangan paling terbatas, sebesar 0,87%.

Sebaran ini menunjukkan bahwa penguatan tidak hanya berasal dari satu kelompok saham. Namun, kekuatan relatif setiap sektor tetap berbeda, dengan energi dan transportasi bergerak lebih tinggi dibanding sektor keuangan.

Saham Likuid Ikut Menguat, tetapi Masih Tertinggal dari IHSG

Indeks LQ45 naik 1,64%, sedangkan IDX30 menguat 1,43%. Keduanya mengikuti kenaikan pasar, tetapi persentasenya lebih rendah daripada IHSG yang bertambah 1,70%.

Saham-saham likuid telah berpartisipasi dalam pemulihan, meskipun belum mengungguli indeks pasar secara keseluruhan.

Dari sisi kontribusi terhadap IHSG, Stockbit mencatat BYAN sebagai penyumbang kenaikan terbesar dengan 10,24 poin. BMRI menyusul sebesar 7,17 poin, BREN 6,21 poin, AMMN 6,09 poin, dan BBRI 4,42 poin.

Kelima saham tersebut menyumbang sekitar 34,13 poin, setara 37,7% dari kenaikan IHSG sebesar 90,64 poin.

Kontribusi saham berkapitalisasi besar tetap penting, tetapi dominasi 550 saham yang menguat memperlihatkan bahwa kenaikan berlangsung lebih luas daripada kelompok penyumbang indeks terbesar.

Jual Bersih Asing Hanya Berkurang 0,83%

Penguatan harga belum diikuti perubahan besar dalam transaksi investor asing.

Menurut Stockbit Sekuritas, investor asing membukukan pembelian sekitar Rp2,70 triliun dan penjualan Rp3,27 triliun selama sesi I. Selisihnya menghasilkan jual bersih Rp576,78 miliar di seluruh pasar.

Pada sesi I Rabu, 21 Oktober, jual bersih asing mencapai Rp581,59 miliar dengan cakupan seluruh pasar yang sama. Penjualan bersih pada Kamis hanya menyusut sekitar 0,83%.

Dengan demikian, perubahan keluasan pasar jauh lebih besar daripada perubahan arus transaksi asing.

Top 10 Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell

Seluruh pasar, sesi I 22 Oktober 2026. Nilai dalam miliar rupiah.

Net foreign buy Rp miliar Net foreign sell Rp miliar
BMRI 60,40 BBCA 331,74
DMAS 43,40 BBRI 148,42
ENRG 24,95 TLKM 85,44
PTRO 18,97 BBNI 28,19
AMMN 18,09 BRMS 27,47
SINI 15,23 BRIS 22,31
MDKA 14,94 ASII 20,14
SQMI 12,50 BUMI 18,64
BNBR 9,79 TPIA 15,88
AALI 6,96 BRPT 14,28

Sumber: Stockbit Sekuritas, Foreign Activity Midday, 22 Oktober 2026. Nilai per saham merupakan estimasi menggunakan harga rata-rata sesi I. Kolom penjualan menampilkan besaran jual bersih tanpa tanda negatif.

Penjualan bersih asing terbesar terkonsentrasi pada BBCA sebesar Rp331,74 miliar, BBRI Rp148,42 miliar, dan TLKM Rp85,44 miliar.

Sebaliknya, pembelian bersih asing terbesar terjadi pada BMRI sebesar Rp60,40 miliar, disusul DMAS Rp43,40 miliar dan ENRG Rp24,95 miliar.

Arah transaksi tersebut menunjukkan perbedaan posisi asing di antara saham-saham utama, termasuk sektor perbankan.

BBRI dan TLKM tetap memberikan kontribusi positif terhadap IHSG meskipun mencatat estimasi penjualan bersih asing. Harga kedua saham menguat pada saat asing menjadi penjual bersih, memperlihatkan bahwa arah transaksi asing dan arah perubahan harga tidak selalu sama.

Kondisi ini sejalan dengan penguatan pasar yang didukung pembelian investor lain, sementara investor asing secara agregat masih menjual lebih banyak daripada membeli.

Penutupan Sesi II Akan Menguji Ketahanan Penguatan

IHSG mengakhiri sesi pertama dengan penguatan yang lebih luas daripada sehari sebelumnya. Namun, volatilitas pasar masih tinggi. Menurut RTI Business, kinerja indeks dalam lima hari perdagangan terakhir tetap negatif 7,59% pada waktu pengamatan.

Perhatian pada sesi II tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan posisi di atas penutupan Rabu sebesar 5.328,36, dominasi saham yang menguat, serta keberlanjutan kenaikan LQ45 dan IDX30.

Penguatan yang bertahan hingga penutupan dengan dukungan mayoritas saham akan memberikan konfirmasi tambahan. Sebaliknya, penyusutan tajam jumlah saham naik, pelemahan indeks likuid, atau kembalinya IHSG ke bawah penutupan sebelumnya akan menunjukkan bahwa pemulihan sesi I kehilangan kekuatan.

Arus asing menjadi indikator pelengkap. Perubahan tekanan jual perlu dibandingkan menggunakan data dengan cakupan pasar yang sama, bukan mencampurkan angka pasar reguler dan seluruh pasar.

Kenaikan 1,70% telah memperbaiki keluasan pasar. Bukti berikutnya adalah kemampuan mempertahankan penguatan tersebut hingga penutupan, ketika tekanan jual dan distribusi kenaikan kembali diuji.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes