IHSG Turun 1,75% dan Seluruh Sektor Melemah, Koreksi Menyebar ke Small-Mid Cap
IHSG sempat jatuh ke 6.161 sebelum pulih ke 6.204. Namun, hanya 80 saham menguat berbanding 594 yang melemah, seluruh sektor turun, dan investor asing mencatat net foreign sell All Market Rp759,46 miliar.
Tekanan yang pada penutupan 23 Juli masih terkonsentrasi pada saham besar dan indeks likuid telah menyebar ke pasar yang lebih luas pada sesi pertama 24 Juli 2026.
IHSG turun 110,68 poin atau 1,75% ke 6.204,63. Indeks small-mid cap terkoreksi lebih dalam daripada IHSG, sementara tidak ada satu pun sektor yang mampu bergerak positif pada Midday.
Data tersebut menunjukkan bahwa koreksi tidak lagi terbatas pada beberapa saham berkapitalisasi besar. Namun, arah penutupan belum terkunci karena IHSG telah pulih 43,50 poin dari titik terendah dan penjualan asing masih bertumpu pada beberapa saham.
IHSG Pulih 43 Poin dari Titik Terendah, tetapi Struktur Intraday Tetap Lemah
IHSG dibuka di 6.266,98, sekitar 48 poin di bawah penutupan 23 Juli di 6.315,31. Indeks hanya sempat naik ke 6.268,53 sebelum turun ke titik terendah 6.161,13.
Pada Midday, IHSG berada di 6.204,63. Indeks telah pulih 43,50 poin atau sekitar 0,71% dari titik terendah, tetapi masih berada 62,34 poin di bawah posisi pembukaan.
Struktur intraday karena itu tetap lemah. IHSG kehilangan area 6.300, gagal kembali ke harga pembukaan, dan sempat bergerak di bawah 6.200.
Pemulihan dari titik terendah menunjukkan bahwa tekanan tidak terus membesar sampai akhir sesi pertama, tetapi belum membuktikan pembalikan.
Nilai transaksi All Market mencapai Rp10,52 triliun, dengan volume 24,61 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,46 juta transaksi. Karena pembanding historis khusus sesi pertama tidak tersedia, aktivitas tersebut belum dapat dinilai lebih tinggi atau lebih rendah daripada kondisi normal.
Breadth dan Seluruh Sektor Menghapus Bantalan Pasar
Bukti terkuat mengenai luasnya koreksi berasal dari breadth pasar.
Hanya 80 saham yang menguat, sedangkan 594 saham turun dan 115 tidak berubah. Jumlah saham turun sekitar 7,4 kali jumlah saham naik. Dari saham yang bergerak, sekitar 88% berada di zona negatif.
Lima sektor dengan tekanan terdalam adalah:
| Sektor | Perubahan |
|---|---|
| Barang konsumen siklikal | -3,21% |
| Barang baku | -3,12% |
| Energi | -2,65% |
| Transportasi | -2,59% |
| Infrastruktur | -2,53% |
Sektor perindustrian, finansial, barang konsumen primer, properti, kesehatan, dan teknologi juga melemah. Kesehatan dan teknologi mencatat penurunan paling ringan, masing-masing 0,92% dan 0,77%, tetapi belum memberikan bantalan positif.
Kondisi ini berbeda dari penutupan sebelumnya, ketika tujuh dari sebelas sektor masih menguat. Koreksi sesi pertama 24 Juli karena itu tidak dapat dijelaskan hanya oleh pergerakan beberapa saham berkapitalisasi besar.
Small-Mid Cap Berubah dari Penyangga Menjadi Kelompok Tertinggal
Perubahan struktur juga terlihat pada perbandingan antarindeks.
| Indeks | Perubahan |
|---|---|
| IDX30 | -1,50% |
| LQ45 | -1,66% |
| IHSG | -1,75% |
| IDX80 | -2,03% |
| IDX Small-Mid Cap Composite | -2,19% |
| IDX Small-Mid Cap Liquid | -2,22% |
IDX30 dan LQ45 sama-sama melemah, tetapi koreksi lebih dalam terjadi pada IDX80 serta dua indeks small-mid cap.
Pada 23 Juli, kelompok small-mid cap masih bertahan positif ketika IHSG dan indeks likuid melemah. Ketahanan relatif tersebut hilang pada sesi pertama 24 Juli. SMC Composite dan SMC Liquid bahkan turun lebih dalam daripada IHSG.
Perubahan tersebut memperkuat pembacaan bahwa tekanan harga telah menyebar ke luar kelompok saham berkapitalisasi besar. Meski demikian, data satu sesi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pelemahan small-mid cap akan berkembang menjadi tren yang berkelanjutan.
Foreign Sell Rp759 Miliar Besar, tetapi Tidak Merata
Investor asing mencatat pembelian Rp2,89 triliun dan penjualan Rp3,65 triliun di seluruh pasar. Hasilnya adalah net foreign sell All Market Rp759,46 miliar.
Top 10 Net Foreign Buy
| Saham | Estimasi nilai |
|---|---|
| BBRI | Rp176,97 miliar |
| ASII | Rp36,34 miliar |
| BBCA | Rp34,17 miliar |
| ANTM | Rp13,42 miliar |
| ADRO | Rp11,06 miliar |
| AADI | Rp10,22 miliar |
| ITMG | Rp9,28 miliar |
| ERAA | Rp7,62 miliar |
| BNBR | Rp6,93 miliar |
| AKRA | Rp5,71 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell
| Saham | Estimasi nilai |
|---|---|
| BMRI | Rp386,06 miliar |
| BUMI | Rp142,89 miliar |
| CUAN | Rp123,37 miliar |
| TPIA | Rp113,07 miliar |
| PTRO | Rp55,68 miliar |
| AMMN | Rp43,90 miliar |
| DEWA | Rp43,49 miliar |
| TINS | Rp30,17 miliar |
| ENRG | Rp26,34 miliar |
| DSSA | Rp25,73 miliar |
Empat penjualan terbesar pada BMRI, BUMI, CUAN, dan TPIA mencapai sekitar Rp765,39 miliar. Nilai tersebut sedikit lebih besar daripada net foreign sell agregat karena pembelian asing pada saham lain mengimbangi sebagian tekanan.
BBRI mencatat pembelian bersih terbesar sekitar Rp176,97 miliar. ASII dan BBCA juga masih berada dalam kelompok pembelian asing.
Pembacaan yang lebih tepat adalah penjualan asing besar tetapi terkonsentrasi, bukan penjualan merata pada seluruh saham. Luasnya koreksi harga justru lebih kuat ditunjukkan oleh breadth, penurunan seluruh sektor, dan tertinggalnya small-mid cap.
Nilai transaksi asing per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas berdasarkan harga rata-rata sesi pertama.
Kondisi Eksternal Kurang Mendukung, tetapi Bukan Penyebab Tunggal
Latar eksternal juga cenderung negatif. Snapshot pasar menunjukkan S&P 500 turun 1,21%, Hang Seng melemah 1,24%, Shanghai Composite turun 1,22%, dan Nikkei terkoreksi 2,91%.
USD/IDR berada di sekitar 17.977,90 atau naik 0,49% pada snapshot aplikasi pasar. Angka tersebut bukan JISDOR resmi Bank Indonesia sehingga hanya digunakan sebagai indikasi kondisi intraday.
Kondisi ini konsisten dengan suasana risk-off, tetapi komoditas tidak bergerak seragam. Minyak mentah dan Brent melemah, sedangkan CPO, nikel, tembaga, aluminium, dan timah masih positif.
Belum ada bukti yang cukup untuk menetapkan satu faktor eksternal sebagai penyebab utama koreksi IHSG. Pelemahan pasar global dan rupiah lebih tepat dibaca sebagai konteks tambahan yang memperbesar tekanan di tengah memburuknya struktur pasar domestik.
Ujian Sesi Kedua Ada di 6.200, Breadth, dan Foreign Flow
Data sesi pertama sudah cukup untuk menunjukkan bahwa koreksi telah meluas. Yang belum diketahui adalah apakah tekanan tersebut bertahan sampai penutupan.
Tekanan akan mendapat konfirmasi tambahan apabila IHSG kembali bergerak di bawah 6.200, mendekati atau menguji titik terendah 6.161, dan jumlah saham turun tetap berada di atas 500. Risiko juga meningkat jika small-mid cap terus tertinggal serta net foreign sell All Market melebar melampaui Rp1 triliun.
Sebaliknya, tekanan mulai menunjukkan peredaan apabila IHSG bergerak di atas 6.230 dan kembali mendekati rentang pembukaan 6.260 sampai 6.270. Perbaikan akan lebih berarti jika jumlah saham turun berkurang, beberapa sektor kembali positif, small-mid cap pulih lebih cepat, dan penjualan asing berhenti melebar.
Area 6.200 belum dapat disebut sebagai support yang sudah terkonfirmasi. Level tersebut masih menjadi area pemantauan, sementara 6.161 menjadi batas intraday untuk menilai apakah tekanan kembali meningkat.
Kesimpulan Midday adalah koreksi telah menyebar ke hampir seluruh struktur pasar. Namun, pemulihan dari titik terendah dan konsentrasi penjualan asing membuat kualitas penutupan tetap menjadi penentu utama.
Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.