Banyu Capital

IHSG Rebound 2,69% ke Atas 6.000, tetapi Asing Masih Jual BMRI dan BBRI

IHSG kembali menguat tajam pada sesi 1 perdagangan Kamis, 25 Juni 2026. Setelah sehari sebelumnya jatuh ke bawah 5.900, indeks berhasil merebut kembali area 6.000 dan berada di 6.041,93, naik 158,05 poin atau 2,69%.

Namun, penguatan ini belum otomatis berarti risiko pasar selesai. Arus asing memang kembali positif secara all market, tetapi tekanan jual masih besar pada BMRI dan BBRI. Dengan kata lain, rebound sesi 1 terlihat lebih sehat dibanding tekanan 24 Juni, tetapi kualitasnya masih perlu diuji sampai penutupan.

Konteks hari sebelumnya penting. Pada 24 Juni, IHSG gagal mempertahankan area psikologis 6.000 dan ditutup di 5.883,881, turun 3,56%. Tekanan juga luas, dengan hanya 98 saham naik, 611 saham turun, dan asing mencatat net sell Rp1,17 triliun.

Keputusan MSCI memberi ruang bernapas karena Indonesia tidak langsung turun dari status Emerging Markets. Namun, ini bukan validasi penuh. Indonesia masih berada dalam masa pembuktian sampai November 2026, sehingga respons pasar tetap perlu dibaca lewat foreign flow, saham likuid, rupiah, dan kualitas partisipasi pasar.

Dashboard Market Notes Midday 25 Juni 2026 tentang IHSG rebound dan foreign flow
Dashboard Market Notes Midday 25 Juni 2026 merangkum rebound IHSG ke atas 6.000, perbaikan breadth pasar, penguatan seluruh sektor, serta foreign flow yang masih selektif pada sesi 1.

IHSG Rebut Kembali 6.000

Data RTI Business mencatat IHSG berada di 6.041,932 pada sesi 1. Indeks dibuka di 5.873,070, sempat menyentuh level terendah 5.864,004, lalu bergerak naik hingga level tertinggi 6.056,200.

Nilai transaksi mencapai Rp7,968 triliun, dengan volume 13,715 miliar saham dan frekuensi 1.036.245 kali. Kapitalisasi pasar IDX tercatat Rp10.618,001 triliun.

Kualitas pasar juga membaik dibanding sehari sebelumnya. RTI Business mencatat 535 saham naik, 139 saham turun, dan 134 saham stagnan. Komposisi ini berbalik jauh dari EOD 24 Juni, ketika saham turun mendominasi pasar.

Artinya, rebound hari ini tidak hanya terlihat di headline IHSG. Di bawah permukaan, partisipasi pasar ikut membaik. Ini membuat sesi 1 lebih layak dibaca sebagai pemulihan awal yang cukup luas, bukan sekadar pantulan satu atau dua saham besar.

Semua Sektor Hijau, tetapi Finance Belum Memimpin

Penguatan sesi 1 terlihat merata di sektor BEI. Seluruh sektor bergerak hijau.

Infrastructure menjadi sektor terkuat dengan kenaikan 4,16%. Transportation menguat 3,50%, Healthcare 3,40%, Industrial 3,00%, dan Basic Industry 2,98%. Sektor Cyclical naik 2,56%, Energy 2,55%, Non-Cyclical 2,49%, Property 2,24%, Finance 1,70%, dan Technology 1,26%.

Komposisi ini memberi dua pesan. Pertama, rebound tidak hanya bertumpu pada sektor bank. Kedua, sektor-sektor yang sebelumnya tertekan ikut memantul, termasuk Basic Industry dan Energy.

Namun, Finance yang hanya naik 1,70% menjadi catatan penting. Kenaikannya lebih rendah dari IHSG. Ini menunjukkan saham bank belum menjadi pemimpin utama rebound, meskipun indeks berhasil kembali ke atas 6.000.

Penguatan sektor komoditas juga perlu dibaca hati-hati. Data global masih campuran. Brent turun 1,27%, CPO turun 0,91%, aluminium turun 4,27%, dan timah turun 5,71%. Di sisi lain, nikel naik 0,89%, tembaga naik 1,02%, dan gas naik 0,40%. Jadi, rebound sektor komoditas di BEI belum sepenuhnya didukung oleh harga komoditas global yang merata.

Asing Net Buy, tetapi Arusnya Selektif

Sinyal asing membaik, tetapi belum kuat. Stockbit Sekuritas mencatat foreign buy all market sebesar Rp3,38 triliun dan foreign sell Rp3,19 triliun. Dengan demikian, asing mencatat net foreign buy Rp187,62 miliar pada sesi 1.

Angka ini positif karena berbalik dari tekanan jual besar pada 24 Juni. Namun, nilainya masih kecil dibanding turnover sesi 1 yang mencapai hampir Rp8 triliun. Karena itu, arus asing hari ini lebih tepat dibaca sebagai perbaikan awal, bukan pembalikan arah yang sudah kuat.

Yang juga penting, arus asing belum merata di saham bank besar. BBCA menjadi top net foreign buy dengan Rp92,77 miliar. Namun, BMRI justru menjadi top net foreign sell terbesar dengan Rp162,42 miliar, disusul BBRI Rp69,11 miliar.

Ini menunjukkan asing tidak sedang membaca semua bank besar dengan arah yang sama. Ada pembelian di BBCA, tetapi tekanan masih terlihat pada BMRI dan BBRI. Bagi IHSG, ini penting karena bank besar biasanya menjadi barometer minat investor institusional terhadap saham likuid Indonesia.

Top 10 Net Foreign Buy

No Saham Net Foreign Buy
1 BBCA Rp92,77 miliar
2 NATO Rp86,16 miliar
3 BANK Rp62,56 miliar
4 TPIA Rp61,68 miliar
5 DSSA Rp45,31 miliar
6 ANTM Rp29,47 miliar
7 ASII Rp19,25 miliar
8 UNVR Rp13,14 miliar
9 BRPT Rp11,65 miliar
10 ICBP Rp9,74 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

No Saham Net Foreign Sell
1 BMRI Rp162,42 miliar
2 BBRI Rp69,11 miliar
3 KLBF Rp20,10 miliar
4 BUMI Rp17,49 miliar
5 AMMN Rp14,65 miliar
6 JSMR Rp14,35 miliar
7 DEWA Rp14,21 miliar
8 BUVA Rp12,17 miliar
9 ISAT Rp11,27 miliar
10 ITMG Rp11,03 miliar

Komposisi ini menunjukkan asing tidak keluar serempak dari pasar, tetapi juga belum kembali secara merata. BBCA menjadi tempat masuk dana asing, sementara BMRI dan BBRI masih menjadi sumber tekanan.

Rebound Membaik, Validasi Belum Penuh

Secara teknikal dan breadth, sesi 1 hari ini jauh lebih baik dibanding EOD 24 Juni. IHSG kembali ke atas 6.000, saham naik dominan, seluruh sektor hijau, dan indeks likuid seperti IDX30, LQ45, serta SRI-KEHATI ikut menguat.

Namun, ada dua alasan mengapa validasi belum penuh.

Pertama, net foreign buy masih tipis. Angka Rp187,62 miliar belum cukup kuat untuk menyimpulkan asing sudah kembali agresif ke pasar Indonesia.

Kedua, bank besar belum satu arah. BBCA dibeli asing, tetapi BMRI dan BBRI masih dijual. Selama tekanan asing masih muncul pada bank besar, rebound IHSG perlu dibaca sebagai pemulihan awal yang masih membutuhkan konfirmasi.

Kenaikan IHSG hari ini memberi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing sudah kembali percaya secara merata pada saham likuid Indonesia.

Konteks MSCI juga belum selesai. Status Indonesia memang bertahan di Emerging Markets, tetapi MSCI masih memberi waktu sampai November untuk melihat bukti reformasi pasar. Karena itu, pasar tidak hanya perlu rebound harga. Pasar perlu membuktikan bahwa foreign flow, saham likuid, dan kualitas partisipasi pasar ikut membaik.

Data yang Perlu Dipantau Sampai Penutupan

Ada beberapa indikator yang perlu diperhatikan sampai penutupan.

Pertama, apakah IHSG mampu bertahan di atas 6.000. Jika indeks kembali turun ke bawah area ini, rebound sesi 1 berisiko hanya menjadi relief bounce.

Kedua, apakah net foreign buy bertambah atau justru berbalik menjadi net sell pada EOD. Ini penting untuk menilai apakah asing mulai kembali atau hanya melakukan pembelian selektif.

Ketiga, apakah tekanan pada BMRI dan BBRI mengecil. Jika dua saham ini tetap menjadi pusat jual asing, kualitas rebound masih perlu diuji.

Keempat, apakah sektor Finance mampu mengejar penguatan IHSG. Jika Finance tetap tertinggal, pasar masih belum mendapat dukungan penuh dari saham bank besar.

Kelima, apakah breadth tetap kuat sampai penutupan. Jika jumlah saham naik tetap dominan, rebound akan terlihat lebih sehat. Jika saham turun mulai mengejar, kualitas pemulihan perlu dibaca lebih hati-hati.

Keenam, rupiah tetap perlu dipantau. USD/IDR berada di sekitar 17.925 pada sesi 1. Level ini masih dekat dengan Rp18.000 per dolar AS, sehingga tetap menjadi variabel risiko bagi aset rupiah.

Untuk saat ini, pesan pasar cukup jelas: rebound hari ini lebih sehat daripada tekanan kemarin, tetapi belum final. IHSG sudah merebut kembali 6.000. Tugas berikutnya adalah membuktikan bahwa level ini bisa dipertahankan dengan dukungan foreign flow yang lebih kuat dan lebih merata.

Sumber: RTI Business, Stockbit Sekuritas, Banyu Capital, MSCI.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes