Banyu Capital

IHSG Nyaris Datar, tetapi 426 Saham Menguat: Breadth Pasar Membaik

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG hanya naik 0,03% ke 6.038,99 pada akhir sesi I 5 Oktober 2026. Namun perubahan indeks tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi pasar. Sebanyak 426 saham menguat dan 221 melemah, sementara IDX30 naik 0,38% dan LQ45 0,14%.

Struktur internal pasar lebih kuat daripada yang terlihat dari pergerakan IHSG. Namun penguatan harga belum solid. IHSG sempat mencapai 6.085,45 sebelum kembali ke 6.038,99, sementara investor asing masih mencatat net foreign sell sekitar Rp205 miliar.

Data sesi pertama menambah bukti bahwa tekanan pasar mulai stabil setelah tekanan pada awal Oktober. Bukti tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi bottom.

Dashboard Market Notes Midday IHSG 5 Oktober 2026 yang menampilkan IHSG 6.038,99, breadth 426 saham naik berbanding 221 turun, IDX30 dan LQ45, serta net foreign sell Rp205 miliar
IHSG hanya naik 0,03% pada sesi I 5 Oktober 2026, tetapi partisipasi pasar lebih positif dengan 426 saham naik berbanding 221 turun. IDX30 dan LQ45 juga mengungguli IHSG, sementara investor asing masih mencatat net sell Rp205 miliar.

426 Saham Naik Menunjukkan Perbaikan di Bawah Permukaan

IHSG dibuka di 6.055,16, sempat mencapai 6.085,45, lalu kembali ke 6.038,99 menjelang jeda perdagangan. Low sesi berada di 6.019,84.

Nilai transaksi All Market mencapai sekitar Rp5,08 triliun dengan volume 21,09 miliar saham dan frekuensi 977.981 kali.

Di bawah pergerakan indeks yang nyaris datar, breadth jauh lebih positif. Sebanyak 426 saham naik dan 221 turun, sementara 144 saham tidak berubah. Jumlah saham naik mencapai sekitar 1,9 kali jumlah saham turun.

Delapan dari sebelas sektor berada di zona positif. Properti memimpin dengan kenaikan 1,00%, sedangkan Teknologi menjadi tekanan terbesar dengan penurunan 2,13%.

Breadth sesi I dengan demikian lebih positif daripada perubahan IHSG: indeks hanya naik 0,03%, sementara jumlah saham naik hampir dua kali saham turun.

IDX30 dan LQ45 Mengungguli IHSG

Perbaikan breadth berjalan bersamaan dengan penguatan indeks saham likuid.

IDX30 naik 0,38% dan LQ45 menguat 0,14%. Keduanya mengungguli IHSG yang hanya naik 0,03%.

Penguatan IDX30 dan LQ45 menunjukkan bahwa kondisi positif sesi I juga terlihat pada kelompok saham likuid, bukan hanya pada breadth pasar secara agregat.

Namun penguatan harga tidak bertahan sepenuhnya. Dari high 6.085,45, IHSG kembali ke 6.038,99 menjelang jeda perdagangan, atau sekitar 46 poin di bawah titik tertinggi sesi.

Artinya, partisipasi pasar membaik dan indeks saham likuid relatif lebih kuat, tetapi harga IHSG belum menunjukkan penguatan dengan kualitas yang sama.

Foreign Sell Tidak Lagi Terkonsentrasi di GOTO

Investor asing mencatat pembelian sekitar Rp1,41 triliun dan penjualan Rp1,61 triliun di All Market hingga akhir sesi pertama. Selisihnya menghasilkan net foreign sell sekitar Rp205 miliar.

Angka tersebut tidak dapat dibandingkan langsung dengan net sell Rp1,27 triliun pada 2 Oktober karena periode pengukurannya berbeda. Data 5 Oktober baru mencakup sesi pertama, sedangkan angka 2 Oktober merupakan perdagangan satu hari penuh.

Perubahan yang lebih relevan terlihat pada komposisinya.

Pada 2 Oktober, GOTO mencatat net sell sekitar Rp935,9 miliar, setara sekitar 73,5% net sell agregat pasar. Pada sesi pertama 5 Oktober, GOTO justru mencatat net buy sekitar Rp18,02 miliar.

Tidak seperti 2 Oktober yang sangat terkonsentrasi di GOTO, net sell sesi I 5 Oktober terlihat pada sejumlah saham besar. BBRI menjadi tekanan terbesar dengan sekitar Rp74,18 miliar, diikuti BUMI Rp29,45 miliar, AMMN Rp28,99 miliar, dan TINS Rp23,55 miliar.

Hilangnya distorsi GOTO belum dapat dibaca sebagai pembalikan foreign flow. Investor asing secara agregat masih berada di sisi jual.

Top 10 Net Foreign Buy

Saham Net Buy
BMRI Rp27,90 miliar
GOTO Rp18,02 miliar
BUVA Rp13,17 miliar
ULTJ Rp11,63 miliar
BBNI Rp9,54 miliar
PKPK Rp9,17 miliar
TPIA Rp7,72 miliar
EMAS Rp7,54 miliar
PACK Rp7,07 miliar
WIFI Rp6,67 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

Saham Net Sell
BBRI -Rp74,18 miliar
BUMI -Rp29,45 miliar
AMMN -Rp28,99 miliar
TINS -Rp23,55 miliar
TLKM -Rp17,60 miliar
DSSA -Rp17,38 miliar
UNTR -Rp16,43 miliar
ENRG -Rp15,11 miliar
KIJA -Rp10,52 miliar
BRIS -Rp10,15 miliar

Harga Belum Menguji Kembali Area Low Awal Oktober

Low sesi I di 6.019,84 masih sekitar 40 poin di atas low 2 Oktober di 5.979,98 dan sekitar 47 poin di atas low 1 Oktober di 5.973,16.

Pada 2 Oktober, IHSG sempat menyentuh 5.979,98 sebelum berbalik dan ditutup di 6.036,89. Pergerakan tersebut lebih konsisten dengan stabilisasi awal daripada konfirmasi bahwa bottom telah terbentuk.

Sesi I 5 Oktober belum menguji kembali area tersebut. Perbedaannya terletak pada breadth yang lebih positif serta IDX30 dan LQ45 yang mengungguli IHSG.

Namun jarak dari low saja tidak cukup untuk menunjukkan perubahan tren. IHSG juga telah kehilangan sebagian besar kenaikannya setelah mencapai 6.085,45.

Pada snapshot intraday yang tersedia, USD/IDR berada di sekitar 17.954. Data tersebut merupakan harga pasar intraday, bukan JISDOR, sehingga pergerakan rupiah ditempatkan sebagai konteks pemantauan dan bukan bukti utama tesis sesi pertama.

Sesi II Menguji Apakah Perbaikan Bertahan

Sesi pertama menghasilkan tiga bukti yang lebih konstruktif: breadth 426 saham naik berbanding 221 turun, delapan dari sebelas sektor positif, serta IDX30 dan LQ45 yang mengungguli IHSG.

Namun ada dua penahan. IHSG turun cukup jauh dari high sesi dan investor asing masih mencatat net sell pada sejumlah saham besar.

Sesi II karena itu menguji keberlanjutan perbaikan, bukan mengonfirmasi bottom.

Low sesi I 6.019,84 menjadi referensi harga terdekat. Area 5.973–5.980 tetap lebih penting untuk menguji tesis stabilisasi yang terbentuk sejak 1–2 Oktober.

Bukti berikutnya adalah apakah breadth tetap positif, IDX30 dan LQ45 mempertahankan relative strength, serta net foreign sell tidak berakselerasi.

Jika kondisi tersebut bertahan hingga EOD, bukti stabilisasi menjadi lebih konsisten. Sebaliknya, pengujian kembali area 5.973–5.980 yang disertai memburuknya breadth dan tekanan asing yang meningkat akan melemahkan tesis.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes