IHSG Hapus Kenaikan Awal, 333 Saham Melemah dan Asing Net Sell Rp339 Miliar
IHSG menghapus seluruh kenaikan awal dan berakhir nyaris datar pada sesi pertama Kamis, 6 Agustus 2026. Tujuh sektor masih menguat, tetapi 333 saham melemah, LQ45 turun tipis, dan investor asing mencatat net sell All Market Rp339,05 miliar.
Level indeks nyaris tidak berubah, tetapi partisipasi saham dan arus dana asing belum mengonfirmasi pembukaan yang kuat.
Sehari sebelumnya, IHSG naik 0,50% dengan 406 saham dan sembilan sektor yang menguat. Penguatan itu belum mendapat konfirmasi penuh dari LQ45, IDX30, sektor Keuangan, dan arus asing. Kesenjangan tersebut kembali terlihat pada sesi pertama 6 Agustus.
Kenaikan 37 Poin Menguap Sebelum Jeda Siang
IHSG dibuka di 6.379,918, atau 28,779 poin di atas penutupan sebelumnya. Indeks kemudian mencapai 6.388,204, naik 37,065 poin, sebelum berbalik ke 6.324,061.
Pemulihan menjelang jeda siang membawa IHSG kembali ke 6.351,337. Posisi tersebut hanya 0,198 poin atau sekitar 0,003% di atas penutupan sebelumnya, yang dibulatkan platform menjadi 0,00%.
Rentang sesi pertama mencapai 64,143 poin. Perubahan akhir yang nyaris nol tidak menggambarkan sesi yang tenang. Dorongan beli pada pembukaan memudar, lalu IHSG pulih dari titik terendah tanpa kembali mendekati puncak sesi.
Nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp10,367 triliun, dengan volume 34,721 miliar saham dan frekuensi 1.633.303 kali. Tanpa pembanding sesi pertama, belum dapat dipastikan apakah aktivitas tersebut tergolong tinggi atau rendah.
Tujuh Sektor Hijau Tidak Mengubah Dominasi Saham Melemah
RTI Business mencatat 274 saham naik, 333 saham turun, dan 184 saham tidak berubah. Jumlah saham turun sekitar 1,22 kali saham yang menguat.
Perbandingannya berubah tajam dari 5 Agustus, ketika 406 saham naik dan 208 saham turun. IHSG tetap berada di sekitar level yang sama, tetapi partisipasi saham pada sesi pertama lebih lemah.
Tujuh sektor masih berada di zona positif. Industrial naik 1,35%, Transportasi dan Logistik 1,18%, serta Energi 0,63%. Barang Baku bertambah 0,17%, Barang Konsumen Siklikal dan Primer masing-masing 0,08%, sedangkan Infrastruktur naik 0,04%.
Kesehatan turun 1,13%, Teknologi 0,35%, Properti 0,10%, dan Keuangan 0,08%.
Jumlah sektor positif belum menghasilkan penguatan saham yang luas. Empat dari tujuh sektor penguat hanya naik 0,04% sampai 0,17%, sementara jumlah saham turun tetap lebih besar.
Saham likuid juga belum menguat serempak. LQ45 turun 0,01%, sedangkan IDX30 hanya bergerak tipis di wilayah positif. Sektor Keuangan yang masih negatif memperlihatkan bahwa pembukaan kuat belum diikuti pemulihan merata pada saham berkapitalisasi besar.
Pembelian pada Tiga Bank Besar Belum Mengubah Net Sell Agregat
Investor asing membukukan pembelian All Market Rp2,36 triliun dan penjualan Rp2,70 triliun. Selisihnya menghasilkan net foreign sell Rp339,05 miliar.
Nilai tersebut sekitar Rp156,28 miliar lebih besar daripada net sell Rp182,77 miliar sepanjang perdagangan 5 Agustus. Komposisi per saham tetap terbelah.
10 Saham dengan Net Foreign Buy Terbesar
| Saham | Nilai |
|---|---|
| PTRO | Rp82,12 miliar |
| BBRI | Rp72,70 miliar |
| BMRI | Rp58,21 miliar |
| BBNI | Rp32,92 miliar |
| ICBP | Rp24,16 miliar |
| TPIA | Rp18,66 miliar |
| TINS | Rp15,10 miliar |
| ERAA | Rp14,84 miliar |
| NCKL | Rp14,08 miliar |
| MDIA | Rp14,06 miliar |
10 Saham dengan Net Foreign Sell Terbesar
| Saham | Nilai |
|---|---|
| BBCA | Rp86,58 miliar |
| BRMS | Rp64,15 miliar |
| TLKM | Rp62,19 miliar |
| AMMN | Rp60,57 miliar |
| EMAS | Rp58,38 miliar |
| ANTM | Rp54,03 miliar |
| BUMI | Rp44,65 miliar |
| DEWA | Rp42,11 miliar |
| KOTA | Rp34,56 miliar |
| ARCI | Rp27,86 miliar |
BBRI, BMRI, dan BBNI secara gabungan mencatat estimasi net buy Rp163,83 miliar. Setelah dikurangi net sell BBCA Rp86,58 miliar, empat bank besar tersebut masih menghasilkan estimasi net buy sekitar Rp77,25 miliar.
Arus asing pada bank besar terbelah. BBRI, BMRI, dan BBNI mencatat pembelian bersih, sedangkan BBCA berada di sisi penjualan.
Penjualan terbesar juga terlihat pada TLKM serta sejumlah saham logam dan pertambangan. BRMS, AMMN, EMAS, ANTM, BUMI, DEWA, dan ARCI masuk dalam sepuluh besar net foreign sell.
Beberapa saham tersebut berada di sisi pembelian asing pada perdagangan sebelumnya. Perubahan arah dalam satu sesi mencerminkan rotasi cepat, belum tren arus dana baru.
Nilai net foreign buy dan net foreign sell per saham merupakan estimasi Stockbit berdasarkan harga rata-rata sesi pertama dan volume bersih asing.
Sesi Kedua Perlu Membuktikan Perbaikan yang Lebih Luas
Pemulihan sesi kedua akan lebih meyakinkan jika IHSG kembali melewati 6.388,204, jumlah saham naik kembali dominan, LQ45 dan sektor Keuangan berbalik positif, serta net foreign sell menyusut.
Titik terendah sesi pertama di 6.324,061 menjadi level yang perlu dipantau. Penurunan di bawah area tersebut, bersamaan dengan bertambahnya saham melemah dan penjualan asing, akan memperkuat risiko tekanan yang lebih luas.
Snapshot pasar menunjukkan rupiah melemah terhadap dolar AS, sementara Hang Seng, Nikkei, dan harga nikel berada di zona negatif. Waktu pencatatan setiap pasar berbeda, sehingga data tersebut hanya menjadi konteks kehati-hatian, bukan penyebab pergerakan IHSG yang telah terkonfirmasi.
Pemulihan dari titik terendah belum cukup. Bukti berikutnya harus datang dari jumlah saham naik yang membaik, saham likuid yang kembali menguat, sektor Keuangan yang pulih, dan tekanan jual asing yang mereda.
Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.