IHSG Turun 0,12% dengan 293 Saham Menguat, LQ45 dan IDX30 Tertinggal, Asing Net Sell Rp424 Miliar di All Market
Tekanan pasar pada Sesi I 7 September tidak lagi seluas Jumat. Sebanyak 293 saham menguat dan 292 melemah, sementara enam dari 11 sektor berada di zona positif.
Perbaikannya baru terlihat pada breadth dan partisipasi sektor. Harga, saham likuid, dan foreign flow belum memberikan konfirmasi yang sama. Kenaikan IHSG tidak bertahan, LQ45 dan IDX30 kembali tertinggal, sementara investor asing mencatat net sell Rp424,06 miliar di All Market.
IHSG mengakhiri Sesi I Senin, 7 September 2026, di 6.628,19, turun 8,29 poin atau 0,12%. Indeks membuka perdagangan di 6.652,09, sempat mencapai 6.667,75, lalu turun hingga 6.620,52. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp8,47 triliun.
Pada Jumat, 4 September, 363 saham melemah dan hanya 256 yang menguat, sementara delapan dari 11 sektor berada di zona negatif. Sesi I hari ini menunjukkan tekanan yang lebih sempit, tetapi belum diikuti pemulihan harga, saham likuid, dan arus dana asing secara bersamaan.
Breadth Membaik, tetapi Kenaikan ke Area 6.667 Tidak Bertahan
Sebanyak 293 saham menguat, 292 melemah, dan 203 tidak berubah.
Jumlah tersebut jauh lebih seimbang dibanding Jumat, ketika saham turun mencapai 363 dan saham naik hanya 256.
Partisipasi sektor juga membaik. Enam dari 11 sektor berada di zona positif, dibanding hanya tiga sektor pada penutupan Jumat. Energi memimpin dengan kenaikan 1,61%, diikuti Kesehatan 1,53%. Sektor Keuangan masih melemah 0,43%.
Penurunan IHSG 0,12% dengan struktur tersebut tidak menunjukkan tekanan seluas Jumat. Tetapi breadth juga belum cukup kuat untuk disebut dominan karena saham naik dan turun hanya berbeda satu saham.
Harga belum memberi sinyal yang sama. IHSG sempat mencapai 6.667,75, hampir sama dengan penutupan 3 September di 6.667,89, tetapi kenaikan tersebut tidak bertahan.
Pada posisi Midday, IHSG berada sekitar 39,56 poin di bawah intraday high dan hanya sekitar 7,67 poin di atas low Sesi I.
Small-Mid Caps Positif, Saham Likuid Masih Tertinggal
Kesenjangan antara saham likuid dan pasar yang lebih luas masih terlihat.
Saat IHSG turun 0,12%, LQ45 melemah 0,26% dan IDX30 turun 0,29%. Keduanya kembali berkinerja lebih lemah daripada IHSG.
Sebaliknya, IDX Small-Mid Cap Liquid naik 0,67% dan IDX Small-Mid Cap Composite menguat 0,41%.
Small-mid caps relatif lebih kuat, sementara kelompok saham besar dan likuid belum menunjukkan pola yang sama. Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa breadth hampir seimbang meski IHSG tetap berada di zona negatif.
Sektor Keuangan masih menjadi salah satu bagian yang tertinggal. Namun data kontribusi saham individual terhadap IHSG Sesi I belum tersedia, sehingga belum dapat dipastikan bahwa saham perbankan menjadi penyebab utama penurunan indeks.
Foreign Flow Belum Mengikuti Perbaikan Breadth
Arus dana asing masih menjadi bagian yang belum mendukung perbaikan pasar.
Data Stockbit Sekuritas menunjukkan pembelian asing sekitar Rp1,84 triliun dan penjualan Rp2,26 triliun selama Sesi I. Secara All Market, hasilnya adalah net sell Rp424,06 miliar.
Basis pasarnya penting. Data Pasar Reguler Sesi I belum tersedia sehingga angka Rp424,06 miliar tidak dapat dibandingkan langsung dengan net sell Rp317,01 miliar di Pasar Reguler pada Jumat.
Perbedaan basis tersebut terlihat pada 4 September. Saat itu All Market hanya mencatat net sell sekitar Rp29,80 miliar, sedangkan Pasar Reguler mencatat net sell Rp317,01 miliar.
Pasar saham AS juga libur Labor Day pada 7 September. Karena itu, foreign flow Sesi I lebih tepat dibaca sebagai kondisi transaksi di BEI daripada sebagai bukti perubahan arus modal global.
Top 10 Estimasi Net Foreign Buy
| Saham | Estimasi Net Buy |
|---|---|
| BUMI | Rp218,87 miliar |
| AADI | Rp46,11 miliar |
| PTBA | Rp38,91 miliar |
| IATA | Rp30,65 miliar |
| COIN | Rp18,57 miliar |
| UNTR | Rp14,43 miliar |
| DMAS | Rp13,55 miliar |
| DEWA | Rp11,53 miliar |
| INKP | Rp9,32 miliar |
| AMMN | Rp7,50 miliar |
BUMI mencatat estimasi net buy terbesar. Beberapa saham energi dan komoditas juga berada di bagian atas daftar, tetapi data satu sesi belum cukup untuk menunjukkan perubahan alokasi asing yang bersifat lebih luas atau persisten.
Top 10 Estimasi Net Foreign Sell
| Saham | Estimasi Net Sell |
|---|---|
| TPIA | Rp81,67 miliar |
| BBCA | Rp73,14 miliar |
| CUAN | Rp66,06 miliar |
| BBRI | Rp65,58 miliar |
| KLBF | Rp60,01 miliar |
| BMRI | Rp40,79 miliar |
| GOTO | Rp40,02 miliar |
| INET | Rp32,05 miliar |
| TINS | Rp32,02 miliar |
| EMAS | Rp20,41 miliar |
BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI secara gabungan mencatat estimasi net sell sekitar Rp189,84 miliar.
Angka transaksi asing per saham merupakan estimasi Stockbit berdasarkan rata-rata harga sesi dan net volume. Karena itu, data ini lebih tepat digunakan untuk membaca arah dan konsentrasi arus dana daripada sebagai nilai transaksi asing final per saham.
Sesi II Perlu Membuktikan Apakah Perbaikan Bisa Meluas
Sesi II akan menunjukkan apakah perbaikan breadth mulai diikuti harga, saham likuid, dan arus dana asing.
Bukti dari sisi harga akan bertambah jika IHSG kembali di atas penutupan Jumat di 6.636,48 dan kemudian mampu mendekati atau melewati 6.667,89.
Struktur internal juga akan membaik jika jumlah saham naik memperlebar keunggulan dan LQ45 serta IDX30 berhenti tertinggal. Penyempitan net sell All Market, atau perbaikan Pasar Reguler jika datanya tersedia, akan memberikan dukungan tambahan dari sisi arus dana.
Sebaliknya, pembacaan bahwa tekanan telah mereda akan melemah jika IHSG jatuh di bawah low Sesi I 6.620,52 bersamaan dengan kembali dominannya saham turun, menyusutnya jumlah sektor positif, dan semakin lebarnya ketertinggalan LQ45 serta IDX30.
Data Sesi I sudah menunjukkan bahwa breadth membaik dibanding Jumat. Bukti berikutnya adalah apakah harga, saham likuid, dan foreign flow ikut bergerak ke arah yang sama hingga penutupan.
Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.