Banyu Capital

Kita Baru Tahu Seberapa Pintar Kita Setelah Pasar Berhenti Membantu

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Ketika hampir semua yang dibeli naik, mudah mengira keuntungan sebagai bukti kemampuan. Kisah Leopold Aschenbrenner dan Ken Griffin menunjukkan bahwa investasi tidak hanya menguji seberapa benar kita membaca masa depan, tetapi juga apakah kita cukup disiplin untuk bertahan ketika keadaan berubah.

Ilustrasi editorial Weekend Read Banyu Capital tentang keberuntungan, pengalaman, risiko, dan kemampuan investor mempertahankan pilihan ketika pasar berubah
Weekend Read tentang keberuntungan, pengalaman, risiko, dan kemampuan untuk tetap memiliki pilihan ketika kondisi pasar berubah.

Ada masa ketika pasar terasa mudah.

Saham pertama yang kita beli naik. Saham kedua juga memberi keuntungan. Beberapa bulan kemudian, nilai portofolio tumbuh jauh lebih cepat daripada tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun.

Awalnya kita mungkin berkata, “Sepertinya saya beruntung.”

Setelah kejadian itu berulang, kalimatnya mulai berubah.

“Saya mulai paham cara kerja pasar.”

Lalu perlahan menjadi:

“Saya tahu saham seperti apa yang akan naik.”

Perubahan seperti ini manusiawi. Keuntungan memang membuat kita lebih percaya diri. Bahkan mungkin ada kemampuan yang benar-benar mulai terbentuk dari pengalaman dan riset.

Tetapi keuntungan saja belum cukup membuktikan kemampuan investasi. Kita juga perlu memahami dari mana keuntungan itu datang, risiko apa yang diambil untuk mendapatkannya, dan apa yang terjadi ketika pasar berhenti membantu.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:

Berapa banyak saya untung?

Tetapi:

Mengapa saya bisa untung?

Apakah analisis kita memang bagus? Apakah sektor yang kita pilih sedang naik? Apakah hampir seluruh pasar sedang bullish? Atau sebagian keuntungan itu memang datang dari keberuntungan?

Pertanyaan seperti ini jarang terasa penting ketika portofolio masih hijau.

Kadang pasar baru memberikan jawabannya ketika ukuran posisi sudah jauh lebih besar.

Ketika Keberhasilan Datang Lebih Cepat daripada Pengalaman

Leopold Aschenbrenner datang ke dunia investasi dari tempat yang tidak biasa.

Ia merupakan mantan peneliti OpenAI yang kemudian dikenal melalui pandangannya tentang perkembangan kecerdasan buatan. Pada 2024, ia mendirikan hedge fund bernama Situational Awareness.

Taruhannya pada perusahaan-perusahaan terkait AI menghasilkan keuntungan luar biasa. Reuters melaporkan fund tersebut mencatat return sekitar 439% sampai akhir Juni 2026.

Visual editorial Leopold Aschenbrenner sebagai sosok dalam kisah tentang conviction, keberhasilan, dan risiko investasi
Leopold Aschenbrenner menjadi salah satu figur utama dalam kisah ini. Conviction terhadap tema AI sebelumnya menghasilkan keuntungan besar sebelum portofolio Situational Awareness menghadapi tekanan tajam pada Juli 2026.

Coba bayangkan berada di posisi itu.

Anda mempunyai pandangan besar tentang masa depan. Anda menaruh uang pada pandangan tersebut. Kemudian pasar seolah mengatakan bahwa Anda benar.

Berkali-kali.

Modal bertambah. Kepercayaan investor meningkat. Keyakinan terhadap tesis semakin besar.

Kemenangan seperti itu tidak hanya menambah uang. Ia juga bisa mengubah cara seseorang melihat risiko.

Posisi yang sebelumnya terasa besar mulai terasa biasa. Konsentrasi mulai terlihat seperti keyakinan yang kuat. Leverage yang sebelumnya agresif tampak lebih masuk akal selama harga terus bergerak ke arah yang diharapkan.

Ketika semuanya berjalan baik, proses yang membawa kita ke sana semakin jarang dipertanyakan.

Lalu Juli 2026 datang.

Satu Bulan Bisa Mengubah Arti Sebuah Rekam Jejak

Menurut surat kepada investor yang dilihat Reuters, nilai portofolio Situational Awareness jatuh 67% pada Juli 2026 setelah saham-saham terkait AI mengalami tekanan besar.

Namun ada angka lain yang membuat kisah ini lebih menarik.

Setelah penurunan tersebut, fund itu masih mencatat keuntungan sekitar 80% sepanjang 2026 karena keuntungan sebelum Juli sangat besar.

Jadi kita mempunyai dua angka:

Turun 67% dalam satu bulan.

Tetapi:

Masih naik sekitar 80% sejak awal tahun.

Apakah itu keberhasilan?

Atau peringatan?

Mungkin keduanya.

Di sinilah keterbatasan melihat return hanya dari angka akhirnya.

Return memberi tahu berapa banyak uang yang dihasilkan. Ia belum menjelaskan risiko yang harus diambil untuk menghasilkan uang tersebut.

Dua investor bisa sama-sama mencatat keuntungan 50%, tetapi mengambil risiko yang sangat berbeda. Yang satu mungkin menyebar modal ke beberapa posisi. Yang lain bergantung pada satu taruhan besar dengan leverage tinggi.

Selama harga naik, perbedaannya sulit terlihat.

Ketika harga jatuh, semuanya menjadi lebih jelas.

Reuters melaporkan Situational Awareness kemudian mengurangi sebagian besar portofolio saham publiknya. Fund tersebut juga menghapus seluruh leverage.

Aschenbrenner mengatakan kepada investornya bahwa posisi bergerak cepat melawan mereka ketika likuiditas pasar semakin tipis. Ia juga mengakui bahwa fund tersebut telah terlalu dekat dengan risiko kerusakan modal permanen.

Pada titik itu, pertanyaannya bukan lagi apakah saham AI suatu hari akan naik kembali.

Pertanyaannya berubah menjadi:

Apakah mereka masih punya waktu untuk menunggu?

Kita Bisa Benar tentang Masa Depan dan Tetap Kehilangan Uang Hari Ini

Benar atau salahnya pandangan jangka panjang Aschenbrenner tentang AI belum bisa dinilai dari kejadian Juli 2026.

Yang lebih penting bagi investor adalah hal lain.

Seseorang bisa benar tentang masa depan sebuah industri, tetapi tetap kehilangan banyak uang dalam perjalanan menuju masa depan tersebut.

Tesis bisa benar, tetapi ukuran posisi terlalu besar.

Tesis bisa benar, tetapi leverage terlalu tinggi.

Tesis bisa benar, tetapi harga bergerak berlawanan lebih lama daripada kemampuan kita bertahan.

Ada jarak antara mempunyai pandangan yang benar dan mempunyai portofolio yang sanggup bertahan.

Tanpa leverage, investor yang masih percaya pada fundamental biasanya mempunyai lebih banyak ruang untuk menunggu, selama kebutuhan uangnya aman.

Dengan leverage, ruang itu bisa menyempit cepat ketika harga turun dan likuiditas memburuk.

Reuters tidak merinci bahwa penjualan Situational Awareness dipicu oleh satu margin call tertentu. Yang diketahui, fund tersebut mengalami tekanan berat, sebagian besar saham publiknya dilepas, dan seluruh leverage kemudian dihapus.

Fleksibilitas fund berkurang drastis.

Menjadi benar pada akhirnya tidak banyak membantu jika kita tidak mampu bertahan sampai saat itu datang.

Prinsip ini juga relevan bagi investor ritel, walaupun mekanismenya berbeda.

Investor ritel biasanya tidak berhadapan dengan prime broker seperti sebuah hedge fund. Tetapi pilihan tetap bisa menyempit ketika satu posisi terlalu besar, uang investasi ternyata dibutuhkan untuk keperluan lain, atau modal terkunci di saham yang sulit dijual.

Skalanya berbeda.

Intinya sama: ketika kebutuhan menjual lebih kuat daripada kemampuan menunggu, kebebasan mengambil keputusan ikut berkurang.

Ketika Satu Investor Harus Bertindak, Investor Lain Masih Bisa Memilih

Saat Situational Awareness harus mengurangi risiko, Citadel milik Ken Griffin berada dalam posisi berbeda.

Reuters melaporkan Situational Awareness menjual sebagian besar taruhan sahamnya kepada Citadel. Sebagian posisi diperoleh Citadel dengan diskon lebih dari 10%.

Griffin dan beberapa eksekutif seniornya bekerja semalaman untuk mempelajari posisi yang akan mereka ambil, termasuk seberapa mudah posisi tersebut nantinya diperdagangkan.

Beberapa minggu kemudian, Citadel telah mengurangi lebih dari 80% risiko dari portofolio yang dibeli melalui hampir 100 transaksi blok bernilai lebih dari US$4 miliar.

Detail itu membuat kisahnya lebih menarik daripada sekadar “investor panik menjual, investor pintar membeli murah”.

Citadel tidak hanya mempunyai modal. Mereka juga mempunyai tim, sistem, jaringan, dan kemampuan memindahkan risiko dalam ukuran besar.

Kapasitas tersebut tentu tidak berarti setiap transaksi distress akan menguntungkan. Tetapi dalam kasus ini, perbedaan posisi kedua pihak terlihat jelas:

Satu pihak harus mengurangi risiko.

Pihak lain masih mempunyai lebih banyak pilihan.

Infografik tentang ruang pilihan investor ketika posisi terlalu besar, leverage tinggi, dan likuiditas memburuk
Ketika ukuran posisi, leverage, dan tekanan likuiditas meningkat, ruang untuk memilih dapat menyempit. Sebaliknya, likuiditas, kapasitas analisis, dan kemampuan menunggu dapat membantu menjaga optionality. Kas tetap memiliki biaya peluang, sehingga tujuannya bukan menimbun kas, melainkan menjaga fleksibilitas.

Dalam investasi, kemampuan mempertahankan pilihan ketika keadaan berubah sering disebut optionality.

Investor yang masih mempunyai ruang dapat membeli, menunggu, tidak melakukan apa pun, atau mengurangi risiko karena memang memilih melakukannya.

Likuiditas membantu menjaga ruang tersebut.

Bukan berarti semakin banyak kas selalu semakin baik. Terlalu banyak kas juga mempunyai biaya karena modal kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Yang penting adalah memiliki likuiditas yang cukup agar keputusan investasi tidak mudah ditentukan oleh keadaan darurat.

Pada hari biasa, likuiditas mungkin terasa tidak terlalu penting.

Ketika pasar bermasalah, manfaatnya menjadi lebih jelas:

kita masih mempunyai pilihan.

Ken Griffin Juga Pernah Berada di Bawah Tekanan

Jika cerita berhenti di sana, kesimpulannya akan terlalu mudah.

Leopold menjadi investor muda yang mengambil terlalu banyak risiko. Ken Griffin menjadi investor veteran yang memanfaatkan keadaan.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Citadel sendiri pernah mengalami salah satu periode tersulit dalam sejarahnya.

Pada 2008, dua fund utamanya, Kensington dan Wellington, turun sekitar 55% ketika krisis keuangan membuat pasar kredit membeku dan beberapa strategi Citadel mengalami tekanan besar.

Sempat muncul pertanyaan apakah Citadel dapat bertahan.

Perusahaan kemudian membatasi penarikan dana investor agar tidak harus menjual aset dalam kondisi pasar yang sangat buruk. Citadel juga mengurangi beberapa strategi yang membutuhkan leverage besar atau kehilangan sumber pembiayaan.

Penurunan 55% memberikan pelajaran matematika sederhana.

Jika modal 100 turun menjadi 45, dibutuhkan kenaikan sekitar 122% untuk kembali ke 100.

Itulah mengapa drawdown besar sangat menyakitkan.

Semakin dalam modal jatuh, semakin berat jalan untuk kembali.

Pengalaman 2008 tentu tidak membuat Griffin menjadi investor yang tidak pernah salah lagi. Investor seperti itu tidak ada.

Belum ada bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa pengalaman 2008 secara langsung menentukan keputusan Citadel terhadap Situational Awareness pada 2026.

Namun sejarah tersebut memberi perspektif yang lebih berguna.

Pengalaman investasi bukan berarti tidak pernah mengalami krisis.

Sering kali, pengalaman juga dibentuk oleh krisis yang pernah dilewati dan bagaimana seseorang menyesuaikan diri setelahnya.

Harga Jatuh Tidak Otomatis Berarti Peluang

Jauh sebelum kasus Situational Awareness, Citadel juga pernah mengambil posisi dari investor yang sedang berada dalam tekanan.

Pada 2006, hedge fund Amaranth Advisors kehilangan lebih dari US$6 miliar akibat taruhan pada harga gas alam.

Citadel dan JPMorgan kemudian mengambil alih portofolio energi Amaranth. Institutional Investor melaporkan Citadel akhirnya menghasilkan lebih dari US$1 miliar dari transaksi tersebut.

Mudah sekali menarik pelajaran yang salah:

Kalau orang lain panik, beli saja asetnya.

Masalahnya, Citadel tidak sekadar melihat harga jatuh lalu membeli.

Mereka sebelumnya sudah mempunyai bisnis perdagangan energi. Timnya juga memiliki kemampuan untuk mempelajari sekitar 17.000 posisi dalam portofolio energi Amaranth.

Mereka berusaha memahami risiko yang sedang diambil.

Di situlah salah satu sumber edge bisa muncul.

Bukan sekadar dari keberanian membeli sesuatu yang sedang jatuh, tetapi dari kemampuan memahami mengapa harganya jatuh dan apakah masalah yang memaksa penjual keluar juga akan menghantam pembelinya.

Harga bisa turun karena pemilik lama terpaksa menjual.

Tetapi harga juga bisa turun karena bisnis memburuk, utang terlalu besar, atau tesis investasinya memang berubah.

Harga yang turun bukan edge jika kita tidak memahami mengapa harganya turun.

Risiko Sering Membesar Saat Semuanya Terasa Berjalan Benar

Ada satu ironi dalam investasi.

Ketika rugi, kita biasanya menjadi lebih hati-hati.

Kita mengecilkan posisi. Kita membaca ulang analisis. Kita mulai bertanya apa yang terlewat.

Kemenangan sering memberi efek sebaliknya.

Profit menambah rasa percaya diri.

Rasa percaya diri memperkuat keyakinan.

Keyakinan membuat kita lebih berani memperbesar posisi.

Jika harga kembali naik, keyakinan itu semakin kuat.

Siklus seperti ini bisa berlangsung cukup lama sampai sulit membedakan kemampuan kita sendiri dari kondisi pasar yang memang sedang membantu.

Pada saat semuanya berjalan baik, risiko bahkan bisa terlihat seperti keunggulan.

Konsentrasi terasa seperti conviction.

Leverage terasa seperti penggunaan modal yang efisien.

Tidak memegang kas terasa seperti memaksimalkan peluang.

Karena itu, periode ketika portofolio sedang berjalan sangat baik justru menjadi waktu yang tepat untuk bertanya:

Apakah risiko kita ikut membesar tanpa terasa?

Lebih baik pertanyaan itu muncul ketika keadaan masih tenang daripada setelah pasar memaksa kita menjawabnya.

Mungkin Pertanyaan yang Salah Adalah “Berapa Return Saya?”

Tidak ada yang salah dengan menghitung return.

Kita memang perlu tahu apakah modal tumbuh.

Tetapi setelah periode yang bagus, ada pertanyaan yang lebih berguna:

Dari mana keuntungan itu sebenarnya berasal?

Jika pasar secara keseluruhan tidak naik, apakah keputusan kita masih terlihat sebagus sekarang?

Jika saham yang dimiliki turun 30%, apakah kita masih bisa menjelaskan dengan tenang mengapa saham itu ada di portofolio?

Jika kita tidak boleh memakai leverage atau terus menambah posisi, apakah tesisnya masih menarik?

Dan mungkin pertanyaan yang paling sulit:

Jika profit terakhir dihapus dari ingatan, apakah kita masih akan mengambil keputusan yang sama hari ini?

Pertanyaan itu membantu memisahkan keputusan dari hasil.

Keputusan buruk kadang tetap menghasilkan uang. Keputusan yang masuk akal juga kadang tetap menghasilkan kerugian.

Pasar tidak menjamin keputusan yang baik langsung memberikan hasil yang baik.

Karena itu, satu kemenangan belum cukup membuktikan keahlian.

Sama seperti satu kerugian belum cukup membuktikan seseorang tidak mampu berinvestasi.

Kita Tidak Harus Membayar Semua Pelajaran dengan Uang Sendiri

Ada pelajaran pasar yang baru benar-benar terasa setelah kita mengalaminya.

Membaca tentang drawdown 50% berbeda dengan melihat portofolio sendiri kehilangan separuh nilainya.

Membaca tentang leverage juga berbeda dengan merasakan sendiri bagaimana posisi yang terlalu besar mengubah cara kita mengambil keputusan.

Pengalaman memang sulit digantikan.

Tetapi tidak semua pelajaran harus dibayar sendiri.

Citadel pada 2008 menunjukkan betapa beratnya pulih dari drawdown besar.

Situational Awareness pada Juli 2026 menunjukkan bahwa keuntungan besar sebelumnya tidak menghapus risiko likuiditas dan leverage.

Amaranth menunjukkan sisi lain: mengambil aset dari investor yang sedang tertekan tetap membutuhkan kemampuan memahami risiko yang sedang dibeli.

Tiga kisah tersebut berbeda, tetapi bertemu pada satu pelajaran.

Investor tidak hanya perlu belajar bagaimana menghasilkan keuntungan.

Investor juga perlu memastikan bahwa ia tetap punya pilihan saat kondisi pasar berubah.

Di situlah sejarah investasi menjadi berguna.

Kita bisa meminjam pengalaman orang lain.

Bukan untuk merasa lebih pintar daripada mereka, tetapi sebagai pengingat bahwa hal serupa bisa terjadi kepada siapa saja.

Leopold Aschenbrenner tidak perlu ditertawakan.

Ken Griffin juga tidak perlu dipuja.

Keduanya lebih berguna sebagai pelajaran.

Tujuan Akhirnya Mungkin Bukan Menjadi Orang Paling Pintar

Banyak orang masuk pasar karena ingin menemukan saham yang naik berkali-kali lipat.

Kemudian muncul keinginan mengalahkan indeks, menemukan peluang lebih cepat, atau menjadi orang yang benar ketika pasar salah.

Tidak ada yang aneh dengan itu.

Tetapi semakin lama berada di pasar, pertanyaannya bisa berubah.

Bukan lagi:

Bagaimana saya mendapatkan keuntungan sebesar mungkin?

Melainkan:

Bagaimana saya memastikan satu kesalahan tidak mengeluarkan saya dari permainan?

Selama modal masih ada, peluang berikutnya masih bisa diambil.

Selama pikiran masih jernih, kesalahan masih bisa dipelajari.

Selama likuiditas masih tersedia, kita masih mempunyai pilihan.

Juli 2026 memperlihatkan dua sisi pasar pada saat yang hampir bersamaan.

Satu pihak harus mengurangi risiko. Pihak lain masih mempunyai modal dan kemampuan untuk mengambil sebagian risiko tersebut.

Delapan belas tahun sebelumnya, Citadel sendiri pernah berada dalam tekanan besar.

Pasar mungkin tidak pernah benar-benar meminta kita menjadi orang paling pintar.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengambil keputusan ketika keadaan berubah.

Ada keputusan yang kita ambil ketika percaya diri.

Ada yang kita ambil ketika takut.

Ada juga saat ketika keyakinan kita mulai terbukti salah.

Ada masa ketika keberuntungan membuat kita terlihat lebih baik daripada kemampuan kita sebenarnya.

Ada juga masa ketika keputusan yang masuk akal tetap menghasilkan kerugian.

Kedewasaan sebagai investor mungkin dimulai ketika kita mampu membedakan keberuntungan dari kemampuan, dan memahami bahwa hasil yang buruk tidak selalu berarti keputusan yang buruk.

Kita tidak harus kehilangan sebagian besar portofolio dalam satu bulan.

Kita juga tidak harus melihat modal jatuh lebih dari separuh untuk memahami pelajarannya.

Orang lain sudah membayar biaya belajarnya.

Kita hanya perlu cukup rendah hati untuk belajar.

Sumber Data: Reuters, Institutional Investor.

Ikuti Banyu Capital

#Edge Building #Investment Psychology #Risk Management #Weekend Read