IHSG Turun 0,90% dan Tembus Titik Terendah 23 September, Asing Net Sell Rp559 Miliar di All Market
Sebanyak 558 saham melemah dan seluruh 11 sektor berakhir negatif. LQ45 dan IDX30 turun lebih ringan daripada IHSG, sementara net foreign sell mengecil tajam dibanding 24 September. Harga kembali membuat titik terendah baru, tetapi tekanan belum menguat dengan pola yang sama di seluruh lapisan pasar.
IHSG menutup perdagangan 25 September 2026 di 6.241,89, turun 56,72 poin atau 0,90%. Indeks sempat jatuh ke 6.231,83 dan berakhir hanya sekitar 10 poin di atas titik terendah hariannya.
Pergerakan itu membawa IHSG melewati titik terendah 23 September di 6.253,74. Area tersebut masih bertahan sehari sebelumnya, tetapi akhirnya ditembus pada perdagangan Jumat.
Tekanan harga dengan demikian belum selesai. Yang membedakan 25 September dari sehari sebelumnya adalah distribusi tekanannya: saham likuid relatif lebih tahan dan penjualan bersih asing jauh lebih kecil.
IHSG Menembus 6.253,74 dan Ditutup Dekat Titik Terendah
IHSG dibuka di 6.315,53 dan sempat mencapai 6.328,41 sebelum berbalik turun hingga 6.231,83. Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi saham sekitar Rp9,53 triliun.
Titik terendah tersebut berada sekitar 21,91 poin di bawah low 23 September di 6.253,74. Penutupan 6.241,89 juga berada sekitar 11,85 poin di bawah level itu.
Perbedaannya dengan 24 September cukup jelas. Sehari sebelumnya, IHSG turun 1,20% ke 6.298,61 tetapi 6.253,74 masih bertahan. Saat itu, rebound 23 September memang kehilangan follow-through, tetapi batas harga yang terbentuk dari low 23 September belum gagal.
Pada 25 September, batas tersebut akhirnya ditembus. Breadth, indeks likuid, dan arus asing kemudian menentukan seberapa kuat pesan dari penurunan harga itu.
Tekanan Meluas, tetapi Saham Likuid Relatif Lebih Tahan
RTI Business mencatat 118 saham menguat, 558 melemah, dan 117 tidak berubah. Seluruh 11 sektor ditutup negatif.
Industrials turun paling dalam sebesar 2,52%, diikuti Infrastructure 2,22%, Transportation & Logistic 1,84%, dan Technology 1,73%. Financials turun paling ringan sebesar 0,45%.
Di tingkat indeks, pola 25 September berbeda dari sehari sebelumnya.
IDX30 turun 0,32% dan LQ45 melemah 0,35%, jauh lebih ringan daripada IHSG yang turun 0,90%. Sebaliknya, IDX SMC Composite turun 1,27% dan IDX SMC Liquid melemah 0,99%.
Pada 24 September, LQ45 dan IDX30 justru turun lebih dalam daripada IHSG, sedangkan IDX SMC Composite relatif lebih tahan.
Artinya, saham kecil-menengah tertinggal pada 25 September, sementara kelompok saham likuid menunjukkan ketahanan relatif yang lebih baik. Seluruh indeks utama tetap negatif, sehingga perbedaan ini belum dapat dibaca sebagai pemulihan. Namun struktur tersebut juga tidak menunjukkan pemburukan yang sama kuat pada setiap kelompok saham.
Foreign Sell Tetap Negatif, tetapi Jauh Lebih Kecil
Investor asing masih mencatat penjualan bersih. Net foreign sell berada di sekitar Rp559 miliar di All Market dan sekitar Rp440 miliar di pasar reguler.
Nilainya jauh lebih kecil dibanding 24 September, ketika net foreign sell mencapai sekitar Rp1,49 triliun di All Market dan Rp1,42 triliun di pasar reguler.
Arus dana juga tidak sepenuhnya satu arah. BBCA mencatat net foreign buy sekitar Rp103,17 miliar di pasar reguler. Sebaliknya, TLKM menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, diikuti BMRI, BBRI, ASII, dan BBNI.
Top 10 Net Foreign Buy Pasar Reguler
| Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|
| BBCA | Rp103,17 miliar |
| AMRT | Rp25,73 miliar |
| TPIA | Rp16,91 miliar |
| MDIA | Rp13,94 miliar |
| AMMN | Rp13,32 miliar |
| IATA | Rp12,87 miliar |
| EMAS | Rp11,39 miliar |
| PTBA | Rp10,03 miliar |
| BNBR | Rp8,02 miliar |
| AADI | Rp8,02 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell Pasar Reguler
| Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|
| TLKM | Rp112,75 miliar |
| BMRI | Rp71,02 miliar |
| BBRI | Rp62,80 miliar |
| ASII | Rp49,87 miliar |
| BBNI | Rp37,82 miliar |
| BUMI | Rp29,21 miliar |
| DSSA | Rp26,92 miliar |
| ISAT | Rp25,06 miliar |
| ANTM | Rp18,68 miliar |
| MDKA | Rp18,50 miliar |
Mengecilnya net foreign sell belum menunjukkan pembalikan arus dana karena investor asing tetap menjadi penjual bersih. Namun penembusan low 23 September juga tidak disertai lonjakan penjualan asing seperti pada 24 September.
6.231,83 Menjadi Level Pemantauan Risiko Terdekat
JISDOR berada di Rp17.917 per dolar AS pada 25 September, dibanding Rp17.898 sehari sebelumnya. Rupiah masih menjadi salah satu indikator yang perlu dipantau bersama kondisi pasar saham.
Untuk IHSG, 6.231,83 menjadi level pemantauan risiko terdekat. Tekanan mendapat konfirmasi lebih kuat jika low tersebut kembali ditembus ketika breadth tetap lemah, LQ45 dan IDX30 kehilangan ketahanan relatif, serta net foreign sell kembali membesar.
Di sisi lain, kembali ke atas 6.253,74 akan menjadi tanda stabilisasi awal. Bukti yang lebih berarti muncul jika IHSG mampu merebut kembali 6.298,61 dengan jumlah saham menguat bertambah, ketertinggalan saham kecil-menengah menyempit, dan tekanan asing tidak kembali meningkat.
Low 23 September sudah gagal bertahan. Itu cukup untuk menunjukkan bahwa proses pencarian dasar pasar belum selesai, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa tekanan sedang berakselerasi.
Bukti berikutnya perlu datang dari arah yang sama: harga, breadth, kinerja relatif saham likuid, dan foreign flow.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.