Apakah 22 September Menjadi Puncak Tekanan Jual? Pemulihan Gagal Berlanjut, tetapi Titik Terendah Masih Bertahan
IHSG jatuh 1,69% pada 22 September dengan 533 saham melemah dan 10 dari 11 sektor negatif. Sehari kemudian, indeks sempat mencetak titik terendah baru sebelum berbalik naik 1,56% dengan kenaikan yang meluas ke ratusan saham. Konfirmasi itu melemah pada 24 September: IHSG turun 1,20%, 462 saham melemah, seluruh sektor negatif, dan asing mencatat jual bersih Rp1,42 triliun di pasar reguler. Meski begitu, titik terendah 23 September di 6.253,74 masih bertahan.
Pasar yang turun tajam belum tentu sudah mencapai akhir penurunan.
Istilah capitulation biasanya digunakan untuk menggambarkan fase ketika aksi jual panik sudah sangat luas dan penjual mulai kehilangan kemampuan untuk terus mendorong harga lebih rendah.
Rangkaian 22–24 September mulai memperlihatkan sebagian ciri tersebut, tetapi belum memberikan konfirmasi lengkap.
Tanggal 22 menunjukkan tekanan jual yang ekstrem. Tanggal 23 memberi tanda awal bahwa tekanan tersebut mulai kehilangan daya dorong. Sehari kemudian, pembeli gagal mempertahankan pemulihan.
Pertanyaan utamanya sekarang bukan apakah rebound 23 September terlihat kuat. Pertanyaannya adalah apakah 22 September benar-benar menjadi puncak tekanan jual jangka pendek atau hanya jeda sebelum tekanan berikutnya.
Tekanan 22 September Jauh Lebih Luas daripada Penurunan Beberapa Saham Besar
IHSG ditutup di 6.277,04 pada 22 September, turun 107,68 poin atau 1,69%.
Indeks sempat mencapai 6.258,44 dan berakhir hanya sekitar 19 poin di atas titik terendah hari itu.
Namun angka indeks bukan bukti terpenting.
Sebanyak 533 saham melemah dan hanya 139 menguat. Sepuluh dari sebelas sektor ditutup negatif. Tekanan juga muncul pada berbagai kelompok saham: LQ45 turun 1,37%, IDX30 1,63%, IDX SMC Composite 1,36%, dan IDX SMC Liquid 1,92%.
Artinya pelemahan tidak hanya berasal dari beberapa saham besar atau satu sektor tertentu.
Memang ada pengaruh saham dengan bobot tinggi. BYAN menyumbang sekitar 20,75 poin tekanan terhadap IHSG dan BBRI sekitar 17,49 poin. Sepuluh saham penekan terbesar menyumbang sekitar 59% dari keseluruhan penurunan indeks.
Tetapi 533 saham yang ikut melemah menunjukkan bahwa tekanan pasar jauh lebih luas daripada sekadar efek bobot indeks.
Karakter inilah yang membuat 22 September layak diuji sebagai kandidat puncak tekanan jual jangka pendek.
Titik Terendah Baru 23 September Sempat Terbentuk, tetapi Gagal Bertahan
Tanda awal perubahan muncul sehari kemudian.
IHSG turun hingga 6.253,74 pada 23 September, sedikit di bawah titik terendah 22 September di 6.258,44.
Pasar sempat mencetak titik terendah baru, tetapi penurunan itu tidak bertahan.
IHSG kemudian berbalik dan ditutup di 6.374,91, naik 1,56%, hanya sekitar lima poin di bawah level tertinggi hari itu.
Perubahan juga terjadi pada jumlah saham yang naik dan turun.
Dari hanya 139 saham menguat dan 533 melemah pada 22 September, kondisi berbalik menjadi 448 saham naik dan 186 turun sehari kemudian. Seluruh 11 sektor juga berakhir positif.
Jadi perbaikannya tidak hanya terlihat pada IHSG. Kenaikan menyebar ke ratusan saham.
Ini merupakan tanda awal bahwa tekanan penjual mulai kehilangan daya dorong.
Namun satu sesi belum cukup untuk menyatakan titik terendah pasar sudah terbentuk.
Sesi berikutnya menunjukkan mengapa standar konfirmasi perlu tetap tinggi.
Pemulihan 23 September Langsung Kehilangan Kelanjutan
Pada 24 September, IHSG dibuka di 6.364,98 dan tidak pernah mampu kembali melewati penutupan sehari sebelumnya di 6.374,91.
Indeks turun hingga 6.287,46 sebelum ditutup di 6.298,61, melemah 1,20%. Posisi penutupan hanya sekitar 11 poin di atas titik terendah harian.
Partisipasi pasar kembali memburuk.
Hanya 188 saham menguat, sedangkan 462 melemah. Seluruh 11 sektor kembali ditutup negatif.
Tekanan lebih berat terlihat pada saham-saham likuid. LQ45 turun 1,57% dan IDX30 1,53%, lebih dalam dibanding IHSG. IDX SMC Composite turun lebih kecil sebesar 1,14%.
Salah satu kelemahan yang sudah terlihat pada 23 September dengan demikian belum berubah: saham besar dan likuid belum menjadi penggerak utama pemulihan.
Lebih penting lagi, kenaikan yang sangat luas sehari sebelumnya tidak mampu berlanjut.
Konfirmasi awal dari 23 September melemah.
Jual Bersih Asing Membesar Menjadi Rp1,42 Triliun
Arus asing memberikan bukti yang lebih jelas.
Pada 22 September, investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp671,63 miliar di pasar reguler.
Angkanya mengecil menjadi Rp468,26 miliar pada 23 September. Jika hanya melihat dua hari tersebut, tekanan asing tampak mulai mereda.
Namun pada 24 September, jual bersih asing membesar menjadi sekitar Rp1,42 triliun di pasar reguler dan Rp1,49 triliun di All Market.
Tekanannya juga bertambah pada sesi II. Jual bersih All Market yang sekitar Rp987 miliar pada akhir sesi I meningkat sekitar Rp506 miliar hingga penutupan.
Artinya perbaikan arus asing pada 23 September hanya bertahan satu sesi.
Ini menjadi salah satu bukti terkuat bahwa titik terendah pasar belum dapat disebut terkonfirmasi.
Bank Besar Kembali Mendapat Tekanan
Kelemahan arus asing juga terlihat pada bank-bank besar.
BBCA turun 1,19%, BBRI 1,57%, BMRI 2,86%, dan BBNI 1,95% pada 24 September.
Rata-rata sederhana penurunan keempatnya sekitar 1,89%, lebih dalam daripada IHSG yang turun 1,20%.
BMRI mencatat jual bersih asing sekitar Rp531,95 miliar, BBRI Rp141,17 miliar, dan BBNI Rp13,71 miliar. BBCA menjadi pengecualian dengan beli bersih asing sekitar Rp6,92 miliar meski harga sahamnya tetap turun.
Secara gabungan, Big Four mencatat jual bersih asing sekitar Rp680 miliar, setara hampir 48% dari nilai jual bersih asing pasar reguler secara agregat.
Perbandingan tersebut bukan berarti hampir separuh seluruh transaksi jual asing terjadi pada empat bank. Angka itu hanya menunjukkan besarnya posisi jual bersih Big Four dibanding jual bersih agregat pasar reguler.
Tekanannya juga terlihat pada indeks. BMRI, BBRI, BBCA, dan BBNI secara gabungan menyumbang sekitar 26 poin atau 34% dari penurunan IHSG pada 24 September.
Jadi dua bagian yang belum memberikan konfirmasi pada 23 September justru memburuk sehari kemudian: arus asing dan saham-saham likuid.
Namun Titik Terendah 23 September Masih Bertahan
Data 24 September memang memperburuk struktur jangka pendek, tetapi belum menghapus seluruh bukti dari sesi sebelumnya.
Titik terendah 23 September di 6.253,74 belum disentuh kembali.
Titik terendah 24 September berada di 6.287,46, sekitar 34 poin lebih tinggi.
Nilai transaksi juga tidak meningkat.
Pada 23 September, nilai perdagangan saham sekitar Rp12,88 triliun. Sehari kemudian turun menjadi sekitar Rp11,23 triliun, atau sekitar 12,8% lebih rendah.
Nilai tersebut juga hanya sekitar 53% dari rata-rata harian YTD sekitar Rp21,10 triliun.
Jadi pelemahan 24 September memang luas, tetapi data nilai transaksi belum menunjukkan peningkatan partisipasi dibanding sesi pemulihan sehari sebelumnya.
Hal ini tidak membuktikan bahwa tekanan telah selesai.
Namun 24 September juga belum menghasilkan bukti paling penting untuk membatalkan pembacaan sebelumnya: titik terendah baru.
Tiga Sesi Membentuk Urutan Pembuktian yang Lebih Jelas
Rangkaian 22–24 September dapat dibaca dalam tiga tahap.
22 September: tekanan jual sangat luas. Sebanyak 533 saham turun, 10 sektor negatif, dan IHSG ditutup dekat titik terendah.
23 September: tekanan gagal mempertahankan titik terendah baru. IHSG sempat turun ke 6.253,74 sebelum berbalik dan ditutup dekat level tertinggi. Sebanyak 448 saham naik dan seluruh sektor positif.
24 September: pembeli gagal mempertahankan pemulihan. IHSG turun 1,20%, 462 saham melemah, seluruh sektor negatif, saham likuid kembali tertinggal, dan jual bersih asing membesar menjadi Rp1,42 triliun.
Namun setelah tiga sesi tersebut, IHSG masih belum menembus 6.253,74.
Itulah garis pemisah antara tesis yang melemah dan tesis yang sudah batal.
Saat ini kondisinya masih yang pertama.
Area 6.253–6.258 Menjadi Batas Utama Tesis
Setelah tiga sesi, area 6.253–6.258 memiliki fungsi yang lebih jelas.
Selama IHSG masih bertahan di atas wilayah tersebut, hipotesis bahwa tekanan jual mencapai puncak jangka pendek pada 22–23 September masih belum terbantahkan.
Tetapi beban pembuktiannya kini lebih berat.
Jumlah saham naik perlu kembali membaik. LQ45 dan IDX30 perlu berhenti tertinggal. Jual bersih asing perlu mengecil secara konsisten. Bank-bank besar juga perlu berhenti membuat struktur harga semakin lemah.
Kemampuan IHSG kembali melewati area penutupan 23 September di sekitar 6.375 akan menjadi salah satu bukti bahwa tekanan mulai berkurang.
Sebaliknya, tesis akan melemah secara material jika 6.253 ditembus ketika saham turun kembali mendominasi, jual bersih asing tetap besar, dan bank-bank besar melanjutkan pembentukan titik terendah baru.
Dalam kondisi tersebut, pemulihan 23 September lebih tepat dibaca sebagai jeda sementara di tengah tekanan yang belum selesai.
Titik Terendah Masih Bertahan, tetapi Pembeli Belum Mengambil Alih
Data tiga hari belum memberi dasar untuk menyebut titik terendah pasar sudah terbentuk.
Tanggal 23 September memang menunjukkan bahwa penjual sempat kehilangan kemampuan mempertahankan titik terendah baru. Namun 24 September menunjukkan sisi sebaliknya: pembeli belum mampu mempertahankan pemulihan.
Arus asing kembali memburuk. Bank-bank besar kembali tertekan. Partisipasi saham kembali negatif.
Satu batas utama masih bertahan: area 6.253–6.258.
Karena itu, status 22 September saat ini tetap kandidat puncak tekanan jual jangka pendek, bukan titik terendah yang sudah terkonfirmasi.
Pembuktian berikutnya bukan sekadar apakah IHSG dapat kembali hijau.
Yang lebih penting adalah apakah area titik terendah tersebut bertahan ketika tekanan kembali datang, sementara jual bersih asing mulai mengecil dan saham-saham likuid berhenti tertinggal.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.