IHSG Turun 1,51% dan Cetak Low Baru, Net Sell Asing Reguler Mengecil ke Rp260 Miliar
IHSG kembali membentuk titik terendah baru dan saham-saham likuid ikut melemah. Namun tekanan harga yang lebih dalam tidak diikuti pembesaran jual bersih asing di pasar reguler dengan skala yang sebanding.
IHSG menutup perdagangan 28 September 2026 di 6.147,86, turun 94,03 poin atau 1,51%. Indeks kembali mencetak titik terendah baru di 6.140,34 dan berakhir hanya 7,52 poin di atas level tersebut. RTI Business mencatat 180 saham menguat, 532 melemah, dan 81 tidak berubah.
Perubahan penting dibanding Jumat terlihat pada saham-saham likuid. LQ45 turun 1,50% dan IDX30 1,42%, hampir sama dalamnya dengan IHSG. Ketahanan relatif kelompok saham likuid yang masih terlihat pada 25 September praktis menghilang.
Pada saat yang sama, net foreign sell di Regular Market justru mengecil menjadi Rp259,83 miliar dari sekitar Rp440 miliar pada Jumat. Jadi, harga mencetak low baru dan saham likuid ikut melemah tanpa pembesaran jual bersih asing secara agregat dengan skala yang sebanding.
Penutupan Dekat Low Memperpanjang Rangkaian Titik Terendah Baru
IHSG dibuka di 6.209,75 dan sempat mencapai 6.227,90 sebelum turun hingga 6.140,34. Penutupan 6.147,86 berada di sekitar 8,6% terbawah dari rentang perdagangan hari itu.
Low 28 September sudah 91,49 poin di bawah low 25 September di 6.231,83. Dibanding low 23 September di 6.253,74, jaraknya mencapai 113,40 poin. Dengan demikian, rangkaian titik terendah baru yang muncul sejak pekan lalu masih berlanjut.
Low baru tersebut tidak disertai lonjakan aktivitas transaksi. BEI mencatat nilai perdagangan saham sekitar Rp12,57 triliun, sedangkan rata-rata harian sepanjang tahun berjalan sekitar Rp20,93 triliun.
Ini menjadi pembeda penting. Struktur harga melemah, tetapi pola capitulation yang disertai lonjakan turnover belum terlihat.
LQ45 dan IDX30 Ikut Melemah, tetapi Tekanan Belum Seragam di Semua Sektor
Pada 25 September, LQ45 hanya turun 0,35% dan IDX30 0,32% ketika IHSG melemah 0,90%. Pada Senin, LQ45 turun 1,50%, IDX30 1,42%, dan IHSG 1,51%.
Bantalan yang sebelumnya terlihat pada kelompok saham likuid tidak lagi muncul. Breadth juga tetap berat, dengan 532 saham melemah dibanding 180 saham yang menguat.
Sembilan dari sebelas sektor berakhir negatif. Technology turun paling dalam 4,46%, disusul Basic Materials 3,33% dan Consumer Cyclicals 3,04%. Transportation & Logistic masih naik 0,47%, sementara Energy bertahan tipis 0,04%.
Sebagian penurunan indeks tetap terkonsentrasi pada saham-saham besar. GOTO menyumbang sekitar 12,84 poin tekanan terhadap IHSG, AMMN 7,99 poin, BRMS 5,95 poin, dan BMRI 4,89 poin. Sepuluh penekan terbesar secara agregat menyumbang sekitar 51,83 poin, setara sekitar 55% dari penurunan indeks.
Konsentrasi tersebut tidak berarti pelemahan hanya berasal dari bobot beberapa saham besar. Lebih dari 500 saham yang ditutup merah menunjukkan tekanan harga tetap muncul di bagian pasar yang lebih luas.
Foreign Sell Tetap Negatif, tetapi All Market Didominasi Transaksi Non-Reguler
Investor asing mencatat net foreign sell sekitar Rp1,13 triliun di All Market. Angkanya jauh lebih besar daripada jual bersih Rp259,83 miliar di Regular Market.
Selisih tersebut terutama berasal dari pasar Tunai dan Negosiasi yang mencatat sekitar Rp871,03 miliar net foreign sell. Data Stockbit menunjukkan UNSP sendiri membukukan sekitar Rp901,4 miliar jual bersih asing di All Market.
Karena itu, angka Rp1,13 triliun tidak menggambarkan tekanan asing dengan skala yang sama pada perdagangan reguler.
Di Regular Market, penjualan asing terbesar berada pada BMRI sekitar Rp241,50 miliar dan TLKM Rp121,68 miliar. TINS, ANTM, MDKA, dan INCO juga masuk kelompok jual bersih terbesar. Sebaliknya, asing masih mencatat pembelian bersih pada beberapa saham, termasuk BBRI dan BBCA.
Top 10 Net Foreign Buy Regular
| Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|
| BBRI | Rp49,68 miliar |
| AMMN | Rp19,49 miliar |
| EMAS | Rp19,36 miliar |
| BBCA | Rp17,93 miliar |
| DSSA | Rp17,78 miliar |
| INET | Rp13,86 miliar |
| GGRM | Rp13,75 miliar |
| AMRT | Rp12,16 miliar |
| ERAA | Rp11,82 miliar |
| RAJA | Rp10,37 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell Regular
| Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|
| BMRI | Rp241,50 miliar |
| TLKM | Rp121,68 miliar |
| TINS | Rp41,15 miliar |
| ANTM | Rp31,97 miliar |
| MDKA | Rp26,58 miliar |
| INCO | Rp23,80 miliar |
| AADI | Rp15,64 miliar |
| NCKL | Rp15,60 miliar |
| ASII | Rp13,75 miliar |
| BBNI | Rp12,65 miliar |
Arus tersebut menunjukkan tekanan asing masih ada, tetapi terkonsentrasi pada beberapa saham dan tidak mengalami akselerasi secara agregat. Pelemahan IHSG 1,51% karena itu tidak cukup dijelaskan hanya oleh besarnya foreign sell.
Rupiah dan SUN 10Y Belum Menjadi Penopang
JISDOR 28 September berada di Rp17.965 per dolar AS, dibanding Rp17.917 pada 25 September. Rupiah melemah sekitar 0,27%.
Pada saat yang sama, yield SUN 10 tahun berada di sekitar 7,196%, naik sekitar 11,3 basis poin berdasarkan snapshot CNBC Indonesia.
Dua indikator ini tidak membuktikan penyebab penurunan IHSG. Keduanya lebih tepat dibaca sebagai latar lintas aset yang belum membantu proses stabilisasi pasar saham.
Area 6.140 Menjadi Bukti Berikutnya
Data 28 September belum menunjukkan konfirmasi stabilisasi. Low 6.140,34 menjadi level pertama yang perlu diuji pada perdagangan berikutnya.
Jika level itu kembali ditembus ketika saham turun tetap dominan, LQ45 dan IDX30 ikut melemah, serta net foreign sell Regular membesar, bukti tekanan lanjutan akan semakin kuat.
Sebaliknya, sinyal stabilisasi akan menguat jika IHSG mampu kembali ke area 6.231,83 sampai 6.253,74, disertai breadth yang membaik dan saham-saham likuid kembali menunjukkan ketahanan relatif.
Dengan demikian, satu penutupan positif belum cukup menjadi konfirmasi. Pembuktian berikutnya terletak pada apakah harga, breadth, saham likuid, dan arus asing reguler mulai bergerak lebih konsisten.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.